Interstellar: antara Sains dan Fiksi

Yang terlintas di benak saya setelah Interstellar selesai adalah, “apakah Nolan akan menjadi Wachowski bersaudara yang berikutnya?” Memang tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa Christopher Nolan adalah seorang sutradara yang visioner – entah saat menyutradarai film drama yang subtil (Following, Memento, Insomnia, The Prestige) maupun film grandiose berbudget besar (Inception, trilogi Batman). Nolan nampak selalu punya konsepsi tentang akan seperti apa filmnya, lengkap dengan plot twist yang menjadi ciri khasnya. Jika melihat film-film Wachowski bersaudara setelah trilogi Matrix yang visioner kala itu, mereka terlihat seperti punya ide besar namun tak punya cukup energi untuk mengeksekusinya dengan sempurna. Cloud Atlas, misalnya, memiliki plot yang menarik, namun kombinasi penceritaan yang terpotong-potong tak rapi serta akting dan editing yang tak maksimal membuatnya berujung sebagai 170 menit kekecewaan. Seperti Cloud Atlas, Interstellar akan menemukan orang-orang yang memujinya, juga memuji “kejeniusan” Nolan. Namun, ada pula yang akan menganggapnya sebagai sebuah film yang tak rata dan tak dieksekusi sempurna. Dalam polarisasi pendapat ini, saya termasuk yang terakhir. Dan saya akan menahan diri untuk membandingkannya dengan 2001-nya Kubrick, karena yang demikian itu sungguh terlalu mainstream adanya.

Interstellar berlatar pada suatu waktu di masa depan, saat bumi yang terlampau rusak menyebabkan badai debu tak berkesudahan, juga hawar (blight) yang membunuh tanaman pangan. Cooper (Matthew McConaughey), adalah mantan insyinyur dan pilot NASA yang terpaksa menjadi peladang karena menjadi pilot dan insinyur adalah hal yang hampir tak berguna di tengah kelaparan yang melanda distopia agraris bernama bumi. Bersama anaknya Tom (Timothée Chalamet) dan Murphy “Murph” (Mackenzie Foy) dan mertuanya, Donald (John Lithgow), ia mengelola sebuah kebun jagung, tanaman terakhir yang dapat bertahan di hawar.

Suatu hari, buku-buku di kamar Murph terjatuh secara berpola. Murph berpikir itu ulah hantu yang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi ayahnya tak setuju. Menurut Cooper itu adalah anomali gravitasi, karena tentu saja hantu bukanlah penjelasan yang saintifik. Mereka berdua mendekodekan pola buku jatuh tersebut, yang ternyata adalah koordinat sebuah fasilitas rahasia NASA yang dikepalai mantan mentor Cooper, Prof. Brand (Michael Caine).

Profesor Brand beserta tim NASA termasuk anaknya, Amelia Brand (Anne Hathaway) sedang merencanakan misi pengiriman manusia ke luar angkasa untuk mencari eksoplanet yang akan jadi rumah baru manusia, karena bumi sudah tak mendukung kehidupan.[1] Proyek Endurance, demikian ia disebut, akan mengirim awak menembus lubang cacing di sekitar Saturnus, dan menemui tiga planet kandidat pengganti bumi yang sudah diidentifikasi terlebih dahulu oleh awak-awak proyek sebelumnya, Proyek Lazarus. Kebetulan, Proyek Endurance belum memiliki pilot. Karena Cooper adalah mantan pilot, maka ia langsung direkrut menjadi awak Proyek Endurance. Demi umat manusia, dengan berat hati ia harus berpisah dengan anak-anaknya untuk mengantar Amelia, Romilly (David Gyasi), dan Doyle (Wes Bentley) menjelajah galaksi lain yang tak dikenal dan tak terprediksikan sebelumnya.

