Daun Gugur, Peri Sungai Berpetuah

Dedaunan pasti tanggal dari gemulai ranting-rantingnya untuk membentuk sumber kehidupan, katanya. Padahal, daun adalah dapur para pohon untuk memasak makanan. Tapi ia menyangkal. Daun tak sepatutnya terus-menerus diperas tenaganya untuk menghidupi ranting, batang, akar, buah, dan bunga. Saat daun itu kering—kerontang karena energi tergerus—perlulah ia meninggalkan pohon: pensiun. Yakni jatuh ke bumi, asal-usulnya. Sama layaknya manusia.

Kala itu, matahari penuh embun tergugah dari barisan bukit di sebelah sana yang sempat terpenjara tembok-tembok suram. Butiran embun yang segar ini enggan menggigilkan daun-daun, meskipun panas terik surya tiada berkemauan untuk membakar.

Daun-daun itu …

Wahai daun-daun jatuh dari ranting pohon, rapuhkah kalian dari kehidupan yang mengawali hari ini? Letihkah dengan hempasan angin segar dari sudut-sudut kota yang tak berduka? Atau mungkinkah, lebih nyaman kembali ke tanah, tempat seharusnya semua makhluk kembali, entah ditanam atau tidak sengaja membusuk di atas tanah?

Sepanjang aliran sungai, sepanjang pula angin pagi selalu bertiup, berbuih-buih pula hikayat daun-daun gugur yang jatuh tak beraturan di pinggir jalan beraspal, di tepi sungai, dan berserak di atas bebatuan cadas yang menghadang arus air di sungai. Pun senantiasa membuktikan bahwa beragam momok yang sanggup menegakkan bulu roma, seperti kisah lelaki gembel yang terjun ke sungai, buaya pemakan manusia, dan sebagainya. Tapi, mungkin hanya saya yang beruntung, sebab yang saya jumpai bukanlah legenda-legenda mengerikan itu, melainkan seorang pengisah daun gugur di sini, di tepi sungai dengan tumpukan daun-daun kering berhamburan setebal salju di kutub.

Si pengisah daun gugur, begitulah saya menganugerahkan gelar, punya tipu muslihat yang ganjil. Ia mampu merontokkan daun-daun hanya dengan menengadahkan kedua tangannya di bawah pohon.

Waktu itu sesingkat senja menuju petang, dengan langit spektrum kemerah-merahan yang kian menggelap. Tak mengendap, meski tak sekejap.

Saya menontonnya di tepi sungai ini. Matanya terpejam seraya tersenyum anggun. Tubuhnya mematung dengan tangan menengadah di bawah pohon yang terus menggugurkan daun-daunnya. Ia yang menarik daun-daun itu jatuh, pikir saya waktu itu.

“Kau mengawasiku,” tiba-tiba ia bertanya.

Matanya masih terpejam. Wajahnya tetap mengarah ke sungai. Ia biarkan tubuh semampainya diterpa hembusan pelan angin segar, memunggungi saya.

“Iya. Siapa kamu?”

“Aku peri sungai,” datar ia menjawab.

Saya terbahak. Geli. Pastinya ia berkekalar.

“Kau mungkin tak percaya. Tapi sengaja kujatuhkan daun-daun kering ini untuk menyuburkan tanah. Sudah saatnya waktu gugur.”

Hening. Satu-satunya manusia berdiri di sana, di bawah daun-daun berguguran, tetap membingungkan dan tak mengacuhkan saya. Barangkali cuma saya yang menyadari keberadaan si pengisah daun gugur itu. Ya, mengetahui bagaimana rambutnya hitam lurus menjuntai diterpa angin. Wajah putih bersihnya mengingatkan saya akan putri salju. Wangi tubuhnya berbalut gaun putih suci menggetarkan. Tiada satu manusiapun yang memahami sang peri sungai.

Hanya saya …

Ditemani peri sungai yang mengisahkan daun gugur mungkin akan menemukan kotak impian masa lalu saya. Bersamanya merasakan daun gugur yang jatuh perlahan, melayang pelan di udara, amat pelan, seolah mengambang. Mengamati daun-daun jatuh di permukaan sungai, yang lantas dihantar mengalir di arus yang tak begitu deras.

Tapi, waktu gugur …

“Bukankah negeri ini hanya mengenal dua musim?”

Wanita itu berdiam sejenak.

“Kau benar! Tapi hujan sudah tak pernah turun. Maka kujatuhkan dedaunan untuk dimakan cacing yang bertugas menyuburkan tanah di sekeliling sungai. Agar pohon-pohon ini tetap hidup.”

“Itu tidak adil! Kenapa pohon-pohon harus kehilangan daunnya hanya karena tiada air hujan? Tanah mungkin subur, tapi rumput juga menikmati, sedang mereka tak kehilangan daun.”

“Engkau tak mengerti. Sedikitpun tidak, karena kau hanya manusia.”

Hah! Manusia? Sindiran macam apa ini yang membekukan saya, yang dingin kaku menggigilkan? Apakah serupa sungai berair tenang, cukuplah tenang, tak gelisah―bak tiada lagi yang lebih tenang―yang membelah kerumunan pohon-pohon menjadi dua sisi berseberangan? Saya sudah bukan manusia, semestinya.

