Lima Buku yang Saya Baca di Tahun Ini

Jujur saja, sepanjang tahun 2013 ini saya tak begitu banyak membaca buku. Makanya, ketika kawan saya, sebutlah ia sebagai Gita Wiryawan, mengajak saya untuk membuat daftar pendek berisi lima judul buku terbaik yang saya baca di tahun ini, saya menjadi kelimpungan. Bukan saja karena sedikitnya judul buku yang berhasil saya selesaikan pada tahun ini, melainkan juga karena definisi “terbaik” di sini, yang kerap kali bias cum  penuh embel-embel frase “menurut saya”. Saya khawatir, jangan-jangan apa yang saya anggap terbaik, justru malah buku-buku yang dikategorikan kurang bagus, atau bahkan malah sama sekali tak layak terbit. Siapa yang tahu?

Akan tetapi saya memang tak pernah bisa menolak ajakan Gita. Ia adalah kawan yang baik, selain juga guru menulis yang menyenangkan. Tempo hari ia berulang tahun, dan saya tak sempat memberinya kado apa-apa selain sebuah ucapan selamat melalui sebuah pesan singkat. Padahal, waktu saya berulang tahun beberapa bulan silam, ia mau repot-repot mengirimi saya sebuah buku yang sudah lama saya cari-cari keberadaannya. Jika ikut menghitung hutang-hutang tulisan yang saya janjikan kepadanya belum kunjung terbayar, semakin menggunung saja rasa-rasanya dosa saya kepada Gita.

Syahdan, daftar pendek ini pun saya bikin. Selain sebagai sebuah tulisan penutup tahun, tulisan ini juga hendak saya maksudkan sebagai hadiah kecil buat Gita, yang kemarin waktu berulang tahun. Hitung-hitung sebagai sedikit penebus dosa, juga hutang-hutang tulisan yang tak sempat saya lunasi bahkan hingga tahun kadung berganti. Yah, walaupun sangat terlambat, semoga di sela-sela kesibukannya berkampanye di lini masa, juga kejenuhannya bersemuka dengan kertas kuning bertajuk LPAD, Gita masih mau meluangkan beberapa menit dari kehidupannya untuk sekedar membaca tulisan ini dan memberikan amnestinya buat saya.

Baiklah, tanpa perlu berlama-lama lagi, inilah lima judul buku, yang terbaik menurut saya, yang saya baca di sepanjang tahun 2013 ini.

1. Amba: Sebuah Novel
Amba adalah salah satu alasan kenapa saya tak banyak menamatkan judul buku di sepanjang tahun 2013 ini. Bagaimana tidak, buku ini baru bisa saya selesaikan dalam kurun waktu (kurang lebih) enam bulan sejak sampulnya dibuka pada Oktober 2012 silam. Iya, butuh waktu sedemikian lama bagi saya untuk menamatkan buku ini. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasan kenapa saya bisa berkutat pada satu judul buku saja selama hampir setengah tahun. Tetapi jika ditanya alasan yang paling hakiki di balik hal tersebut, musababnya adalah karena menurut saya, Amba terlalu bagus dan sangat sayang untuk ditamatkan lekas-lekas. Saya enggan cepat-cepat sampai di halaman terakhirnya.

Harus diakui, fondasi cerita Amba sebetulnya biasa-biasa saja. Latar waktunya yang mengambil seting pada masa 1965, juga sesuatu yang bisa dikatakan mainstream dalam dunia sastra Indonesia. Tetapi di luar itu semua, Amba punya magis yang luar biasa menjerat sebagai sebuah prosa. Ia telah berhasil menyihir saya, bahkan sedari mulai kalimat pembukanya. Laksmi Pamuntjak, lewat diksi dan metaforanya yang manis dan adiwarna, harus diakui telah berhasil memugar fondasi Amba yang biasa-biasa saja itu, menjadi sebuah bangunan yang adiluhung indah, pun memikat. Idenya untuk membenturkan kisah Amba-Bhisma-Salwa dalam epos Mahabharata ke dalam benang merah jalan cerita, juga menurut saya adalah sesuatu yang cemerlang.

