Konflik dan Sepakbola di Tulehu

Sepakbola adalah olahraga terbesar di planet ini. Dari kampung-kampung kumuh di favela Rio de Jainero, di petak-petak sawah kering pedesaan Indonesia, hingga stadion-stadion megah di jazirah Eropa, ia menemani banyak anak tumbuh dan berkembang, menjadi bagian budaya yang begitu lekat dan akrab bagi manusia. Ia signifikan, tak terkecuali di masyarakat Indonesia, tetapi jarang yang menganggapnya cukup penting untuk diangkat ke dalam sebuah karya sastra. Atau setidaknya, menjadi sesuatu yang menarik untuk dijadikan latar belakang tokoh utamanya.

Beberapa penulis besar, misalnya Orhan Pamuk, menggunakan imaji anak-anak bermain bola untuk menggambarkan keadaan di bagian miskin Istanbul. “… anak-anak menendang bola setengah kempes di bawah lampu jalanan,” begitu tulis pemenang Nobel sastra yang juga penggemar Fenerbahce ini dalam novelnya, Museum of the Innocence. Dalam novel Portrait of an Artist as A Young Man, James Joyce menuliskan tentang kegemaran tokoh Stephen Daedalus bermain bola dalam bab-bab awal. Albert Camus, Vladimir Nabokov (mereka berdua pernah bermain menjadi kiper), Anthony Burgess, Salman Rushdie, Kenzaburo Oe, Jean-Paul Sartre, George Orwell, dan bahkan Oscar Wilde pernah menuliskan sesuatu tentang sepakbola.

Indonesia sendiri punya tokoh-tokoh penulis yang juga penggemar sepakbola seperti Agus Noor (penggemar Manchester United), Eka Kurniawan, Puthut EA (penggemar AS Roma), dan Sindhunata. Namun, selain Sindhunata, tulisan fiksi dari penulis dalam negeri yang membawa serta sepakbola di dalamnya bisa dibilang masih sedikit. Inilah yang membuat Zen RS, pemerhati bola dan esais kawakan Indonesia, merasa perlu untuk menambal defisit ini.

Sekitar bulan Juni atau Juli tahun lalu, Zen RS mengambil “cuti” dari dunia maya. Sambil membawa novel Soul Mountain-nya Gao Xingjian, ia melakukan perjalanan ke daerah timur, untuk mengerjakan sebuah proyek yang tidak diketahui banyak orang. Sebuah proyek yang kemudian lahir dalam novel debutnya berjudul Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar.

Diketik hanya dalam waktu 10 hari, Jalan Lain ke Tulehu mengambil latar antara Jakarta pasca-1998 (untuk kilas baliknya) hingga Maluku di tahun 2000 pada saat-saat pertandingan Euro digelar. Gentur Tapane, tokoh utamanya, adalah seorang wartawan lepas dari Jakarta. Ia ditugasi oleh kantornya, sebuah koran di Tokyo, untuk meliput konflik-konflik di Indonesia pasca-1998.

Isu sektarian di Maluku pada waktu itu sedang panas-panasnya. Syibolet macam Islam (Salam) atau Kristen (Sarani), NKRI atau RMS, Ambon atau Tulehu, bahkan penggemar timnas Belanda atau bukan, bisa menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Hidup tidaklah mudah di sana, terlebih-lebih bagi seorang pendatang seperti Gentur yang buta mengenai motif dan konteks yang mendasari perpecahan itu. Gentur nyaris mati bahkan sebelum menjejak tanah Maluku hanya karena dia Muslim dan naik kapal yang “dikhususkan” untuk orang-orang Kristen. Sampai di sana, ia sudah disambut dengan rentetan tembakan seperti di film-film koboi yang ditontonnya semasa bocah. Ia berulang-kali nyaris dihabisi baik oleh kelompok Kristen maupun Muslim. Beruntung ada kawan-kawannya seperti Frans, Dudi, dan Said yang melindunginya meskipun harus berdusta.

Dalam hari-harinya di Maluku yang terpecah dua, ia membenamkan dirinya dengan budaya dan masyarakat sana. Mulanya bersama Frans, ia tinggal di daerah yang “dikuasai” orang Kristen. Keadaan mulai runyam pada saat semifinal Euro 2000 antara Italia dan Belanda. Malam itu, ayah Frans membuat acara nonton bareng di rumahnya di Desa Suli, luar kota Ambon. Beberapa orang Tulehu yang beragama Islam juga ikut datang menonton. Situasi mulai memanas, namun kecintaan komunal kepada timnas Belanda menjaga api konflik tetap kecil.