Interstellar adalah separuh space opera yang meromantisasi eksplorasi ruang angkasa, separuhnya lagi adalah hard sci-fi yang bersikeras menggunakan sains secara akurat di dalamnya. Sayang, campuran keduanya seperti prototipe pesawat ulang alik yang dipaksakan terbang.

Pahlawan Nolanesque dan Figur Ayah

Interstellar adalah film tentang menjadi manusia di kala harapan mulai menipis sedangkan solusinya berada di luar sana, wilayah yang tak diketahui dan lantas berbahaya. Menjadi manusia berarti tidak menyerah saat ada pengorbanan yang harus dibuat dan resiko yang harus ditempuh. Begitulah dalam kegelisahannya, Cooper pernah berelegi tentang kodrat manusia sebagai makhluk penjelajah. Menjadi petani seperti dirinya yang menetap di bumi yang sekarat berarti menyerah pada nasib, mengamini kegagalan.[2] Cooper, seperti Leonard dalam Memento, Angier/Borden dalam The Prestige, dan Cobb pada Inception, adalah tipikal pahlawan (atau antipahlawan) Nolan. Motor penggeraknya pun sama: obsesi, entah untuk mencari pembunuh sang istri, melawan kejahatan, membuat mimpi yang tak terbedakan dari kenyataan, membuat trik sulap yang sempurna, atau menemukan rumah baru bagi umat manusia. Mereka – secara against all odds – mencari jawaban atas pertanyaan “mungkinkah?” di tengah dunia yang tidak pasti ini. Ditambah karakterisasi yang gelap dan murung, mereka bermetamorfosis setelah menang dari kesukaran dan keraguan pada diri sendiri, lantas muncullah sebagai pahlawan Nolanesque yang klise.

Selain bernuansa Nolanesque yang kental, tak bisa disangkal bahwa pengaruh space opera juga kuat dalam film ini. Space opera adalah genre yang menggabungkan eksplorasi ruang angkasa dengan melodrama khas sinetron (soap opera). Dalam Interstellar, yang menjadi pusat sentimentalitasnya adalah hubungan ayah dan anak. Jika ditilik, Cooper mirip dengan figur ayah di film Signs (M. Night Shyamalans) dan Transformers: Age of Extinctions (Michael Bay). Mereka adalah karikatur seorang ayah yang pernah memiliki cita-cita besar namun gagal. Ada sebuah gambaran yang paralel saat Cooper mengejar drone dengan hobi Cade Yeager (Mark Wahlberg, dalam Transformers: AoE) mengutak-atik robot. Cade Yeager dan Cooper adalah orang-orang yang tak pernah benar-benar lupa dengan apa yang mereka sukai meskipun nampaknya kekanak-kanakan. Pada akhirnya toh obsesi mereka terbayar juga: Cooper berhasil terbang lagi, dan Yeager berteman dengan robot pintar dari Cybertron. Di sisi lain, mereka bertiga (Graham Hess di Signs, Cade Yeager, dan Cooper) adalah ayah-ayah yang tak kompeten dalam urusan mengelola keluarga, apalagi setelah ditinggal oleh istri-istrinya.[3] Murph, anak perempuan Cooper, bahkan terlebih lagi benci pada ayahnya saat ia nekat memiloti Endurance. Penampakan rumah a la American midwest yang tak terurus di ketiga film tadi adalah simbolisasi yang pas untuk ini.

Sains atau Pseudosains?

Karena Nolan memformulasikan film ini juga sebagai sebuah film hard sci-fi yang mengedepankan akurasi prinsip sains di dalamnya, saya tak tahan untuk tidak membahasnya.

