Negeri di Ujung Samudra

Woman-in-Red-Cap-Deviant-Art

Mungkin semuanya tak akan pernah sama jika Mariam tak hadir di rumah kami. Sejak kecil, adalah Mariam yang lebih banyak mengurusiku dibanding Ibu. Membangunkanku di pagi hari, mencuci bajuku, membereskan kamarku, menyisir rambutku, mendandaniku sebelum ke sekolah, dan me-nina bobo-kanku kembali di kala malam menjelang.

Mariam, seorang perempuan paruh baya yang dipekerjakan Ibu di rumah kami khusus untuk merawatku. Kulitnya langsat, berbeda dengan kulitku yang pucat. Rambutnya legam, kontras dengan rambutku yang pirang. Tuturnya lembut bertolak belakang dengan mulut Ibu yang sering tak bisa dikontrol. Pada sayu matanya tergambar ketidakberdayaan, paradoks dengan bibirnya yang senantiasa tersenyum.

Mariam memang berbeda. Menurut ceritanya, ia berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh di ujung samudra. Diperlukan waktu yang lama dan melewati berbagai negeri lainnya sebelum sampai di rumah kami yang megah. Ketika aku bertanya mengapa dia bisa sampai ke negeri kami, Mariam hanya menjawab bahwa semuanya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Aku tidak mengerti siapa yang dimaksud Mariam sebagai Yang Maha Kuasa. Dari cerita-ceritanya kusimpulkan bahwa Yang Maha Kuasa itu adalah semacam raja di negeri Mariam yang menentukan apa dan bagaimana Mariam dan orang-orang di negerinya hidup.

Ketika aku menginjak remaja, Mariam yang semakin menua masih setia melayani keluarga kami. Selama itu, dia tak pernah sekalipun pulang ke negerinya. Belakangan aku mulai mengerti bahwa yang dulu disebut Mariam sebagai Yang Maha Kuasa adalah Tuhan yang dipercayainya.

Keluargaku, dan hampir semua orang di negeri ini, tidak mempercayai Tuhan. Bagi mereka Tuhan hanyalah cerita khayalan untuk menutupi ruangan yang berada di luar logika manusia. Tapi entah mengapa ada setitik sangsi akan kesangsian orang-orang di negeriku terhadap Tuhan. Mungkin pengaruh Mariam yang sejak kecil mengasuh dan mendongengiku bermacam-macam cerita yang memuat unsur ketuhanan.

Suatu hari, aku berkata kepada Mariam, “Mariam, bisakah aku bertemu dengan Tuhanmu?”

“Untuk apa?” kata Mariam.

“Aku hanya ingin mengucapkan beberapa hal”

“Ucapkanlah. Tuhanku akan mendengar setiap ucapanmu di manapun kau berada”

Dengan mata berbinar, akupun mengucapkan hal itu, “Wahai Tuhannya Mariam. Terima kasih sudah mendatangkan Mariam dari negeri yang jauh di ujung samudra, ke rumah kami yang selalu asing di setiap jengkal lantainya. Mariam menyejukkan masa kanakku dengan cerita-cerita menakjubkan tentangMu”

Mariam tersenyum mendengarku. Aku memeluknya erat ketika Ibu, dengan mata yang membara, mendobrak pintu kamarku dan menyeret Mariam ke dapur. Kudengar teriakan Ibu, “Apa yang sudah kau ajarkan pada Irina!”

“Tidak ada nyonya, tidak ada” jawab Mariam.

Aku ingin menolong Mariam tapi Karinna, salah satu pelayan di rumah kami yang merupakan kaki tangan Ibu, menahanku untuk tetap berada di kamar.

“Kurang ajar! Sudah berapa kali kuberitahu, hentikan dongenganmu tentang Tuhan! Itu hanya akan melemahkan mental anakku!”

Lalu terdengar bunyi “Buk! Buk! Buk!” yang diikuti gonggongan Rury, anjing Ibuku. Aku tahu, Ibu lagi-lagi menyiksa Mariam.

