5 Film Tahun 2013

Syahdan, ketika kontributor Birokreasi, Galih Rakasiwi dan Gita Wiryawan menulis 5 buku terbaik tahun 2013, saya jadi tertarik untuk ikut-ikutan menulis. Sayang sekali, saya tidak banyak membaca buku terbitan tahun 2013 (buku yang saya beli tahun lalu kebanyakan merupakan buku-buku fiksi terbitan lama). Karena saya lumayan update  masalah perfilman, saya menulis daftar lima film tahun 2013 ini saja sebagai gantinya.

Pertama-tama, izinkan saya mengaku bahwa mayoritas film yang saya tonton saya dapatkan dari internet. Apa lacur, franchise  bioskop yang tersedia di dekat sini lebih memilih untuk memutar film-film dengan pilihan terbatas; apakah film horor kelas B yang murahan, atau film-film pop corn  yang populer.

Kedua, saya lumayan sedih karena telah melewatkan dua festival film dalam negeri yaitu JIFFest (Jakarta International Film Festival) dan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) yang banyak memutar film indie  besutan sutradara-sutradara berbakat Indonesia. Dari yang saya baca di internet dan juga cerita dari Margaretha Nitha yang sempat datang di JAFF, film-film indie  Indonesia tahun 2013 didominasi oleh film avant-garde  1) seperti Toilet Blues, Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya,  juga Rocket Rain.  Alhasil, saya tidak bisa memasukkan film-film tersebut dalam daftar ini, karena selain belum menontonnya, tidak terdapat tautan ilegal untuk menontonnya. (Mohon jangan meniru kelakuan saya ini!)

Ketiga, membikin daftar mengenai apa yang ‘bagus’ dan ‘berpengaruh’ tentu saja adalah hal subjektif dan arbitrer, karena tidak ada metrik yang matematis dan absolut untuk mengukurnya. Jadi, silakan tulis kritik Anda di dalam komentar di bawah tulisan ini.

Keempat, jumlah lima biji tentu saja adalah jumlah yang teramat kecil. Maka, harap maklum jika daftar ini tidaklah komprehensif dalam mengakomodasi banyaknya film yang dibuat tahun lalu. Dengan begitu bervariasinya film tahun lalu maka saya akan menulis daftar ini berdasarkan kategori dengan  memberikan honorable mention  sekiranya ada. Kategorinya, sudah tentu sesuka saya.

1. Dokumenter: Jagal/The Act of Killing

The_Act_of_Killing_(2012_film)

Diproduseri oleh Werner Herzog dan disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, film dokumenter yang dibintangi langsung oleh pelaku pembantaian PKI tahun 1965, Anwar Congo ini menceritakan tentang reka ulang peristiwa berdarah itu lewat kacamata sang algojo. Oppenheimer menggunakan kisah tentang pembuatan film sebagai sentral narasinya, mirip dengan film Argo.  Sejarah tentang pembantaian PKI dan etnis Cina Medan, lahirnya organisasi sayap kanan Pemuda Pancasila, bahkan hal yang kelihatannya remeh-temeh seperti kesukaan Congo terhadap film-film gangster  semua bercampur jadi satu sebagai tamparan terhadap kemanusiaan kita dan juga kotornya tangan Pemerintah (dan Amerika Serikat) oleh darah dalam bagian sejarah bangsa Indonesia ini.

Dengan bebalnya Pemerintah untuk menulis ulang buku pelajaran sejarah, meminta maaf secara terbuka atas genosida terang-terangan yang mereka lakukan jaman dulu, mengadakan sebuah truth and reconciliation commission  dan rehabilitasi untuk para korban 1965 yang masih hidup beserta keluarganya, juga paranoia yang bandel nan berlebihan terhadap PKI dan komunisme, maka film ini sedikit banyak menjadi antitesis bagi Pemerintah. Begitu paranoidnya sampai mulanya pemutaran film ini di Indonesia dilakukan secara sembunyi-sembunyi (sekarang bisa diunduh gratis secara legal di sini). Film ini telah memancing banyak esai tentang PKI dan banality of evil  a la Hannah Arendt serta reaksi dari para kritikus film; memujinya sebagai film terbaik tahun lalu dan juga kandidat kuat peraih Oscar. Meskipun begitu, bagi saya, film ini bukanlah propaganda agar Anda menjadi lebih kiri. Ini adalah murni dokumentasi tentang tahun-tahun terkelam bangsa Indonesia. Bagi Anda yang berekspektasi untuk melihat film yang lebih revolusioner, mungkin Elysium dan The Hunger Games: Catching Fire  lebih cocok untuk Anda.

Honorable mention:  tidak ada. Dokumenter yang saya tonton kebanyakan adalah dokumenter Vice. Maaf.