Adalah sebuah sesat logika bahwa pendapat seorang ahli selalu lebih benar daripada pendapat orang awam, argumentum ad verecundiam. Namun saya juga tak menafikan kalau membaca New Scientist dan Nature tidak serta-merta menjadikan seseorang ilmuwan. Maka sebelumnya saya membikin disclaimer. Pertama, bahwa saya bukan Michio Kaku atau Neil de Grasse Tyson (atau Kip Thorne, konsultan sains film ini) yang memiliki keahlian dan titel di bidang fisika. Oleh karena itu, mungkin argumen saya ini tidak akurat. Kritik dan koreksi tentu saja saya harapkan. Kedua, akan ada banyak spoiler di bagian ini. Jadi, bagi Anda yang belum menonton Interstellar dan membenci spoiler silakan lewati bagian ini.

Pertanyaan saya tentang akurasi sains film ini akan saya buat poin per poin.

Pertama, adalah hal-hal teknis tentang pesawat ruang angkasa. Dalam Interstellar, kita tidak pernah melihat Cooper berlatih untuk memiloti Endurance. Adegan di mana Cooper dan anaknya menemukan lokasi rahasia NASA dan adegan di mana ia berangkat menjadi pilot ditampilkan berurutan. Memang, Cooper adalah mantan pilot, tetapi ia sudah lama tidak menjadi pilot karena sibuk menanam jagung. Ditambah lagi, Endurance adalah pesawat yang benar-benar baru dengan modul dan sistem yang benar-benar baru. Kita bisa melihat bagaimana Mann (Matt Damon) yang notabene seorang astronot saja tidak bisa melabuhkan (docking) pesawat penjelajahnya ke pesawat utama Endurance. Kemalasan untuk menjelaskan ini sangatlah lucu, karena film yang tak terlalu serius seperti Armageddon saja menampilkan adegan latihan mengemudikan pesawat oleh kru-krunya yang akan dikirim ke luar angkasa.

Di samping itu, video yang dikirim dari bumi ke pesawat Endurance lewat gelombang radio tertangkap dengan baik dan kualitasnya sama sekali tak terganggu, bahkan bisa melewati lubang cacing tanpa terpengaruh sekalipun. Ini sungguh ajaib, karena di luar angkasa banyak sekali interferensi yang bisa mengacaukan sinyal radio, apalagi dengan carut-marutnya ruang dan waktu di dalam lubang hitam. Selain itu, komunikasi radio antara bumi dan pesawat Endurance di galaksi lain terkesan hampir instan. Sebagai perbandingan, sinyal komunikasi dari bumi ke Mars memakan waktu perjalanan 14 menit sekali perjalanan. Artinya, komunikasi dua arah sesimpel “hai” – “hai juga” saja dapat memakan waktu sedikitnya 28 menit. Pengiriman data sebesar 7,5 MB dari Mars saja bisa memakan waktu 1,5 sampai 5 jam, itupun dengan asumsi tidak ada gangguan. Akan tetapi di film ini, kiriman video dari Murph dewasa (Jessica Chastain) di bumi kepada Endurance yang mengorbit di dekat Planet Miller dijukstaposisikan sedemikian rupa, sehingga adegan-adegan selanjutnya (baik di bumi maupun di Endurance) nampak berjalan secara simultan. Dengan kata lain, dengan tetap mengikutsertakan efek dilasi waktu yang dialami Cooper, kiriman file video dari bumi di film ini terkesan instan. Lalu, karakter Romilly pernah berujar, “hanya ada beberapa milimeter aluminium di antara aku dan ketiadaan berjuta-juta mil di sekitar.” Pelindung (shielding) yang setipis itu sangat berbahaya bagi astronot, karena di luar angkasa begitu banyak radiasi sinar kosmik yang menghujani mereka.

