Bajingan!

[Disclaimer: cerita berikut ini sifatnya fiktif belaka. Apapun kemiripan nama, setting, plot, dan polemik yang dibahas di dalamnya pastilah kebetulan semata. Serius. Tidak ada maksud maupun kesengajaan untuk menyinggung siapa-siapa. Please jangan diambil hati apalagi segala lapor polisi. Jangan. Karena saya takut masuk penjara juga tak kuat bayar pengacara. Salam peace, love, and gaul.]

“Fatin Hamama mempolisikan Saut Situmorang gara-gara komentar di Facebook. Cuma karena kata bajingan. Gimana itu menurut, antum?” tanya seorang teman.

Teman yang bertanya itu, sebut saja Gita, adalah sosok pegawai negeri yang istimewa. Selain melek sastra, dia juga baru saja menerbitkan buku pertamanya secara eksklusif. Buku yang belakangan diberi julukan oleh cerpenis Yusi Avianto Pareanom sebagai “buku yang 100 persen terserap pasar”. Gita, meminjam istilah Saut, memang seorang sastrawan bakat alam par excellence. Meski itu saja tentu tak cukup untuk menjamin asmaranya tidak suram.

Kopi di atas meja mengepulkan uapnya ke udara, ringan melayang lalu hilang. Gita, seperti biasa, mengaduk kopi itu dengan senyum cengengesannya. Barangkali karena inilah dia sendiri saja. Ketika banyak gadis cantik pula ranum termakan hasutan ustaz-ustaz di media sosial (medsos) untuk nikah muda, Gita justru gagal mencitrakan diri sebagai lelaki dewasa nan serius. (Mampus kau dikoyak koyak sepi!)

Gaduh-gaduh perkara bajingan ini sebenarnya bukan kali pertama. Beberapa waktu lalu, Ahok juga pernah melontarkan kata yang sama sehingga memantik pro-kontra. Berbeda dengan Ahok yang besar kemungkinan tidak tahu asal-usul bajingan, Gita tentunya lebih tahu. Karena seperti Saut dan Fatin, Gita juga seorang ‘insan sastra’ (asek-asek! Jos!). Saat saya tanya apa sebenarnya arti bajingan, senyum cengengesannya pudar serta-merta.

Dengan ekspresi serius yang tidak cocok, Gita mulai menjelaskan beberapa spekulasi tentang muasal kata ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bajingan diletakkan tepat di bawah kata bajing. Seolah makian ini adalah turunan dari nama binatang pengerat tersebut, dengan ditambah akhiran “-an”. Masyarakat kita memang biasa menggunakan binatang sebagai umpatan: anjing, babi, kampret, monyet, jangkrik, boleh jadi juga bajing. Untuk arti bajingan sendiri, KBBI hanya menyebutkan dua:

  1. penjahat; pencopet
  2. a kas kurang ajar (kata makian)

Namun, bahkan KBBI pun perlu diuji, diragukan, digugat, bahkan ditolak otoritasnya. Gita menjelaskan alternatif lain sebagai asbabun nuzul dari kata bajingan. Seperti kiyai sepuh di pesantren-pesantren kampung yang sedang mengajarkan tafsir ayat dari sebuah kitab yang tak suci. Kakinya diangkat satu, sesekali berhenti bicara, menyesap kopi perlahan, berkumur sebelum menelannya, rokok dihisapnya dalam, lalu lanjut menjelaskan. Menggelikan, sebenarnya, tapi tak baik merenggut kesenangan teman yang jarang bersenang-senang.

Kata Gita, bajingan bisa jadi juga serapan utuh dari bahasa Jawa. Bukan nama binatang ditambah akhiran “-an”. Di beberapa daerah di Jawa, bajingan berarti kusir pedati, semacam andong tapi ditarik sapi. Seperti juga kata sontoloyo yang aslinya sebutan untuk penggembala bebek. Melihat saya khusyuk mendengarkan, “sang Kiyai” semakin menjadi-jadi. Padahal saya sedang berpikir, jangan-jangan gaya bicaranya yang seperti ini, diperoleh dari keseringan nongkrong di Salihara.

“Kalau pendapat terakhir yang benar, KBBI harus dikoreksi,” lanjut Gita layaknya orasi aktivis Hizbut Tahrir Indonesia mendemo demokrasi, “bajingan adalah lema tersendiri yang bukan turunan dari bajing.”