***

Aku berangkat ke sekolah pagi itu dengan was-was akan nasib Mariam di rumah. Aku semakin gelebah manakala pulang dan tidak menemui Mariam di manapun. Aku mencari Ibu hendak meminta penjelasan. Aku menemuinya di dapur sedang sibuk menggoreng sesuatu bersama Karinna ketika mulutnya langsung berkata, “Mariam sudah pulang ke negerinya. Ia mendapat panggilan batin oleh Yang Maha Kuasa yang dipercayainya itu”. Ibu tergelak, Karinna juga. Asap berbau aneh, menyengat. Keluar dari kuali penggorengan.

Perasaanku tidak tenang. Malamnya, kutarik Karinna masuk ke kamarku kala dia melintas di depan pintu. Perihal Mariam, dengan mudah Karinna membuka mulut.

“Tadi Ibumu kalap. Dia mencekik Mariam. Wanita itu langsung buang nyawa. Ibumu ganar. Dia mengambil kapak lalu memotong-motong tubuhnya. Potongan Mariam digorengnya untuk santapan Rury. Aku hanya membantunya. Kami baru saja menggoreng potongan terakhir ketika kau masuk ke dapur”

Ibuku, memang monster.

***

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Kuddus. Salah seorang yang dipekerjakan Ibu untuk meninggikan pagar rumah. Di kulitnya yang coklat, aku melihat pantulan Mariam.

“Rambutmu hitam, kulitmu coklat. Kau berasal darimana?” tanyaku.

“Dari sebuah negeri yang sangat jauh di ujung samudra” jawab Kuddus.

“Benarkah!?” mataku berpendar, “Kemarilah. Apakah kau tahu? Dulu ada seorang yang berasal dari negerimu yang tinggal di sini. Namanya Mariam”

“Mariam? Dari negeriku?”

“Mariam, dari negerimu”

“Di manakah ia sekarang?”

“Ibuku sudah membunuhnya, aku yakin meski tak ada bukti. Apakah kau mengenalnya?”

“Tidak. Banyak orang dari negeri kami yang pergi dan tak jelas nasibnya. Bukan hanya di negeri ini, tapi di banyak negeri lainnya”

Lelaki ini, aku melihat Yang Maha Kuasa di matanya yang hitam. Mulutnya yang lembut berbalut retorika membuatku terpikat dan semakin meyakini perkataan Mariam, Tuhan itu memang ada. Kuddus kemudian menambahkan satu konsep baru yang berharga mati, hanya ada satu Tuhan, dan itu adalah Tuhannya Kuddus, Tuhan yang diceritakan Mariam.

Kuddus, laki-laki suci dari negeri di ujung samudra yang tetap perjaka di usianya yang ke dua puluh lima, mengambil hatiku dengan cara yang tak terjelaskan. Dengan sukarela aku memasukkan Yang Maha Kuasa ke dalam bilik kepercayaan di jantung dadaku. Aku menikahinya meski Ibu menentang segenap tenaga. Kami lari ke negerinya dengan membawa sekotak emas dan berlian koleksi Ibu.

***

Negeri di ujung samudra. Awalnya kukira seperti dongeng yang jalanannya dipenuhi lelaki dan wanita rupawan, dengan baju kebesaran yang berwarna-warni. Jantungku lantas berdegup ketika melihat nenek berpakaian camping menengadahkan tangan di sudut jalan tanpa ada yang peduli. Anak-anak yang bebas bermain di trotoar dengan pakaian sobek tanpa alas kaki. Pun gubuk-gubuk yang nyaris roboh di pinggiran sungai.

Aku melihat ketidakpedulian tercecer di setiap butir tanahnya. Seperti melihat penumpang yang panik ingin menyelamatkan diri sendiri di atas kapal yang karam.

“Mengapa seperti ini? Apakah Yang Maha Kuasa tidak bertindak lebih pada orang-orang yang mempercayainya?” tanyaku pada Kuddus yang sudah menjadi suamiku.

“Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Lagipula ini dunia. Permainan yang tergelar di atas permadani makna dan tak berlangsung selamanya”

Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kuddus. Pantas saja Mariam lari ke negeriku. Dia tak melihat harapan di negerinya sendiri.