Namun, salah seorang remaja Tulehu bernama Salim kedapatan tersenyum saat De Boer gagal mengeksekusi penalti. Bagi mereka, itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap identitas mereka. Salim berkilah, namun orang-orang memperhatikan dia benar-benar. Dan ketika penalti kedua Belanda yang diambil Kluivert membentur tiang gawang, kedapatanlah Salim bahwa dia diam-diam merayakan kegagalan Belanda. Orang-orang murka, lantas hendak menempeleng Salim serta mengusir orang-orang Tulehu dari situ. Gentur mencoba melerai. Namun, statusnya yang pendatang (apalagi Islam) membuatnya mendapat cap “laskar” (sukarelawan), yang secara peyoratif bermakna pemberontak. Nyawanya tak lagi aman di situ, sehingga dia harus pergi ke Tulehu yang “dikuasai” Islam.

Di Tulehu pun bukannya nirmasalah bagi Gentur. Ia Islam, namun ia bertato dan tidak pernah shalat di masjid kampung, dan ini membuat ke-Islam-annya dipertanyakan. Parahnya, ia gemar memutar lagu Ave Maria yang terdengar seperti lagu gereja di telinga orang Tulehu. Namun, di Tulehu pulalah ia dibawa lagi kepada nostalgia tentang sepakbola, tentang bermain bola, tentang pemain Tulehu di klub favoritnya, Persib Bandung. Bersama Said, seorang tukang ojek menyambi pelatih sepakbola anak-anak di situ, ia menyusuri lagi Tulehu dan ingatan-ingatan tentangnya sebagai sebuah kampung penghasil pemain sepakbola. Ia mengganti liputannya tentang konflik dengan menyusun fitur mengenai sepakbola di kampung yang berjuluk Brasil van Ambon ini.

Zen menyulam kisah perjalanan Gentur dengan narasi yang berkelindan maju mundur. Beberapa tuturannya terasa pas bagi alur atau penokohannya. Salah satunya, misalnya, yaitu tentang Eva Maria mantan kekasih Gentur (halaman 81). Eva adalah seorang Tionghoa penyintas perkosaan Mei 1998, salah satu masa paling kelam di sejarah Indonesia yang ditandai dengan perampokan, pembunuhan, dan perkosaan besar-besaran ditujukan kepada warga Tionghoa di Jakarta. Dari situ kita tahu bagaimana Gentur mendapat tato bergambar bunga teratai, juga kecintaannya pada Ave Maria-nya Idrus maupun Ave Maria-nya Schubert. Akan tetapi, Zen kadang-kadang melantur dengan hal-hal yang jika dihapus dari novel ini pun tidak akan mengubah novel ini secara signifikan. Contohnya pada halaman 71-72 di mana ia menghabiskan empat paragraf hanya untuk menguliahi kita makna kata “turun”.

Zen RS sang esais mungkin masih belum bisa melepaskan dirinya dari Zen RS sang prosais di novel ini. Ia belum bisa memisahkan dirinya dengan karakter-karakter rekaannya (entah Jalan Lain ke Tulehu ini memang sebuah roman a clef—novel semiautobiografis, atau bukan). Cara bertuturnya, misalnya seperti di halaman 26-28, dibuat dengan terlalu banyak deskripsi dan miskin dialog. Belum juga fakta-fakta tentang genealogi konflik Maluku, sejarah pemain-pemain asal Tulehu yang bermain di kancah nasional, juga gambaran tentang hirarki dalam masyarakat Ambon dilemparkan begitu saja kepada pembaca, membuat Jalan Lain ke Tulehu sebagai novel yang cerebral alih-alih emosional. Jika pembaca tidak sabar, semuanya akan lewat tanpa meninggalkan impresi apa-apa, atau lebih buruk lagi, membosankan.

Tentu saja tidaklah mustahil untuk membangkitkan emosi pembaca – atau untuk menuturkannya lewat dialog/kisah hidup tokohnya dan bukannya seperti kuliah sejarah – tanpa meninggalkan misi etnografi/historiologi yang (mungkin) hendak dibawa Zen di novel ini. Pram berhasil melakukannya. Tidak adil jika membawa Pram, tentu saja, namun Zen sendiri mampu membuat karya jurnalistik yang berhasil menggugah emosi pembacanya (seperti esainya tentang ibu-ibu Kamisan). Bahkan di novelnya ini, dia bisa melakukannya pada fragmen tentang Eva Maria.

Lahir dari pasangan yang gemar membaca – ayahnya gemar membaca koran, ibunya suka membaca roman dan kisah-kisah nabi Islam – Zen kecil tumbuh sebagai anak yang gemar membaca. Huruf pertama yang dia eja adalah K-O-M-P-A-S, koran langganan Ayahnya. Buku-buku pertama yang ia baca adalah yang dibawakan ibunya yang seorang guru dari perpustakaan sekolah tempat ia mengajar. Namun Zen juga menyukai sepakbola dan merindukan menjadi pemain sepakbola pro. Kegemarannya membaca mulai tersisih oleh sepakbola saat ia remaja. Baru setelah kuliah, ia menemukan kembali kesukaannya yang dulu. Ia membaca Pram. Ia membaca Homo Ludens-nya Johan Heizinga. Dan ia memilih untuk meninggalkan jurusan olahraga dan masuk ke jurusan sejarah. Namun ia tak pernah benar-benar meninggalkan sepakbola. Zen mengawinkan pengetahuannya tentang literatur, sejarah, dan filsafat dengan sepakbola dan lantas menjadi seorang esais sepakbola nomor wahid di Indonesia.