Kedua adalah tentang dilasi waktu. Teori relativitas Einstein menunjukkan bahwa semakin cepat sebuah benda melaju, semakin lambat pula waktu berjalan baginya dilihat dari perspektif benda dalam keadaan diam. Katakanlah A dan B adalah anak kembar identik. A mengemudikan sebuah pesawat canggih dan melaju mendekati kecepatan cahaya di luar angkasa, sedangkan B diam di bumi. Ketika 10 tahun sudah berlalu di bumi dalam perspektif B, A kembali dari perjalanannya. Maka akan didapati bahwa meskipun B berumur 10 tahun lebih tua, A mungkin hanya akan bertambah tua 1-2 tahun saja karena pengaruh dilasi (pemuaian) waktu tadi. Inilah yang disebut dengan twin paradox. Film ini sudah benar dengan menggambarkan umur Murph di bumi yang pada akhirnya sama dengan umur ayahnya, karena si ayah mengalami dilasi waktu saat menjelajah ruang angkasa. Dilasi waktu ini juga terjadi misalnya kita berada di dekat benda yang mempunyai gaya gravitasi yang besar seperti lubang hitam, karena spacetime memang dibelokkan di medan gravitasi yang sangat kuat. Yang menjadi permasalahan adalah perhitungan dilasi waktu (yang bisa dihitung dengan Faktor Lorentz) tidak ditampilkan dan terkesan dicomot asal-asalan. Tidak ada penjelasan dari mana Amelia mendapatkan angka bahwa satu jam di Planet Miller sama seperti tujuh tahun di bumi, atau bagaimana Romilly yang tetap tinggal di pesawat bertambah tua 23 tahun saat kru yang lain turun ke Planet Miller. Planet Miller, yang terdiri dari lautan yang luas dan ombak yang begitu tinggi, disebutkan hanya mempunyai gaya gravitasi 130% lebih kuat dari bumi. Artinya, gaya gravitasinya tak cukup kuat untuk memendekkan waktu sampai 23 tahun. Phil Plait, seorang astronom, menulis sebuah argumen di Slate bahwa untuk mendapatkan dilasi waktu sebanyak itu pesawat atau Planet Miller harus berada begitu dekat dengan lubang hitam Gargantua. Sementara agar planet bisa mengorbit dengan stabil di dekat lubang hitam, ia harus berada pada orbit yang berjarak setidaknya tiga kali besar lubang hitam sendiri (ini akan dibahas selanjutnya di bawah). Bagi saya ini asal-asalan.

Ketiga, tentang lubang cacing (wormhole). Lubang cacing, atau yang disebut dengan Jembatan Einstein-Rosen keberadaannya diakui secara matematis. Namun, agar ia cukup stabil untuk dilewati, ia harus mendapat sokongan dari materi eksotis. Tak seperti materi (atau antimateri) yang mempunyai massa/energi dalam bilangan positif, materi eksotis memiliki massa/energi negatif. Ia hampir tidak mungkin ada di dunia nyata, akibat sebuah prinsip yang disebut quantum interest dan quantum inequalities. Singkatnya, agar materi eksotis (mari kita asumsikan ia bisa dibuat) bisa menyokong “tenggorokan” sebuah lubang cacing, entah lubang cacingnya hanya bisa berukuran submikroskopis dengan radius “tenggorokan” sebesar hanya 10^-32 meter (hanya sedikit lebih besar dari satuan panjang yang diperbolehkan dalam fisika kuantum, Planck Length), atau agar lubang cacingnya cukup besar untuk dilewati (katakanlah berukuran 1 meter), energi negatif dari materi eksotisnya dikompres menjadi sebuah gelang selebar 10^-21 m. Selain bermasalah karena ukuran gelangnya yang luar biasa kecil, energi yang diperlukan untuk ini diperkirakan setara dengan energi yang dikeluarkan 10 miliar matahari selama satu tahun. Solusi lain, misalnya dengan menggunakan sebuah tipe lubang hitam berotasi (yang disebut “Lubang Hitam Kerr”) sebagai lubang cacing juga mempunyai kendala, karena terdapat Horizon Cauchy pada bagian “tenggorokan”-nya. Daerah Horizon Cauchy ini sangatlah tidak stabil.

