Dadu

Dadu

Aku telah salah duga. Kota ini tak segersang yang kusangka. Kukira, di kota ini, hujan jarang turun. Kukira, dalam seminggu, air jatuh dari langit tiga puluh menit saja sudah beruntung. Mendung kerap hanyalah harapan yang tiada membawa kepulan uap siap tumpah; ia sekadar menebar gerah,sekadar melukis kelabu di langit yang cerah.

Mungkin sebabnya adalah laut, yang persentuhannya dengan bibir daratan hanya selayang pandang. Di ujung lain terhampar bukit-bukit hijau tempat matahari terlelap. Jadi air laut naik ke langit, bergumul dalam bentuk titik-titik, dan melaju ke balik bukit. Di atas kota ini, kukira mendung hanya melenggang. Hanya lewat. Pada waktu yang tepat sajalah ia akan meleleh sebelum tiba di pintu rumah.

Namun penyebabnya bisa jadi karena aku tiba di kota ini pada bulan April. Astaga, kukira sudah lama rasanya sejak aku tinggal sendiri, mandiri, di rumah tempatku sembunyi. Nyatanya belum setengah tahun, dan kukira kau memaklumi bahwa belum ada seujung jari yang kutahu tentang perantauanku ini.

Faktanya, belakangan hujan turun sesuka hati. Tak perlu lagi prediksi bahwa seharian panas akan berbuah hujan di malam hari; hujan turun bahkan kala surya tengah terik-teriknya. Kadang dalam seminggu hujan turun tiga kali, kadang dalam tiga minggu hujan turun hanya sekali. Kadang tiga puluh detik, kadang tiga puluh menit.

Menebak langit bukan perkara mudah, dan jangan salahkan jika aku menganggap itu bukan sambutan yang ramah.

Karena sesungguhnya langit bukan satu-satunya yang harus aku jabat tangannya untuk berkenalan. Ada banyak hal lain yang dengannya harus kubangun pertemanan. Tentang kota ini, tentang sebagian takdir yang tidak pernah berhasil aku mengerti ujung-pangkalnya.

Dan ingat bahwa jika bukan karena dadu takdir yang masih terundi dalam sloki Langit, aku tidak akan sampai di sini. Tidak akan ada terbang untuk pertama kalinya, tidak akan ada pesan singkat dari orangtua setiap pagi dan senja.

Aku akan ikuti permainan ini, walaupun tanpa strategi, walaupun tak kuketahui siapa perancang plotnya: Langit, langit, atau ternyata aku sendiri.

Dan luar biasa aku bisa bertahan tanpa tersingkir. Sekarang Agustus, dan entah kapan peluit wasit akan berbunyi. Dan aku belum berteman erat, bahkan dengan tanjakan-turunan terjal menuju peraduan atau sepeda yang nampak lelah kukayuh melaluinya. Tidak juga dengan meja bersekat bertumpuk kertas, tidak juga dengan dominasi layar dan perangkat keras.

Aku selalu mencoba membangun semangat. Itu perlu waktu yang lama, walau kadang di detik terakhir aku buang hajat di pagi hari sebelum mandi dan berseragam ia tak kunjung kentara. Matahari selalu bangun dengan kantung mata bergelambir padahal semalam ia tidur nyenyak, pedal yang kukayuh masih terasa berat padahal rantainya sudah terikat di piringan paling ujung. Coba pikirkan bagaimana aku bisa tersenyum dan melenggang, “Selamat pagi!”, kepada tukang sapu yang sia-sia mengumpulkan dedaunan kering dari pohon-pohon di kota yang meranggas ini.

Coba pikirkan bagaimana aku mampu bertahan delapan belas jam selama lima hari dalam sepekan.

Karena dadu? Mungkin, tapi bukan.

Jawabannya sederhana: aku, pergaulan, dan benang-benang transparan yang terikat di antara keduanya. Karena mereka bilang ini bukan usia untuk mengeluh; ini usia untuk mengenal. Ini usia untuk saling sapa dalam reuni dengan orang-orang yang pernah seperguruan, agar kau bisa menjabat tangan mereka dan dengan bangga berkata bahwa belasan tahun sekolahmu itu ada gunanya.

Kupikir sebenci apapun aku dengan kota ini, dengan dadu (dengan Langit?), dan dengan senyum-palsu si tukang sapu, aku suka dengan betapa orang-orang mengukur aku dari terkaan mereka tentang akan jadi apa aku nantinya. Menarik betapa mereka mengukur manfaat darinya (karena bahkan akupun tidak), dan aku cinta betapa mereka tidak mengubah pikiran mereka tentang itu.

Dan memikirkan itu, kuyakin, tidak akan pernah setimpal dengan kekecewaan, penantian, penyamarataan, penundaan, kebimbangan, dan kehilangan yang pernah, sedang, atau akan kurasakan, yang seluruhnya kerap tertumpah dalam nonfiksi-tengah-malam yang terlanjur beredar tanpa banyak orang mendengar. (Dan bahwa yang kau baca ini fiksi, kuharap kau sadar). Aku tidak akan pernah lupa, aku tidak akan pernah berhenti ingat betapa aku membencinya, sehingga benci itu bertransformasi menjadi wujud cinta dunia untuk mengeruk sedalam-dalamnya apa yang ia miliki, dan meninggalkannya saat ia sadar bahwa aku ini berarti.

Bukankah menarik bagaimana seseorang bisa menukarkan cinta dan benci terhadap sesuatu (seseorang?) semudah menjentikkan jari?

Sementara, aku menghabiskan hariku terlelap dengan mata terbuka, melakukan hal-hal yang tidak-tahu-apa. Banyak orang berkata, mengapa perlu anjing bertaring tajam harus ikut bertingkah lemah seperti kerumunan domba yang ia gembala. Kukira jelas: (1) domba pun punya taring walau tidak sama tajam; (2) domba tidak akan menurut pada anjing yang pamer taring; (2) aku dan anjing sama-sama mamalia.

Kadang aku berpikir bagaimana orang-orang ini memulai rantauan mereka. Apakah mereka dulu merasa seperti ini, terikat pikiran akan ketidaknyamanan sampai rantai rutin mengekang mereka terlalu erat dan membiarkan taring itu tumpul sendiri. Jika ya, maka tinggal menunggu giliran kapan rantai itu mengikatku. Aku menunggu kapan butiran hujan menghantam kepalaku hingga tumpahan isinya ikut mengalir menuju laut.

Lebih baik lupa memiliki taring daripada tajamnya tidak bisa kugunakan untuk mencabik.

(Atau jangan-jangan aku ini domba?)

Ah, siapa peduli. Dadu masih bergulir, undian masih belum berhenti. Epilog kisah dari Langit belum selesai tertulis.

Hujan belum turun hari ini.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r