Sayap Ibu

kids
Yayasan Sayap Ibu

I.
Menghabiskan waktu selama dua jam untuk bermain bersama anak-anak bukanlah waktu yang singkat. Namun bagi beberapa orang, waktu dua jam adalah bentuk kasih sayang yang bisa mereka curahkan bagi bayi dan balita yang tinggal di Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta. Baik di jam kunjung pagi maupun sore, sering saya menemui orang-orang yang secara sukarela menyempatkan waktu untuk sekadar menggendong, menyuapi, bermain kejar-kejaran, hingga mengganti popok para balita yang tinggal di yayasan ini.

II.
Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta berdiri pada tahun 2004. Jauh sebelumnya, pada tahun 1955 Yayasan Sayap Ibu lebih dulu hadir di DKI Jakarta, dan kemudian pada tahun 2005, Yayasan Sayap Ibu membuka cabang ketiga, yaitu di Provinsi Banten. Secara umum, Yayasan Sayap Ibu berperan sebagai “rumah” perlindungan dan perawatan bagi anak-anak di bawah usia lima tahun yang telantar atau memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat diberikan oleh orang tua maupun keluarganya, dan anak-anak yang lahir dengan disabilitas. YSI Yogyakarta selalu terbuka bagi mereka yang hendak berkunjung dan menimang bayi-bayi ini setiap harinya, pada pukul 10.00 – 12.00, lalu pukul 15.00 – 18.00, kecuali jika bayi-bayi ini sedang sakit.

Anak-anak penghuni Yayasan Sayap Ibu bukan hanya yang tidak memiliki atau ditelantarkan oleh orang tua, melainkan juga datang dari latar belakang keluarga yang membuat mereka hidup dalam trauma. Ada juga yang dititipkan ke yayasan karena orang tuanya terkendala masalah ekonomi. Bentuk asih-asuh yang diberikan oleh Yayasan Sayap Ibu pun tidak hanya berupa kebutuhan fisik harian. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan hukum juga menjadi fokus kerja pihak Yayasan untuk menjamin anak-anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik selayaknya anak-anak lainnya.

Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta memiliki dua fokus layanan sosial bagi anak-anak telantar melalui dua panti yang berbeda. Panti yang pertama berada di Jalan Rajawali, Pringwulung, yang menaungi anak-anak usia di bawah lima tahun yang dirawat sesuai dengan kebutuhan usianya. Sedangkan di Panti kedua yang berlokasi di Kalasan, anak-anak yang lahir dengan disabilitas dirawat sesuai dengan kebutuhan khusus yang mereka butuhkan. Meskipun begitu, ada beberapa bayi berkebutuhan khusus seperti Wisnu yang mempunyai deformasi pada struktur tulang kakinya, atau Septy yang mengalami gangguan pada salah satu telinganya yang dirawat di Pringwulung. Saya tidak bisa menampilkan foto anak-anak lucu di Pringwulung meskipun saya ingin sekali menunjukkannya kepada Anda karena memang tidak diperkenankan untuk mengambil foto anak-anak ini.

III.
Gerakan babycuddling atau mengunjungi bayi dan balita yang kurang beruntung di panti asuhan di sini memang masih dilakukan secara sporadis dan tidak diwadahi dalam suatu organisasi tertentu. Para babycuddler tidak mendapatkan pelatihan-pelatihan khusus dalam berinteraksi dan mengurus bayi sebelumnya. Kebanyakan pengunjung yang datang untuk babycuddling adalah mahasiswa dan beberapa pasangan suami-istri yang kadang membawa serta anaknya. Pada akhirnya, modalnya hanyalah intuisi dan pengalaman merawat anak/adik/keponakan sebelumnya.