Di samping itu, (sebelumnya, mari kita asumsikan bahwa lubang cacing seperti di film Interstellar bisa ada, for the sake of the argument) lubang cacing mempunyai satu “pintu masuk” dan satu “pintu keluar”. Seperti kita tahu, “pintu masuk”-nya berada di dekat Saturnus, sedangkan “pintu keluar”-nya berada di dekat tiga planet yang mengelilingi Gargantua. Untuk kembali lagi ke “pintu masuk”-nya di dekat Saturnus, modul pesawat Endurance harus pulang melalui “pintu keluar”. Akan tetapi, di akhir film kemudian ditunjukkan bahwa Cooper menggunakan lubang hitam Gargantua untuk kembali pulang di dekat Saturnus. Ini menurut saya tidak konsisten.

Keempat, film ini seolah melempar ke tempat sampah semua yang kita pahami saat ini tentang lubang hitam. Lubang hitam terbentuk dari bintang masif yang meledak lalu mengalami peruntuhan gravitasi (gravitational collapse). Massa yang begitu besar dari tadi terpadatkan oleh peruntuhan gravitasi. Begitu padatnya, hingga diperkirakan pada bagian pusatnya ia memiliki kepadatan tak terhingga. Titik kepadatan tak terhingga di jantung lubang hitam ini disebut dengan singularitas. Karena gravitasinya yang begitu kuat, planet atau benda apapun yang terlalu dekat akan tercabik-cabik dan tersedot ke dalamnya. Ini mengapa keberadaan sistem tiga planet di dekat Gargantua tidak mungkin terjadi secara fisika, karena – seperti yang sudah disebutkan di atas – jarak minimum sebuah orbit stabil di sekitar lubang hitam adalah tiga kali besar lubang hitam tersebut.

Kesalahan yang lain adalah saat Cooper dan TARS masuk ke dalam lubang hitam Gargantua. Ini bermasalah dalam beberbagai level. Pertama, film ini tidak menampilkan secara akurat seperti apa kelihatannya saat sebuah objek masuk melewati event horizon lubang hitam. Dari perspektif luar (di film ini, Amelia), maka TARS dan Cooper akan kelihatan memerah (red shift). Kemudian persis setelah melewati event horizon, mereka berdua akan kelihatan frozen in time, alias berhenti begitu saja, lalu pelan-pelan memudar. Kedua, mereka berdua akan terpanggang sampai musnah oleh panas (dan radiasi sinar X) dari accretion disk yang mengelilingi lubang hitam. Ketiga, katakanlah mereka berhasil bertahan dari accretion disk, selanjutnya mereka akan penyet oleh kekuatan gravitasinya yang mahadahsyat (dalam bentuk tidal force) menjadi seperti benang. Proses ini disebut dengan spaghettifikasi. Dan katakanlah TARS dan Cooper bisa selamat di dalam lubang hitam, mereka tidak akan bisa berkomunikasi lewat radio karena ruang dan waktu begitu kacau di dalam interior lubang hitam.

Lucunya, si lubang hitam Gargantua ternyata “peduli” kepada Cooper dan anaknya. Lupakan fisika tentang lubang hitam, karena rupanya ia hanyalah sebuah mesin waktu yang sepertinya dibuat khusus untuk Cooper (oleh “makhluk dimensi kelima”?). Dengan prinsip time travel yang mirip film Terminator atau Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Cooper menggunakan lubang hitam ini untuk berinteraksi dengan dirinya dan Murph kecil di masa lalu.[4]

Pertanyaan-pertanyaan lain juga tak dieksplorasi oleh Jonathan dan Christopher Nolan sebagai penulis naskah. Contohnya, apa yang menyebabkan hawar dan badai debu di bumi? Dari mana mereka mendapatkan akses air bersih? Dan sebagainya. Ini juga belum termasuk kesalahan-kesalahan lain, technobabble dan konsep-konsep pseudosains lainnya di film ini. Misalnya keberadaan “makhluk dimensi kelima” yang baginya waktu adalah dimensi fisik “yang bisa dipanjat seperti tebing”. Ini adalah konjektur yang tak saintifik. Belum lagi komentar a la tee-lit dari Amelia, “cinta adalah kekuatan yang bisa menembus ruang dan waktu”. Ini menggelikan sekaligus aneh mengingat filmnya cukup serius mengenai sains.