“Warisan” yang aku curi dari Ibu, kami gunakan untuk memulai hidup baru. Membeli rumah sederhana, dan memodali bisnis Kuddus. Tak butuh waktu lama, bisnis yang dikerjakan Kuddus sudah maju dengan pesat. Rumah yang sederhana berubah istana. Aku yang pernah pensiun sebagai orang kaya dalam kastel, kini kembali merasakannya. Bedanya, bukan lagi sebagai putri. Tapi sebagai nyonya besar penguasa puri. Kupekerjakan banyak orang untuk merawat istana kami. Salah satunya bernama Hasbi, laki-laki tua yang bertugas mengurusi kebun.

Satu yang aneh dari Hasbi adalah kegemarannya menyendiri. Gudang belakang yang disulapnya menjadi kamar pribadi, sama sekali terlarang bagi siapapun termasuk majikannya sendiri.

Suatu malam ketika Hasbi disuruh memijit Kuddus di kamar, dengan kunci serep kumasuki kamarnya yang terlarang. Alangkah terkejutnya kala kulihat lantai kamar itu ditutupi lembaran-lembaran dari kitab suci yang disusun layaknya tegel. Ini penghinaan berat terhadap Tuhan. Aku berlari dengan penuh amarah ke kamar atas tempat Hasbi memijit Kuddus. Kutarik kerah bajunya dengan kasar lalu kuhempaskan ia ke lantai.

“Apa yang kau lakukan terhadap lembaran kitab suci?!” Hasbi diam.

“Jawab! Kau menginjak-injak kalam Tuhan setiap hari! Di rumah ini! Tanpa sepengetahuan kami!”

Hasbi berdiri ke sisi jendela. Purnama berpendar di belakangnya membuat kaca jendela setinggi satu meter setengah, bersinar dengan dramatis.

“Aku menginjak-injak Tuhan karena Ia juga menginjak-injak istriku. Tak peduli seberapa pun kami meyakini dan menghormatiNya. Demi keluarga, dia merantau jauh ke negeri orang. Ia hilang dan dilupakan bukan hanya oleh manusia, tapi juga oleh dunia”

Aku kalap. Imanku tercederai. Kuterjang tubuh Hasbi yang sedikitpun tak melawan. Hasbi terhuyung ke belakang memecahkan kaca yang berpendar cahaya bulan. Tubuhnya oleng. Terjun bebas mencium pinggiran kolam renang. Hasbi mati malam itu dalam genangan air kolam yang memerah darah.

Panik, aku dan Kuddus berlari ke bawah. Membereskan mayat Hasbi dan menanamnya di kebun belakang yang tiap hari dirawatnya. Untuk menghilangkan jejak, kamarnya kami bereskan. Semua barangnya kami bakar.

“Jika ada yang tanya, bilang saja Hasbi pergi mencari istrinya dan membawa semua barangnya” Lagipula tak akan ada yang peduli atas hilangnya Hasbi” kataku pada Kuddus

“Jika polisi mencarinya bagaimana?”

“Tenang saja. Serahkan padaku. Lagipula dalam beberapa tahun orang-orang akan melupakannya. Perihal polisi bisa kita bereskan dengan uang. Mereka bisa melihat pendaran Tuhan di setiap lembar mata uang”

Di depan api berbahan bakar barang-barang Hasbi itu, mataku menangkap selembar foto. Sepasang laki-laki dan perempuan berbaju pengantin. Kuselamatkan foto itu dari api dan terperangah manakala kusadari foto tersebut adalah foto pernikahan Hasbi dan seorang perempuan yang tak asing. Kulit langsatnya, mata sayunya, mengingatkanku pada Mariam. Itu memang Mariam! Meski lebih muda beberapa puluh tahun, masih bisa kukenali guratan perjuangan hidup di permukaan wajahnya. Kakiku menggigil. Seketika aku getir.

Bukan hanya Ibu, ternyata aku juga monster.

Catatan:

Terinspirasi dari kisah Masyitah, dan berbagai kasus penyiksaan TKW di luar negeri