Lewat teropongnya kepada kultur sepakbola anak-anak Tulehu yang masih murni dan belum terindustrialisasi (bahkan cenderung masih dimistifikasi, lengkap dengan ritus tertentu seperti mengikat bola di kaki), Zen seakan hendak mengkotbahkan prinsip against modern football yang ia anut. “Jumpers for goalpost” alias memakai jaket sebagai tiang gawang (ekuivalensinya di sini mungkin adalah “sandals for goalpost” atau “rocks for goalpost”) adalah istilah yang dipakai di Inggris sana untuk menandai sepakbola yang masih murni ini. Ia adalah sepakbola yang dimainkan secara riang, yang dirayakan dengan gegap gempita tawa anak-anak.

Tak hanya menghilangkan sensasi membahagiakan bermain bola, industrialisasi sepakbola menghilangkan nuansa magis menonton bola. Di Inggris, negeri dengan budaya sepakbola yang kental, sepakbola erat berkaitan dengan para buruh. Selain menjadi pemain (yang lantas memunculkan klub-klub seperti Liverpool dan Manchester United), buruh-buruh adalah penonton sepakbola yang tekun. Begitu kuatnya, hingga salah satu alasan protes untuk mengurangi jam kerja yang terlalu banyak pada masa itu adalah agar mereka bisa pulang lebih cepat untuk mengambil kereta dan menonton tim kesayangan mereka di kandang lawan saat away game. Namun, industri membuat tiket masuk menjadi semakin mahal. Jam pertandingan yang dimajukan (sering kali siang hari di Inggris) juga menjadi lebih menyusahkan mereka untuk menonton langsung di stadion. Ini karena industri lebih suka memberi privilese bagi penonton-penonton di Asia, agar jam siarnya tak terlalu malam.

Di Indonesia, kultur menonton bola secara langsung di lapangan masih memiliki atmosfir dan subkulturnya yang unik. Mungkin hanya di Indonesia, bonek-bonek Persebaya mengambil kerja sebagai buruh angkut di pelabuhan agar bisa pulang setelah away game di luar pulau. Mungkin hanya ada di Indonesia, seorang bobotoh rela menarik becaknya lebih pagi agar sorenya bisa menonton pertandingan Persib. Dan mungkin hanya di Indonesia, seperti yang pernah saya saksikan sendiri, suporter berkelahi dengan teman sesama suporternya sendiri hanya karena lemparan air-kencing-dalam-botol-air-mineralnya tidak sampai ke tribun lawan dan alih-alih mengenai temannya sendiri. Nuansa sureal menonton bola di negara berkembang inilah yang jarang diangkat, karena industri rupanya lebih tertarik dengan berita (dan lantas memvonis) bahwa suporter itu identik dengan kerusuhan.

Untuk sebuah novel dan prosais sekelas Zen (saya sudah membaca cerpen-cerpennya dalam Traffic Blues), Jalan Lain ke Tulehu terasa belum maksimal. Akan tetapi, untuk sebuah tinjauan etnografi dan historiologi masyarakat Ambon pasca-1998, khususnya mengenai Tulehu dan kultur sepakbolanya, ia adalah karya yang brilian.

Menulis novel tidaklah mudah, dan tidak semua orang punya endurance yang cukup untuk terus menulis ketika candu euforianya telah habis. Menulis sebuah novel berlatar masyarakat subaltern dengan distingsi sejarah, budaya, dan bahasanya adalah lebih susah lagi. Zen memberitahukan apa yang luput dari pemberitaan tentang konflik Maluku dalam lensa media massa yang seringkali dipenuhi eufemisme: sebuah segregasi dan balkanisasi yang bengisnya hampir-hampir menandingi fenomena segregasi, sentimen rasialis, dan lynching orang-orang kulit hitam Amerika pada era Jim Crow. Meskipun ditulis dari perspektif orang luar dan sebuah fiksi pula, Jalan Lain ke Tulehu tetaplah sebuah sumbangan naratif yang tidak bisa dihiraukan begitu saja atas carut-marut kenangan dan ingatan kita tentang konflik itu yang mungkin telah terdistorsi dan dimanipulasi.

Setelah ini, semoga saja sepakbola semakin mendapatkan tempatnya dalam dunia kesusastraan Indonesia. Dan semoga saja Zen RS masih mempunyai daya tahan untuk melahirkan novel-novel yang lebih bagus dari ini, dan tak berakhir seperti Margaret Mitchell atau Harper Lee.

  • http://matabadai.net el nugraheni

    Sayang aku kurang tabah buat menyelesaikan bukunya. Serasa baca essay. My bad.