“Persamaan gravitasi” yang dicari-cari oleh Prof. Brand dan Murphy dewasa juga dilontarkan begitu saja tanpa ada penjelasan apa dan bagaimana. Apa bedanya dengan persamaan yang ditemukan Newton? Lalu bagaimana sebuah persamaan begitu saja dapat menyelamatkan umat manusia? Tak ada penjelasan. Ide sentral film ini rupanya adalah hasil perkawinan silang antara MacGuffin dan deus ex machina: sebuah kemalasan narasi. Ironisnya, Cooper yang berkotbah tentang “sains adalah tentang data dan analisis” kepada Murph lantas seakan tak peduli dengan prinsipnya sendiri. Berulang kali ia mengambil keputusan yang nekat, bahkan ketika si robot TARS melarangnya berdasarkan kalkulasi dan komputasi. Cooper ternyata adalah seorang superhero yang tak bisa salah. Segala permasalahan beres oleh kenekatan Cooper. Terlalu banyak lubang plot di sana-sini. Lupakan ilmu fisika, lupakan ilmu matematika; semua benda dan kejadian di semesta film ini dibuat untuk kenyamanan sang protagonis dalam misinya.

Mungkin semua kesalahan ini dibiarkan saja demi cerita yang lebih artistik atau mudah dipahami. Argumen seperti ini tentu sah-sah saja.

Spoiler berakhir di sini.

Melodrama Setengah Matang

Nolan adalah seorang sutradara yang “intelektual”. Ekspektasi ketika hendak menonton film-filmnya bukanlah untuk menonton film-film melodrama yang sentimental. Maka dari itu, Nolan sepertinya agak memaksakan untuk membangun dimensi emosional bagi film ini. Ia nampak kepayahan untuk membangun hubungan emosional antara Cooper dan anaknya. Hubungan Murph dan Cooper terputus begitu saja saat ia tak mau bicara dengan ayahnya setelah ayahnya memutuskan untuk menjadi pilot. Tom, anak lelaki Cooper, malah terlupakan.

Hubungan bernuansa oedipal antara Murph dan Cooper tetap tak berkembang setelah Murph menjadi dewasa. Keterpisahan ini membuat hubungan emosional di film ini terasa begitu datar, atau malah tak ada. Di angkasa, Cooper dan Amelia Brand seakan terlalu sibuk dengan motivasi emosionalnya masing-masing, entah untuk segera pulang ke bumi menemui anak-anaknya, atau menjemput sang kekasih di planet lain yang dikirim pada misi sebelumnya. Lagi-lagi, tak ada ikatan emosional yang menjadi leitmotif antara keduanya. Akhirnya, film ini menjadi sebuah one man show dari Cooper, sang superhero. Seperti dimensi saintifiknya, dimensi emosionalnya pun setengah matang.

Celakanya, karena tak percaya diri dengan kemampuan naskahnya untuk memberi rangsang emosi yang kuat, Nolan memutar scoring dari Hans Zimmer dengan volume penuh. Perhatikan musik pada adegan saat Cooper menangis di dalam truk yang dijukstaposisikan dengan adegan hitung mundur peluncuran pesawat. Sungguh orkestrasi yang luar biasa bising. Sesungguhnya tren ini sudah dimulai Nolan di Inception dan The Dark Knight Rises. Akan tetapi kali ini ia terasa begitu mengganggu kuping, terlalu eksesif.