“Maka kemarilah tiap pagi, bersamaku menikmati daun gugur,” ia tersenyum renyah. Matanya berseri menatap saya.

Sejak itu, peri sungai tak letih menghujani saya petuah-petuah yang tak terangkum dalam hikayat mana pun. Bermula dari daun gugur itu, hingga kisah air sungai yang terus menerjun. Bahwa yang lebih tinggi, haruslah membagi cucuran air dan mengalirkannya ke dataran lebih rendah.

Sama seperti daun gugur, rumput dan ilalang berhak merasakan suburnya tanah. Sebab mereka tak pandai memasak cahaya matahari. Dan sinar mentari sudah direbut sebanyak-banyaknya oleh pepohonan.

Ah, saat itu, sepatutnya tak semelankolis ini, hingga membuat saya terpikir lagi pada wanita itu. Akhirnya pesan kepergian saya beberkan padanya, setengah jam yang lalu. Meski saya tetap menunggu kedatangannya, detik bertambah detik. Dan rasa itu terus menganga, sepanjang dedaunan berangsur-angsur gugur setiap waktunya, kering cokelat susu nan rapuh.

Dan dedaunan gugur selalu bergemerisik, tanggal dari ranting-rantingnya yang lunglai, seolah berbisik, mengisahkan kembali bagaimana percumbuan saya dengan pengisah daun gugur itu. Ketika diam-diam saya mendekapnya dari belakang, lantas, saya ciumi tengkuknya. Seakan gelisah tidak beralasan, ia tersenyum dan bergeliat dengan hangat lembut bibir yang saling bersentuhan. Hingga permainan bercinta itu bebas tanpa batas di atas ranjang daun-daun gugur. Ya, sebuah memori yang masih terngiang dalam benak, seumpama dalam batin tersimpan onak.

“Aku harus pergi.”

“Tidak! Kemana? Aku harus ikut!”

Hari itu mulai redup.

Seberkas cahaya matahari berdenyar-denyar selalu terhalang perdu dedaunan hijau yang menyelimuti ranting-ranting rapuh pohon. Terlampau sukar menembus tanah, hanya sebagian saja yang berhasil menyusup, melukis lingkaran-lingkaran tak teratur di bawah teduh pepohonan. Maka pantaslah, di kegelapan bantaran sungai dengan ilalang menggeliat, peri sungai mempertontonkan dirinya sebagai penyampai pesan keadilan. Sayangnya …,

Keadilan yang ia tuturkan tak pernah saya mengerti dan terasa hampa. Telah lama dalam rundung duka tatkala istri dan anak-anak pergi meninggalkan saya kedinginan, tanpa hati dan nurani.

Ia menitikkan air mata.

“Kau tidak boleh ikut! Duniamu berbeda. Kau sudah tak di sini.”

“Tapi, aku telah kehilangan segalanya. Tak sanggup lagi kuhadapi dunia ini seorang diri …”

Langsung saja ia memotong, “setelah usahamu hancur dan orang-orang yang kau cintai pergi, masihkah kau bersabar?”

“Aku bukan Nabi Ayub! Aku hanya manusia biasa!”

“Maka, pantaslah kau jadi manusia biasa yang tak tersentuh keadilan!”

“Keadilan mana yang kau maksud?”

“Yang kuceritakan dalam daun gugur! Ingatlah air sungai itu terus mengalir dari yang tinggi ke arah yang lebih rendah! Kau dulu melupakan petuahku! Kau terlampau rakus dengan jabatanmu sebagai dewan. Padahal aku sudah memperingatkanmu,” tandasnya dengan nada pilu, sangat amat sendu, hingga titik-titik air matanya yang tak sanggup kupetik telah membasahi rona merah muda pipinya.

“Tidak bagiku! Keadilan adalah ketika menguasai segalanya, maka pantaslah berada di puncak dan memutuskan segalanya!”

“Dan kau dikalahkan keadilanmu sendiri, hai Pria Gembel! Jiwamu sudah dihanyutkan sungai duniawi. Kau putus asa! Prinsip keadilanmu salah! Manusia harus seperti pohon, ketika besar ia berbagi, ketika kecil, ia rendah hati!”

Air matanya terus menetes.

Tangan kanannya hendak meraih tubuh saya. Sayangnya rembulan teserlahyang terpetak di awang-awang. Ia menghilang, lamat-lamat buyar. Tak membekas. Begitu tanpa jejak, seolah-olah tiada lagi yang terkenang. Dan waktu tak menyempatkan saya menggamit tangannya yang sehalus pualam. Sebab perlahan tubuhnya memudar seiring cahaya matahari mulai menyorot dari balik kegelapan.

Padahal saya sudah tak lagi memiliki jantung jugalah hati. Rongga dada saya terasa sesak, terlampau mendesak. Tapi, seperti guntur meledak di dalam benak, air mata saya pun merembes begitu saja. Walaupun saya sudah kehilangan bola mata. Tercongkel entah di mana.

Saya terisak, melihat tubuh saya yang pucat sudah terlalu lama mengambang di sungai.