Babycuddling, pada intinya, adalah bentuk empati kepada anak-anak yang kurang beruntung karena tidak bisa merasakan kasih sayang dari orang tuanya. Nitha mengungkapkan bagaimana babycuddling bisa memenuhi kebutuhan emosional mereka dengan lebih gamblang:

“Kenapa baby cuddling itu penting? Because early experience matters. Interaksi secara fisik dan emosional dengan bayi berusia 0-3 tahun akan membantu perkembangan otak dan tubuh sang bayi. Interaksi berupa sentuhan, suara, ekspresi wajah dan nyanyian akan berpengaruh positif pada perkembangan otak bayi, terutama dalam menangkap dan merespon rangsangan dari lingkungannya. Kontak mata juga akan menjadikan bayi memiliki emosi yang positif karena merasa diperhatikan dan dicintai. Saat kita menggendong, bayi akan belajar untuk merasa aman dengan lingkungannya. Di usia 0-3 tahun juga, bayi akan mulai banyak belajar untuk mengenali ekspresi dari sesamanya, sehingga interaksi dengan bayi akan membuat bayi belajar bereksplorasi dan terikat dengan lingkungannya. Semua interaksi positif tersebut juga akan menstimulasi otak bayi untuk memproduksi hormon-hormon yang diperlukan untuk pertumbuhan. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa interaksi yang dibangun di usia dini dapat mengurangi resiko penyimpangan dalam berperilaku sosial disaat anak tumbuh besar.”

Namun, hanya lantas karena empati – sesuai naturnya – adalah sesuatu yang altruistik dan bebas dari perhitungan untung rugi, maka Anda lantas tidak mendapatkan apa-apa darinya. Saya, misalnya, yang belum punya anak dan tidak punya adik kandung, belajar banyak tentang bagaimana merawat bayi dari sini; bagaimana susahnya mengganti popok, atau membujuk mereka agar mau makan, atau pegalnya punggung saat harus men-tetah bayi yang lagi senang-senangnya jalan ke sana kemari. Kelihatan trivial, memang, tapi bayi-bayi inilah yang “melatih” saya sebuah set kemampuan yang nantinya juga akan saya perlukan.

IV.
Selain kebutuhan psikologis yang dipenuhi lewat babycuddling, tentu saja adik-adik kita ini butuh susu, popok bayi, bedak, sabun, minyak telon, yang dicukupi lewat donasi baik berupa barang kebutuhan secara langsung, maupun berupa uang. Donasi juga diperlukan untuk biaya operasional panti dan untuk memberi apresiasi kepada para pengasuh yang stand by bagi mereka 24 jam sehari (percayalah, 3 jam mengasuh beberapa bayi sekaligus mungkin sudah cukup melelahkan bagi Anda dan saya). Untuk itulah, kami di Birokreasi memberi kesempatan supaya kalian bisa ikut berbagi cinta untuk adik-adik kita dengan cara membeli buku KudaBesi. Semua keuntungan yang diperoleh dari penjualan buku ini akan kami sumbangkan kepada mereka.

“Roti yang kau tahan adalah milik mereka yang lapar; pakaian yang kau simpan, milik mereka yang telanjang; dan uang yang kau timbun di bumi, adalah penebusan dan kebebasan bagi orang-orang yang miskin”, demikian kata Thomas Aquinas, dalam bukunya “Summa Theologica”. Itulah mengapa tulisan ini bukanlah artikel promosi, atau sebuah ajakan bertabur gula dan dengan ceri di atasnya tentang mengapa Anda harus mengeluarkan uang untuk membeli buku KudaBesi demi donasi.

Ini adalah panggilan bagi kita, untuk mencintai mereka. Ini adalah kita yang peduli dengan sesama dan bukan hanya bermodalkan like dan retweet semata.

Ini adalah tentang mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka.

Namun, jika Anda bisa beramal sambil mempunyai sebuah buku dongeng berisi cerita-cerita imajinatif nan beraneka rupa yang bisa Anda bacakan bagi anak atau adik Anda sendiri – dengan bonus boneka jari/tangan pula! – masihkah Anda akan berpikir dua kali?

***

  • eugenia rakhma

    terima kasih sudah berbagi cerita, izin share ya :)