Tak ada yang istimewa di Interstellar dari segi sinematografi, selain mungkin pencitraan gravitational lensing di lubang hitam. Jika di bumi ia nampak seperti lukisan Andrew Wyeth, maka luar angkasa di film ini seperti lukisan Chesley Bonestell.[5] Gambaran perjalanan menembus lubang cacing hampir mirip dengan warp drive pada Star Trek. Menilik Solaris, Star Wars, dan serial TV Cosmos sebagai retrospeksi, tak ada yang terlalu istimewa dari visualisasi planet-planet pada Interstellar. Emmanuel Lubezki, sinematografer film Gravity, lebih berani bermain-main dengan teknik pengambilan gambar dibandingkan Hoyte van Hoytema, sinematografer Interstellar. Bahkan Inception lebih radikal daripada Interstellar dalam hal pengambilan gambar. Karena alasan-alasan tersebut saya tak terlalu memberikan kredit pada film ini dari segi visualnya.

Film ini bermasalah di sana-sini sehingga saya berhenti menganggapnya serius. Dan nampaknya film ini memang harus dinikmati seperti itu. Lupakan bahwa film ini adalah karya Nolan. Lupakan bahwa film ini bersikeras untuk tampil “ilmiah”. Nikmati film ini bak kita memandang luar angkasa di atas sana pada malam hari. Meskipun ia terlihat indah, sebagian besar dirinya tak lebih dari sekedar ruang hampa.

***

Post scriptum:

[1] Eksoplanet, dari kata planet yang diberi imbuhan ekso- (luar) adalah istilah untuk planet-planet di luar tata surya kita (tak mengorbit matahari kita). Salah satu kandidat eksoplanet yang mirip dengan bumi adalah Gliese 581 c, berjarak kira-kira 20 tahun cahaya dari bumi. Perlu diperhatikan juga, tokoh Cooper sempat satu kali salah menyebut satuan tahun cahaya dengan tahun saja.

[2] Ada satu adegan di mana Cooper bersitegang dengan guru sekolah Murph. Rupanya, dalam buku teks sekolah, pemerintah mengganti narasi sejarah, bahwa pendaratan misi Apollo di bulan hanyalah rekayasa untuk mengelabuhi pemerintah Soviet agar bangkut menyaingi Amerika Serikat pada masa space race kala itu. Penulisan ulang sejarah ini adalah bentuk propaganda pemerintah agar orang-orang secara pragmatis melupakan keinginan menjadi pilot, insinyur, fisikawan, atau astronom saat bumi dilanda krisis pangan. Rupanya, Nolan ingin memasukkan sebuah komentar politik di film ini. Pertama, mengenai debat tentang signifikansi kegunaan proyek-proyek penjelajahan luar angkasa (termasuk proyek-proyek riset fisika teoritis, misalnya) di saat pemerintah Amerika Serikat sedang berusaha menghemat anggaran. Kedua, sebuah sindiran kepada orang-orang konspirasi teori yang menyangkal ini-itu, semisal peristiwa 9/11, pendaratan bulan, atau pemanasan global, juga bagaimana bahayanya apabila orang-orang seperti ini menguasai pemerintahan. Karena hanya secuil, maka nampaknya komentar politik Nolan ini terlupakan lima menit kemudian.

[3] Menariknya, tokoh utama dalam film-film Nolan: Leonard dalam Memento, Angier dan Borden dalam The Prestige, Cobb dalam Inception, Bruce Wayne dalam The Dark Knight, dan Cooper dalam Interstellar semuanya ditinggal mati oleh istri (atau dalam kasus Bruce Wayne, kekasihnya).

[4] Perjalanan waktu di film ini memakai kurva tertutup. Katakanlah A melakukan perjalanan waktu dari masa sekarang ke masa lalu. Apapun pun yang dia lakukan di masa lalu tidak bisa mengubah masa lalu maupun masa sekarang seperti yang sudah ia jalani sebelumnya. A tidak bisa pergi ke masa lalu dan membunuh kakeknya sebelum sempat punya anak dengan neneknya, karena dengan demikian orang tuanya tak sempat lahir ke dunia dan A tak pernah ada di dunia. Paradoks ini untungnya tidak ada dalam film Interstellar. Secara fundamental, ia konsisten dengan apa yang disebut sebagai prinsip Swakonsistensi Novikov.