Terlepas mana yang lebih benar antara KBBI dan Gita, spekulasi tetaplah spekulasi. Belum ada kajian serius sebagai dalil qati’ asal-usul umpatan ini. Sayup-sayup lantunan adzan entah di mana, beradu dengan tawa canda mahasiswa. Kami memang sepakat ngopi di warung Akang, salah satu penjual di kantin kampus tempat kami kuliah dulu. Beberapa mahasiswa ikut mencuri dengar ceramah Gita, yang kali ini menyinggung adagium kuno: bahasa adalah kesepakatan.

Seperti makhluk hidup yang mengalami evolusi, kata pun bisa meluas, menyempit, maupun bergeser maknanya. Tapi apalah arti pengetahuan etimologis beberapa gelintir orang di hadapan masyarakat yang punya kesepakatannya sendiri? Bahwa asal-usul sebuah kata bisa diperdebatkan, tapi bukankah bajingan yang dimaksud Saut kepada Fatin pastilah sumpah-serapah?

Adzan baru saja selesai, ditambah tingkah Gita yang menggelikan, mengingatkan saya pada masa kecil di kampung ketika belajar mengaji, pada kiyai-kiyai sepuh yang gemar bercerita tentang dongeng Ashabul Kahfi. Boleh jadi Fatin adalah Ashabul Kahfi dalam narasi yang lain lagi. Dia telah tertidur sekian lama, sejak zaman Angkatan Balai Pustaka, bangun-bangun sudah ada di zaman Angkatan Pujangga Medsos.

Angkatan Balai Pustaka memperlakukan sastra layaknya perawan mau menikah, dipingit dalam kerangkeng bahasa Melayu tinggi, dibebat demi kemolekan bentuk. Karya yang mengklaim diri adiluhung, terlepas dari realitas orang-orang kebanyakan yang kere dan pandir. Karya yang membumbung tinggi dan tak berminat lagi menginjak bumi. Angkuh dan elitis seperti selera genit para ningrat, priyayi, cerdik cendekia, dan ambtenaar masa kolonial. Sementara karya berbahasa Melayu rendah, bahasa pasar, bahasa jelata, pastilah bukan sastra. Pun sastrawan, haram menggunakan bahasa rendahan seperti bajingan.

Bahasa, selamanya adalah Kurukhsetra. Adalah medan pertempuran. Kata beradu kata. Kasta menindas kasta. Kelas melawan kelas. Pada masa feodal, saat masyarakat terbagi berkasta-kasta, bahasa yang dipakai pun berlapis-lapis: krama, madya, ngoko. Dan jangan berpikir ini hanya ada di Jawa kuno saja. Di peradaban feodal mana pun, kasta lebih rendah pasti wajib “berkrama-krama” kepada kasta di atasnya sesuai pakem bahasa masing-masing. Bahasa para kawula, bahasa orang-orang kalah.

Pasca-feodal, intensitas penggunaan krama-madya-ngoko memang jauh berkurang. Pertentangannya yang terus hidup. Kasta memang tak lagi nampak seperti dulu, karena telah malih rupa menjadi kelas. Selama kelas ada, bahasa akan selalu punya pembeda meski samar. Bahasa para snob dengan para mediocre. Bahasa kaum the haves dengan kaum the haves not. Bahasa cerdik pandai dengan bahasa orang pasaran. Bahasa borjuis dengan bahasa proletar. Teman-teman yang mendalami sastra atau filsafat bahasa tentu lebih paham soal ini, terlebih kalau sudah bawa-bawa perspektif marxian.

Dan yang terjadi pada Angkatan Balai Pustaka sendiri tidak semata perkara selera, antara pribumi terdidik dan tidak terdidik. Lebih dari itu, sastra Angkatan Balai Pustaka juga diawasi dan diatur secara ketat oleh pemerintahan kolonial. Tak jarang merekalah corong pemerintah kolonial, corong untuk menyampaikan kepentingan penjajah kepada yang dijajah. Dengan kata lain, sastra Angkatan Balai Pustaka adalah sastra yang lulus sensor dan mendapat beking dari pemerintah.

Pasca-kemerdekaan, pemerintah tak lagi cawe-cawe. Hukum tidak pernah memaksa masuk ke rumah-rumah sastrawan. Kalaupun ada yang politis, paling-paling perang sastra antara Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu). Lekra yang condong pada sosialisme, mengampanyekan “seni untuk rakyat” dengan realisme sosialis-nya. Sedangkan Manikebu yang condong ke liberalisme, mengampanyekan “seni untuk seni” dengan humanisme universal-nya. Dan tak pernah tercatat keduanya saling melaporkan ke polisi satu sama lain!

