Perjalanan

Jalanan ini sudah kulalui entah seberapa jauh. Tujuanku tampak jelas di depan sana. Besar, besar sekali. Sayangnya ujung jalanan yang kulalui ini tak tampak. Samar sekali dibungkus kabut tebal. Nafasku kacau, terengah-engah. Aku memang agaknya sedikit mulai terbiasa mengimbangi langkah-langkah kakiku, tapi tetap saja bahwa apakah aku mampu mencapai tujuanku masih menjadi sebuah misteri besar.

Ah, tak apalah. Kalau lelah ya… tinggal istirahat toh?

Jalanan yang kulalui sekarang beralaskan rumput hijau, di atas tanah yang tak kering dan tak juga basah. Di tepi-tepinya banyak sekali banner-banner bertebaran. Banner-benar dengan penampakan yang benar-benar kreatif, buatan orang-orang yang tak kukenal tapi berhasil membuatku terkagum-kagum. Buah karya anak manusia yang membuatku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mempunyai ide untuk menciptakan ini? Benar-benar diluar ide, pikiran, dan kreatifitasku. Sungguh menginspirasi.

Agaknya aku mulai lelah. Tak ada bangku di dekat sini. Ah, peduli amat. Kuhempaskan saja tubuhku di tengah jalan ini sejenak. Toh sepertinya tidak akan ada sesuatu yang akan lewat. Bagaimana tidak. Jalanan ini hanya milikku sendiri.

Kurebahkan tubuhku, mengamati langit berwarna dengan awan-awan berpola aneh. Keren sekali.  Kutarik nafas dalam-dalam beberapa kali, memejamkan mata sejenak, menenangkan diri dan berharap bisa mengumpulkan energi sedikit demi sedikit. Lalu kualihkan posisi tubuhku menjadi duduk bersila, menyamping sehingga aku bisa melihat apa yang ada di belakang dan di depan sana. Kuputuskan untuk mengamati ke belakang, mengamati jalanan yang telah kutempuh.

Entah sudah separuh jalan atau tidak, tapi aku sudah cukup lama melalui jalanan ini, dan kurasa jarak yang kutempuh sudah tak bisa kudefinisikan sebagai “dekat”. Kuamati jejak-jejak langkah yang tersisa di belakang. Jejak-jejak yang menjadi tanda perjalananku selama ini, jejak-jejak yang menunjukkan seberapa banyak aku berubah, seberapa dalamnya, seberapa besar langkahnya, dan seberapa baik pijakannya. Setidaknya aku harus bisa melangkah lebih baik dari waktu ke waktu, meskipun harus mengambil beberapa langkah mundur. Mundur, untuk maju lebih jauh.

Hah…

Nafasku mulai pulih, tak lagi berat. Sekarang aku duduk menghadap ke depan, tapi kualihkan pandanganku ke samping, kiri dan kanan. Seorang kawanku sedang melakukan sprint di jalanan seberang, dia hanya menganggukkan kepalanya padaku yang kubalas dengan mengangkat tangan. Kawanku yang lain juga sedang berjalan pelan di jalurnya…

“Ayo lanjut, Bro!” Ia berseru sambil melempar botol minuman padaku.

Aku tersenyum, mengacungkan jempol padanya sebagai tanda terima kasih. Kuteguk minuman itu separuh, lalu bangkit dari dudukku.

“Ayo…”