[5] Adegan di dalam lubang cacing mengingatkan saya pada efek kabur di lukisan-lukisan potret Gerhard Richter.

  • http://dedehate.tumbr.com Masboi

    Keren bang. Saya selalu suka baca tulisan Anda, di sini, di Cinema Poetica.

    • http://snappedguitar.blogspot.com Andreas Rossi D.

      Terima kasih, Bang Dede. Dede atau Masboi ini? Saya juga suka sekali membaca ulasan album metal di Tumblr Anda maupun TUC. Sila menulis di sini jika berkenan. :)

      • http://trendingtopiq.wordpress.com trendingtopiq

        Ada anak TUC mau nulis di sini? Keren ih!

  • Panca

    Baru tadi malam saya membaca (yang katanya) resensi Interstellar di Jakartabeat. Tak ada kajian yang ditawarkan, tak lebih dari sekadar sinopsis kering. Maka itu, terima kasih atas tulisan ini, bro Andreas. Sangat bergizi. Yang saya suka juga adalah setelah membaca resensi ini, “rasa” ketika saya menontonnya kemarin tak serta-merta berubah, tidak lantas malu mengakui bahwa saya menyukai film ini. Saya juga setuju Anda tak sekonyong-konyong membandingkan Interstellar dengan 2001: Space Odyssey, jangan plis, so hipster. Kalaupun ingin membandingkan, paling cuma dari segi teknik bertutur. Seperti misalnya saya membandingkan Interstellar dengan Inception, bukan dari segi tema cerita ataupun hal yang menyangkut produksi, karena memang berbeda. Yang saya bandingkan hanyalah dari segi cara bertutur. Rupanya saya bukan penyuka film yang terlalu mikir. Menonton Inception mengajak saya berpikir keras sepanjang film sampai menonton dua kali, tidak dengan Interstellar. Cuma rupanya menimbulkan kecacatan di situ. Maka mungkin salah satu sebab 2001 tidak pernah basi dan abadi, meskipun wacananya sangat filosofis, film tersebut tak mengajak saya berpikir berdarah-darah, tapi cukup lewat emosi, lewat rasa. (y)

    • http://snappedguitar.blogspot.com Andreas Rossi D.

      Terima kasih banyak atas apresiasinya, Bung Panca. Di luar hal-hal yang teknis, film ini tetap entertaining, dan saya menyukainya. Mengenai 2001, memang susah mencari film yang dapat diadukan dengannya. Segi visual 2001 luar biasa, apa lagi untuk tahun segitu. Narasinya pun demikian sublim, karena ia bertutur lewat gambar alih-alih dialog.

      Ah, Inception. Anda tidak sendirian, Bung Panca. Itu film memang memunculkan banyak perdebatan. Bahkan banyak yang bikin esai buat menelaah simbolismenya. Ada juga yang bikin infografik menjelaskan konsep mimpi multilevelnya. Seharusnya kita semua seperti Cobb di akhir film: memilih untuk tak memusingkan mana yang nyata dan mana yang mimpi.

  • Elvin

    Mas, koreksi untuk poin kedua: bukan dilasi waktu, tapi dilatasi waktu. Salam. :)

    • http://snappedguitar.blogspot.com Andreas Rossi D.

      Jika menilik KBBI, dilatasi itu n Anat (nomina, anatomi), di mana penggunaannya untuk istilah medis (anatomi). Sedangkan dilasi itu n Fis (nomina, fisika), yang saya rasa lebih cocok di sini, meskipun sebenarnya dilasi dan dilatasi itu interchangeable dan artinya kurang lebih sama: pemuaian. Terima kasih sudah membaca.

      Salam. 😀