Kalau dunia sastra awal kemerdekaan saja bisa berdebat sedemikian hebat tanpa perlu takut dipenjara, harusnya jadi dosa besar kalau sekarang ini membawa perdebatan dari sastra ke hukum. Bagaikan mencampur agama yang serba suci dengan politik yang penuh najis, dua dunia yang semestinya saling dijauhkan. Laku semacam itu adalah langkah mundur yang tak ubahnya watak para penjajah.

Terlebih hukum, selalu menjadi produk pihak yang menang. Bahasanya lahir dari alam pikiran kelas yang berkuasa. Mengemban kewajiban membela nilai dan status quo pembuatnya. Diakui atau tidak, tak ada yang benar-benar bisa bebas nilai, termasuk hukum sekalipun. Hukum pasti memihak. Karena tidak memihak, sendirinya adalah keberpihakan. Lalu kelas manakah yang sekarang berkuasa? Tak perlu dijawab, itu pertanyaan retorik.

Karena bangun-bangun sudah terjebak di Angkatan Pujangga Medsos, Fatin melewatkan banyak hal. Dari lahirnya Angkatan 45 dengan Chairil Anwar yang mendobrak tatakrama yang sudah mapan, sampai perdebatan sengit antara Lekra dan Manikebu. Sialnya Fatin langsung bertemu dengan Saut yang tidak tahu caranya berkenes-kenes a la sastrawan borjuis.

Bukan cengeng, Fatin cuma belum siap hidup di zaman medsos. Kagetan. Dia masih teguh berpegang pada tatakrama Angkatan Balai Pustaka. Dia seperti tersedot lorong waktu jauh ke masa kita sekarang ini: ketika catatan kaki pada puisi adalah avant-garde, ketika menjadi sastrawan berpengaruh semudah membagi iPad kepada follower. Ini adalah zamannya Angkatan Pujangga Medsos.

Ibarat menonton Ada Apa Dengan Cinta (AADC) di bioskop, dan terpaksa harus pergi ke toilet di tengah jalannya cerita karena sakit perut. Ada fragmen Cinta bertengkar dengan Rangga yang luput ditontonnya. Ada dialektika historis yang gagal dia pahami. Dan gegar sejarah yang dia derita itu ternyata punya efek samping: anti-kritik dan lebay. Dimaki sedikit, ngambek. Lalu lapor polisi. Gembeng adalah kita.

Andai pernah membaca H.B. Jassin (secara harfiah) menonjok muka Chairil, mungkin tidak akan kagetan dengan bahasa yang dipakai Saut. Andai pernah membaca Lekra dan Manikebu berdebat, bisa jadi akan selaw saja dikatai bajingan. Andai tidak pergi ke toilet ketika menonton AADC, barangkali Fatin cukup mengutip kata-kata Cinta kepada Rangga, “Salah gue? Salah temen-temen gue?”

“Sastrawan kok lapor polisi, sastrawan itu kelahi!” kata Gita sembari menghisap rokoknya lagi. Dia jadi mirip kawan Aidit lagi memimpin rapat dalam film Arifin C. Noor pesanan Orde Baru itu. Tiba-tiba Gita mengajukan pertanyaan, “Bagaimana agar kita tidak norak dan lebay seperti Fatin?”

Saya hanya menyarankan tiga hal. Pertama, piknik. Ini sangat mujarab untuk mengurangi stres. Manusia yang kurang piknik akan terlalu serius hidupnya, sumbu pendek dan anti-kritik. Kedua, pergaulan. Ini juga penting untuk memperkaya kosakata agar tidak kagetan. Manusia kagetan biasanya kuper. Terakhir adalah asmara. Banyak ahli menyebut asmara punya andil besar atas hormon dan temperamen manusia. Apalagi jika yang terganggu adalah urusan ranjang, hanya orang-orang suci yang bisa meninggalkan urusan ranjang tanpa jadi uring-uringan. By the way, kapan terakhir kali Anda have sex?

Matahari sudah bergeser sedikit. Kopi di atas meja telah tuntas, tinggal ampasnya yang seperti berjelaga di dasar cangkir. Saya melempar isyarat pada penjual kopi bahwa Gita yang traktir. Maaf, tanggal tua. Sambil mengeluarkan dompet dari kantong belakang, sambil kembali tersenyum cengengesan, Gita menjawab saya dengan parafrase sajak Wiji Thukul,

“Hanya ada satu kata: bajingan!”