Seri Muslihat I: Kristal Aracruz

Judul : Kristal Aracruz
Penulis : Fauzi Atma
Tebal : 296 untuk versi cetak dan 385 halaman (versi e-book)
Genre : Fantasi
Penerbit : Imajinusa (melalui nulisbuku.com)
Tahun Terbit : 2011

2013-07-21 17.44.03

Sejak awal, saya sudah sangat tertarik pada cover buku ini. Tone  warnanya hampir seperti kebanyakan buku-buku fiksi terbitan Gramedia atau Ufuk. Hal yang membuat saya tertarik adalah liontin dengan naga yang melingkar di tengahnya. Sebagai salah satu keturunan pengendara naga, saya langsung tertarik dan tak sabar menunggu kedatangan naga di buku ini. Ditambah pula jika sudah selesai membaca, pasti kita bisa sangat mengerti mengapa di antara liontin itu juga dipasang dedaunan kering.

Seperempat pertama dari buku ini membuat saya urung melanjutkan untuk menyelesaikannya. Hampir sama dengan kebanyakan novel fiksi yang terlalu lebar menceritakan kehidupan awal sang pemeran utama. Saya awalnya tidak begitu tertarik dengan kehidupan Alnord. Kehidupannya yang menggembala Camelion, pertemanannya dengan Dardyl, bahkan hingga mereka memasuki hutan pun belum membuat saya tertarik. Sue me. But this kind of opening that make me stop to read some book.  Bahkan saya berhenti membaca Tunnels series yang digadang-gadang sebagai the next Harry Potter  pun karena openingnya yang menurut saya kurang nendang.  Buku ini hampir sama. Perlu waktu berbulan-bulan kemudian untuk saya melanjutkan lagi membaca buku ini. Prolog perjanjian Deimos dengan para Aorn pun kurang membuat saya penasaran. Namun jangan tanya ketika saya tahu apa yang ada di mata Alnord.

Buku ini bercerita tentang Alnord yang berusaha mencari jawaban dari mimpi-mimpinya yang terasa sangat nyata. Mimpi yang membawanya ke tengah Hutan Soulom. Hutan yang sangat ia ingin ia masuki. Namun kenyataannya, seluruh desa melarangnya pergi ke sana. Begitupun mimpinya yang terasa nyata, lengkap dengan ketakutan, kecemasaan, hingga dinginnya di tengah-tengah hutan yang dia akui itu adalah Hutan Soulom. Saat terbangun pun, rasa sakit yang dia rasakan karena menampar pipinya sendiri masih terasa jelas.

Penduduk desa yang tidak memercayainya, sahabatnya yang ikut meragukannya, dan neneknya yang hanya ingin menenangkan hatinya tidak membuat Alnord puas. Dia bertekad menemukan semua jawabannya sendiri. Keinginan ini yang membawanya ke petualangan yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya.

Mata dengan naga yang melingkar di pupilnya. Ya. Itu mata Alnord. Bukan spoiler,  kok. Tapi ini yang membuat saya tertarik, sama seperti Harry Potter dengan tanda petir di dahinya. Setelah kemudian saya menemukan ketertarikan di buku ini, saya merasa buku ini salah satu buku yang bisa sedikit memupus kerinduan saya akan novel-novel petualangan-fiksi macam ini.

Mimpi-mimpi Alnord yang terasa sangat nyata, arti dari mata naganya, pertarungannya dengan makhluk-makhluk dalam buku ini, hingga apa hubungannya dengan Kristal Aracruz membuat buku ini membawa saya ke Ablahar tanpa ingin kembali sebelum halaman terakhir ditutup.

Beberapa makhluk mistis yang terkesan baru di telinga saya menjadi salah satu daya tarik utama buku ini. Kita mungkin sudah tahu tentang naga. Tapi saya baru mendengar Aorn, si makhluk kabut; Camelion, si unggas besar yang menjadi tunggangan; hingga Wulfix, si anjing api.

Satu hal lagi yang membuat buku ini lebih menarik adalah susunan cerita dan kejadian dalam buku ini  yang ditampilkan Fauzi Atma dalam buku ini menggunakan teknik imajinasi visual yang membuat pembaca seakan memutar film dalam pikiran saat membaca. Bukan saja sembarang film, kecintaan penulis pada film dan cita-citanya menjadi penulis skenario, membuat scene-scene yang disajikan di novel ini tertata rapi. Cutting cerita pun terasa pas dan membuat kita tak sabar untuk membuka halaman selanjutnya dari buku ini.

Terakhir, untuk buku ini, saya tidak segan memberi 3,5 bintang dari 5 bintang. Kekecewaan saya akan opening buku ini terbayar saat saya melanjutkan buku ini hingga halaman terakhir. Ketegangan dan pertarungan yang disajikan dalam buku ini menampik kenyataan bahwa ini adalah buku pertama yang ditulis oleh Fauzi Atma. Salut.