Macet

ilustrasi oleh Mayumi Haryoto

“Udah bisa baca pikiran anak-anak gaul? Terus, sekarang loe udah berani vonis kita nggak punya kepribadian, nggak prinsipil? Nah, sekarang kalo elo ngerasa aneh di tempat-tempat ramai kayak gini, itu salah siapa? Sekarang gue tanya, salah gue? Terus kalo elo sekarang nggak punya temen sama sekali kayak sekarang itu, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue, salah gue, gue tanya?”

― Cinta, dalam AADC

Seorang teman tiba-tiba datang kepada saya, melipat wajahnya yang sebenarnya lumayan cantik dengan gerutu yang ketus. Tanpa foreplay yang cukup, saya terdiam dibombardir keluhan yang awalnya saya kira soal kisah percintaan masa pubernya seperti biasa. Ternyata tidak, kali ini justru tentang para pengendara motor yang sering mengambil jalur busway, melawan arus, bahkan melewati trotoar. Dari dulu saya selalu yakin (sekadar yakin) bahwa yang sering mengeluhkan kelakuan pengguna motor, tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang menggunakan mobil.

Termasuk teman ini, adalah pengguna mobil, meski mobilnya masih berupa angkutan transportasi massal. Kepada pengguna mobil angkutan massal seperti dia, semacam ada segan yang terbersit kalau saya harus beradu argumen membela pemotor. Tapi andai si teman berasal dari golongan orang yang lebih “beruntung” nasibnya, dititipi rezeki lebih oleh Tuhan yang Mahakuasa sehingga bisa membeli mobil pribadi, saya dengan sangat senang hati akan meladeninya berbincang-bincang, panjang kali lebar sama dengan luas.

Kalau nanti si teman sudah bisa beli mobil pribadi dan sekali lagi datang kepada saya, mengeluhkan persoalan yang sama, saya akan sangat optimis untuk mengatakan kepadanya, “cuma orang-orang linuwih saja yang tetap bisa berpikir dalam-dalam di tengah nyamannya hidup, selebihnya, kenyamanan seringkali mendangkalkan.” Barangkali saya akan diam sebentar demi menikmati momen sepersekian detik, ketika ekspresi wajahnya tertegun bingung mendengar jawaban yang tidak nyambung.

Sebelum sempat tersadar dari kebingungannya, saya kembali mencecar dengan penjelasan lebih panjang. Tak masalah menjadi bingung, konon itu tanda berpikir. Tapi tak perlulah rasanya mencoba berpikir dalam-dalam, toh apa untungnya kalau sudah paham? Pemahaman itu perangkap, karena seringnya membawa rasa bersalah ketimbang menenangkan. Pemahaman seringkali adalah nyeri yang mengungkit kepantasan atas segala apa yang tengah dimiliki.

Saya akan menasehatinya untuk menikmati saja hidup yang telah jadi serba nyaman, mensyukuri rezeki lebih dalam bentuknya berupa mobil pribadi sehingga dapat terhindar dari panas dan hujan, dapat membawa ayah dan bunda pelesiran ke mal, atau lebih mudah mendapatkan kekasih juga barangkali. Toh tidak gampang mendapatkan semua kenikmatan itu, bukan? Tak perlu repot, tak perlu sungkan. Kepenakna awakmu, tenangna atimu.

Proses menuju pemahaman seringnya berupa jalan memutar yang terjal lagi berliku, menguras tenaga dan tak jarang ada yang tercederai. Ketimbang menyulitkan diri sendiri dengan melalui jalan pemahaman, saya akan menyarankan untuk mengambil jalan pintas. Saya akan menyarankan untuk melihat saja dari apa yang tampak: kota besar memang selalu macet dan diperburuk dengan pengendara motor yang ugal-ugalan.

Tak perlu menggali tumpukan variabel dan determinan, capek, sangat tidak praktis untuk golongan orang seperti dia. “Orang kayak gue? Orang kayak gimana tuh maksud lo,” saya membayangkan dia akan menuntut penjelasan kepada saya, seperti parafrase dialog Cinta yang kecewa pada Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) saat adegan di Kwitang. Tapi berbeda dengan Rangga yang tak sempat menjawab, saya justru akan menyerangnya secara bertubi: ad hominem dan stereotyping. Kombinasi ampuh untuk menghadapi tipe manusia sumbu pendek.

Saya harus mengakui Dian Sastro tetap cantik, meski dalam lakonnya yang secara presisi menghadirkan dalam dirinya perpaduan keangkuhan seorang gadis ABG dari latar belakang keluarga yang serba berkecukupan, anggota geng yang lebih mirip konglomerasi gadis-gadis cantik dan trendy idola sekolah, redaktur majalah dinding yang menaruh minat pada sastra, menggandrungi pensi yang dengan band-band indie (diwakili oleh PAS Band sebagai cameo, saat itu masih indie), dan semacamnya.