Sebagai seorang pembaca yang menggemari permainan kata, saya menikmati betul setiap detik yang saya habiskan ketika membaca kata demi kata pada tiap halaman Amba. Makanya, saya tak begitu ambil pusing jika di kemudian hari (atau malah sudah?) ada yang mengatakan Amba adalah buku yang tak layak terbit. Begitu juga perihal kegagalannya memenangi Khatulistiwa Literary Award tempo hari. Saya sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Sebab bagi saya, Amba telah meninggalkan kesan mendalam, dengan sebaik-baiknya, dengan sehebat-hebatnya.

2. Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Di antara 5 besar finalis Khatulistiwa Literary Award 2013 kemarin, kebetulan empat di antaranya sudah berhasil saya amankan di rak buku saya. Hanya saja, dari keempat judul tersebut, hanya dua judul saja yang sempat saya baca hingga selesai. Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya adalah salah satu di antaranya. Selain Amba, tentu saja.

Saat pertama kali membeli buku ini, saya kira saya hanya bakal menemukan berlembar-lembar surat yang penuh dengan melankoli, kerinduan yang membuncah, juga harapan-harapan yang selalu kandas, bertepuk sebelah tangan. Beruntung, saya ternyata salah. Dewi Kharisma Michellia ternyata bukan sekedar menyusun kumpulan korespondensi tentang cinta yang sendu dan remeh temeh. Surat-surat yang dikirim oleh Nona Alien kepada Tuan Alien, pada kenyataannya memang bukan sekedar media penghantar rasa rindu, atau cinta yang terpendam. Ia lebih menyerupai sebuah memoar, juga solikui tentang perjalanan kehidupan.

Dalam ketiga puluh tujuh suratnya, Nona Alien memang tidak melulu bertutur soal perasaannya kepada Tuan Alien. Pada setiap suratnya, selalu ada poin-poin menarik yang coba disampaikan. Seperti menyoal kerusuhan tahun 1998, atau mengilik-ilik ranah LGBT, kala Nona Alien mulai menceritakan soal Tuan Penjaga Toko Buku. Memang, pada beberapa kesempatan, surat-surat Nona Alien akan terasa kurang fokus karena kerap melebar ke pelbagai tema. Tapi Dewi Kharisma Michellia adalah penulis yang cerdas. Ia selalu tahu bagaimana cara untuk pulang, dan memungkasi surat-surat Nona Alien dengan cara yang memikat. Begitu juga dengan caranya menutup novel ini lewat sebuah akhir yang, katakanlah, nggerus.

 3. Baju Bulan

Saya selalu menyukai sajak-sajak milik Joko Pinurbo. Membaca sajak-sajak Joko Pinurbo ibarat menikmati sebuah perjalanan kehidupan yang penuh dengan pasang surut. Sekali waktu sajaknya membikin kita berkerut kening, perlambang sebuah kemurungan. Tetapi di lain kesempatan, kita bisa silih berganti dibuatnya terharu, senang, merenung, cekikikan, atau bahkan terseret ke dalam sebuah kotak hampa yang sunyi dan sepi. Tidak jarang, rangkaian macam-macam emosi tadi tumpah secara bersamaan.

Jokpin, sapaan akrabnya, memang selalu berhasil membuat sajak-sajak yang kelihatannya ringan dan sepele, tetapi sebetulnya menyimpan banyak makna yang sama sekali tak bisa dibilang dangkal. Baju Bulan menghadirkan itu semua pada 60 puisi pilihan yang ada di dalamnya. Dalam buku ini, Joko Pinurbo masih  konsisten berpuisi dengan gaya kepenyairannya yang nyentrik itu: tak melulu bermain-main dengan metafora, juga kata-kata melankolia. Sebaliknya, pilihan kata-kata yang dipakai Jokpin justru adalah kata-kata yang sederhana dan tak terasa liyan ketika dibaca. Hal ini membuat sajak-sajak Joko Pinurbo bisa terasa begitu dekat dengan kita, tanpa sedikitpun kehilangan esensi dan kesubtilan sebuah puisi.

