Kaki Langit, Secangkir Kopi, dan Gunung Nona

Mengabdi di sebuah instansi yang memiliki begitu banyak kantor perwakilan memiliki beberapa konsekuensi. Salah satunya yakni berada jauh dari keluarga dan berteman dengan sunyi. Dan saya, seorang pengabdi, harus menerima konsekuensi itu.

Sebagai pengabdi saya tidak bisa membenci sunyi–itu adalah teman. Kota tempat saya kali ini bertugas, Enrekang, bukan tempat sunyi pertama yang saya temui. Di kota seperti ini selalu ada banyak kenangan yang bisa kita tulis, kekerabatan dan kekeluargaan menjadi lebih kuat. Di tempat sunyi yang pertama (Majene, 2004) saya menemukan keluarga-keluarga baru, teman tertawa dan berbagi segala ketololan. Saya berterima kasih kepada mereka atas semua pelajaran yang saya peroleh (ah kita sudahi saja sedu sedan tentang kenangan).

Enrekang adalah sebuah wilayah yang “agak” tertinggal di Sulawesi Selatan. Anda akan sulit menemukannya di peta. Jangan tanya saya asal nama dan sejarahnya, saya kurang paham. Entah apa yang jadi jualan kota ini padahal dia dikelilingi oleh kabupaten dengan potensi yang luar biasa. Ada kabupaten Pinrang dan Sidrap yang menjadi lumbung beras Sulawesi Selatan. Ada Tana Toraja, kota wisata yang terkenal mendunia itu. Enrekang menjadi seperti “anak tiri” yang diciptakan Tuhan di Sulawesi Selatan.

Untuk mencapai Enrekang, memerlukan waktu sekitar 4-5 jam dari Makassar. Anda bisa pilih jalurnya melalui kabupaten Sidrap atau melalui kabupaten Pinrang. Memasuki kota Enrekang, Anda langsung dapat menyaksikan hamparan pegunungan terbesar di Sulawesi, Gunung Latimojong. Menurut wikipedia tinggi gunung ini sekitar 3.680 meter.

penampakan gunung latimojong, dari arah kosan saya

Enrekang adalah kota kaki langit yang sunyi. Saking sunyinya, hanya ada satu traffic light yang saya pikir hanya sebagai penanda bahwa ini wilayah kota. Lama pergantian waktu lampu merah ke hijau hanya 20 detik (benar kan, hanya pajangan semata). Bagaimana membunuh sepi di kota seperti ini?.

Kalau Anda orang religius, maka ini adalah tempat untuk menyaksikan bagaimana kebesaran Allah dan lebih dekat dengan alam. Kalau Anda ingin diet maka kota ini baik untuk olahraga (lari dan naik sepeda) serta mengurangi porsi makanan (susah cari makanan di sini). Nah bagaimana jika kemudian kita mulai bosan dengan semua rutinitas itu? Maka kota ini punya jawabannya: Bambapuang.

Bambapuang adalah sebuah daerah yang berjarah 30 menit dari kota Enrekang mengarah ke kabupaten Tana Toraja. Di sini Anda bisa menyaksikan bagaimana kaki langit-kaki langit itu begitu mempesona menjejalkan dirinya di bumi. Di lokasi ini ada beberapa tempat peristirahatan dan minum kopi. Di tempat-tempat tersebut Anda akan menikmati bagaimana bagaimana pemandangan Gunung Nona (bukan dalam arti kiasan!) begitu mempesona menemani Anda dan secangkir kopi.

(secangkir kopi dan gunung nona)
(secangkir kopi dan gunung nona)

Nah indah bukan? Tapi saran saya, jika Anda pendatang jangan lama-lama tugas di kota ini. Bahaya, terlalu banyak gunung nona (nah ini dalam arti kiasan) yang bisa membuat anda lupa pasangan anda.

Salam

@priyantarno