Sekadar info bagi generasi-generasi yang terlahir kemudian, AADC adalah film yang melegenda bagi generasi saya, jadi sangat wajar kalau tidak bisa mengerti betapa Dian Sastro begitu diidolakan oleh banyak orang dari generasi kami. Selain ceritanya yang memberi warna baru, suksesnya AADC barangkali juga karena bersamaan dengan keresahan masa puber generasi kami. Bagi yang penasaran, bisa lihat di sini, barangkali bisa membantu. AADC saat itu bisa dikatakan semacam avant-garde di tengah kebuntuan perfilman Indonesia pada khususnya, dan dunia pop pada umumnya. Entahlah, barangkali cuma pendapat saya.

Bahkan salah satu artikel di media seserius IndoProgress yang mengklaim diri sebagai Media Pemikiran Progresif, menuliskan dengan agak hiperbolis, “Percayalah, sebelum film Ada Apa Dengan Cinta meledak tahun 2001, jarang sekali kami dianggap laki-laki.” Yang jelas dari AADC juga, saya pertama kali mengenal kata exist, anak muda tak bisa dikatakan exist dan gaul kalau belum menonton AADC saat itu. Dan entah apa alasan sekumpulan penyair kondang tanah air, memilih “Dian Sastro for President!” sebagai judul antologi puisi mereka, padahal hampir tak ada puisi tentang Dian Sastro di dalamnya.

Kembali lagi ke karakter Cinta, yang seolah hadir sebagai representasi dari generasi muda dari kalangan kelas menengah yang seringkali dangkal, snobartsyseleb, konsumerisme, lengkap dengan budaya pop. Teman saya yang saat itu sudah mampu beli mobil, otomatis anggota kelas menengah juga. Dengan menggunakan sudut pandang Rangga (yang hipster, barangkali karena punya bapak seorang mantan tahanan politik, sehingga membuatnya teralienasi dan selalu skeptis kepada seisi dunia), saya akan sengaja mencederai harga dirinya dengan menempelkan stereotype manja dan penggerutu untuk golongan orang yang di sosial media disebut: Kelas Menengah Ngehe.

Jakarta macet? Tak hanya Jakarta sebenarnya, kota-kota besar lainnya juga. Tinggal salahkan para perantau karena setiap selesai lebaran selalu membawa tambahan perut yang minta diisi, salahkan orang-orang kampung itu yang pada akhirnya membeli motor untuk meliuk-liuk di sela kemacetan sehingga cat mobil anda baret-baret, dan membuat acara “jalan-jalan cantik” anda di trotoar menjadi tidak nyaman. Mereka memang membahayakan orang lain, tak pantas dibela.

Saya tidak membuat pledoi mewakili para pemotor, sebaliknya, saya justru mau membantu si teman memilih jalan yang lebih mudah ditempuh: menyalahkan pemotor. Tak perlu setilahan mencari jalan memutar, bahwa kemacetan itu cuma riak kecil dari sirkulasi uang yang cuma deras di kota-kota besar. Tak perlu meributkan economic gap antara pusat dan daerah. Tak perlu mencari sebab kenapa orang-orang kampung itu gemar menambah sesak kota tercintanya yang sudah sesak ini.

Proses menuju pemahaman adalah jalan memutar yang jauh dan melelahkan, terjal dan berliku, asing dan tidak dianjurkan bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman. Apalagi harus memberi empati kepada orang lain. Baru memikirkan “kenapa bisa macet” saja sudah menguras energi, apalagi memikirkan solusi. Sudahlah, ambil jalan pintas saja. Lebih dekat, cepat, praktis, dan “bersahaja”. Sambil sesekali melempar sumpah-serapah. Kan enak to, menyalah-nyalahkan orang lain? Lebih gampang dan sudah lumrah.

Dan jangan sekali-sekali berpikir untuk turut serta ambil bagian sebagai solusi, itu adalah lelaku yang amat berat. Seperti perjalanan berat para nabi dan orang-orang suci di masa lalu, dia harus meninggalkan nikmatnya keduniawian dan memulai laku prihatin yang penuh penderitaan, beralih dari mobil pribadi yang nyaman menuju ke transportasi massal. Lebih baik jangan, ketimbang sok asketis, mendingan ambil yang instan sajalah, lagipula ini memang jamannya.

Tapi karena si teman sekarang ini masih pengguna mobil umum, saya doakan semoga bisa segera membeli mobil pribadi. Dengan semakin dibukanya impor mobil murah Low Cost Green Car (LCGC), rendahnya pajak kendaraan, dan kemudahan ambil kreditan di bank sekarang ini, sangat masuk akal bagi anggota kelas menengah melibatkan diri untuk berpartisipasi dalam pembangunan: membeli mobil dan meramaikan jalanan kota. Silakan diaminkan.

***

*)   ini adalah tulisan berseri bagian ketiga dengan judul yang sama yang pernah ditampilkan di blog penulis (bisa dilihat di sini http://trendingtopiq.wordpress.com/2014/09/21/macet-3/)