Melalui buku ini saya kembali melihat bagaimana kepiawaian seorang Joko Pinurbo, yang seolah hendak menegaskan, bahwa sebuah puisi tetaplah bisa dinikmati sebagai ibadah yang kudus dan sakral, dengan atau tanpa memakai sebuah “celana”. Dan kadang-kadang, justru yang demikian itu malah berhasil membuat kita merasa lebih khusyu’ dalam menunaikannya.

4. Traffic Blues: Saat Hujan Masih Deras dan Jalanan Mulai Tergenang

Tadinya, saya hendak memasukkan Titik Nol-nya Agustinus Wibowo sebagai pengisi daftar nomor empat dalam tulisan ini. Tetapi berhubung Gita sudah memasukkan buku tersebut di dalam daftar buatannya, saya memutuskan untuk menggantinya dengan Traffic Blues. Bukannya apa-apa, semua hal yang mau saya tulis soal buku itu sudah dirangkum semua oleh Gita pada tulisannya. Bahkan dengan wujud yang lebih bernas.

Traffic Blues sendiri, adalah sebuah antologi bikinan salah satu penulis favorit saya, Zen Rahmat Sugito. Buku ini sejatinya hanya dimaksudkan sebagai suvenir dan juga mas kawin pada pernikahan Zen, yang dilangsungkan pada September 2011 silam. Saya sendiri, berhubung tidak datang ke acara kawinannya, cuma bisa membaca versi e-booknya saja (terpujilah siapapun anda yang telah menggunggahnya ke dunia maya). Belakangan, saya baru mengetahui kalau buku ini masih memiliki sisa beberapa eksemplar, namun sayangnya hanya dibagikan ke kalangan terbatas saja.

Sebagai sebuah buku yang hendak dimaksudkan untuk suvenir perkawinan, Traffic Blues sungguh keterlaluan bagusnya. Sebelas cerita pendek yang ada di dalamnya adalah karya-karya sastra yang menyenangkan untuk dinikmati. Kisah-kisahnya solid, reflektif, namun juga jenaka berkat selipan-selipan sarkasme dan narasi-narasi yang komikal. Dari mulai Badai Bersin yang Membawa Kutukan sebagai cerita pembuka, sampai dengan Hari Paling Galau Dalam Sejarah yang ada di bagian paling akhir bukunya, Traffic Blues akan mengajak kita bertamasya sejenak, menikmati pelbagai macam kemacetan yang berkelindan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian menyadari satu hal, bahwa dunia ini memang tak lebih daripada serangkaian kemacetan belaka. Jika semua lancar-lancar saja, lantas apa menarikanya dunia dan hidup ini? 

5. Kastana Taklukkan Jakarta

Di antara sekian buku yang saya baca, saya tak tahu kenapa saya justru memilih memasukkan buku Soleh Solihun ini ke dalam list terbaik. Dalam soal olah bahasa, juga pilihan kata-kata, buku ini betul-betul jauh dari kata baik, apalagi bagus. Dalam cetakannya, masih sering ditemui kesalahan penulisan, atau kalimat-kalimat yang berceruk. Mungkin editornya ingin mempertahankan gaya menulis milik Soleh Solihun yang khas itu, agar tetap sebagaimana mestinya. Saya tak pernah tahu. Kita tak pernah tahu.

Tetapi lepas daripada itu semua, Kastana Taklukkan Jakarta adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Gaya bertuturnya ringan dan jujur. Bahkan cenderung blak-blakan dan ceplas-ceplos. Insight-nya soal dunia jurnalistik, tingkah polah narasumber ketika diwawancara, pun peristiwa di balik layar yang terjadi dalam setiap peliputan berita, adalah sesuatu yang tak akan kita temui dengan mudah dari buku-buku teori jurnalistik manapun. Hal inilah yang sebetulnya membikin buku ini terasa fun dan cukup berkesan ketika selesai dibaca.

Buku ini, dengan gaya bertuturnya yang apa adanya tersebut, juga telah berhasil menyadarkan saya bahwa dalam kehidupan ini kita kadang terlalu sibuk berpura-pura, memulas diri, atau berdandan secara berlebihan demi orang lain. Kita kerap melupakan, bahwa dengan menjadi diri kita sendiri, hidup sebetulnya bisa terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Dan bukankah memang hal seperti itu yang sebetulnya kita semua inginkan?