2. Pop corn movie/blockbuster:  Pacific Rim

Pacific_Rim_FilmPoster

Michael Bay dan Guillermo del Toro. Transformers  dan Patlabor, Gundam, Evangelion, dkk. Yang satu mengawinkan ledakan, nuansa militerisme, dan arketipe ‘it girl’; yang satunya lagi mengawinkan monster raksasa (ala Godzilla  dan Cloverfield), seni bela diri robot (ala Real Steel), dan seorang pahlawan yang tidak melulu didominasi kaum pria. Adalah mudah untuk memilih mana yang lebih baik, meskipun ada beberapa hal yang kurang pas menurut saya. Di tengah film-film adaptasi komik Marvel yang tidak maksimal, dan adaptasi Superman yang terlalu angsty  (salahkan Christopher Nolan untuk ini), Pacific Rim  menjelma sebagai film mecha  yang memuaskan bagi para geek  yang sudah dewasa maupun juga anak-anak.

Honorable mention: Hobbit: Desolation of Smaug.  Peter Jackson memunculkan karakter wanita bernama Tauriel yang tidak ada di buku karangan Tolkien. Dengan interpretasi Jackson yang ‘melenceng’ ini, maka tergantung apakah Anda seorang Tolkien purist  atau seorang feminis, film ini bisa menjadi bagus atau tidak di mata Anda. Saya sendiri cukup puas melihatnya, meskipun film ini tidak sekuat trilogi pendahulunya. Untuk film-film Marvel, coba lagi tahun ini.

3. Sains fiksi: Gravity

Gravity_Poster

Bukankah Pacific Rim adalah film sains fiksi? Benar. Akan tetapi, saya membedakan kategori ini dengan kategori pop corn sebelumnya berdasarkan apakah filmnya diadaptasi dari sebuah pop culture  yang terkenal atau tidak.

Gravity adalah film yang cantik, estetis, dan meskipun secara narasi terbatas, ia adalah pengalaman visual yang mencengangkan. Menceritakan tentang dua astronot yang mencoba bertahan hidup setelah pesawatnya hancur, Anda akan disuguhi panorama bumi dan luar angkasa yang benar-benar indah. Kombinasi CGI dan long take  yang dipakai Alfonso Cuaron membawa film ini menjadi film terbaik tahun 2013 versi beberapa kritikus film, dan saya setuju dengan mereka.

Silakan juga lihat film pendek “Aningaaq” yang ada hubungannya dengan film ini. Aningaaq  pun bahkan sama-sama subtilnya.

Honorable mentions: Elysium,  film distopian dengan kritik sosial di dalamnya. Juga mungkin Ender’s Game.

4. Horor/thriller: Prisoners

Prisoners2013Poster

Film ini cenderung diremehkan atau dipandang sebelah mata oleh para kritikus film, tetapi saya memasukkannya sebagai film terbaik dalam genrenya di tahun 2013. Kekerasan adalah gejala mondial, dan David Villeneuve membawa diskusi tentang kekerasan dengan jalan yang berbeda dari Zero Dark Thirty.  Alih-alih membuat demonisasi terhadap pemerintahan Amerika Serikat dengan segala tetek-bengek tentang war on terror, Prisoners  menunjukkan kekerasan sebagai fenomena personal berserta dilema moral yang mengikutinya. Jake Gyllenhaal mengulangi performanya dalam Zodiac  sebagai seorang penyelidik yang obsesif dengan apik. Akan tetapi, berbeda dengan David Fincher dalam Zodiac,  Villeneuve tahu bagaimana caranya membuat thriller  yang berjalan pelan tanpa menjadikannya terlalu membosankan.

Honorable mentions:  untuk penggemar gore  Anda bisa melihat V/H/S 2. Bagian “Safe Haven” garapan sutradara Indonesia Timo Tjahjanto memiliki premis yang menarik. Untuk horor biasa, The Conjuring.  James Wan mengubah paradigma tentang film horor yang biasanya menekankan pada ketakutan visual, menjadi sesuatu yang komplit baik secara audio maupun visual. Penggunaan efek musik secara perlahan-lahan untuk membangun rasa takut dan dengan jump scare  sebagai gongnya sungguh efektif untuk menakuti penonton. Selain itu, Quentin Tarantino juga mengamini hal ini.

5. Drama: Upstream Color

Upstream_Color_poster

Apakah film ini memiliki plot? Ya. Apakah saya hipster  karena memilih film ini? Terserah Anda.

Banyak yang mengira kalau film ini tidak memiliki plot cerita. Hal ini bisa dimengerti karena penggunaan jump cuts  Godardian secara ekstensif oleh Shane Carruth. Akan tetapi, jika Anda menontonnya dua-tiga kali, Anda akan kurang lebih mengerti jalan ceritanya. Film ini bercerita tentang dua orang yang terinfeksi parasit yang membuat mereka gampang dikendalikan pikirannya oleh orang lain lewat suara infrasonik. Mereka melihat hidup mereka hancur di depan mata mereka tanpa pernah benar-benar memiliki kendali atasnya; tanpa pernah mereka sadari sepenuhnya. Lalu, bersama-sama, mereka menyelidiki siapa dan apa yang menyebabkan mereka seperti ini.

Film ini mengingatkan saya kepada The Tree of Life-nya Terrence Malick. Dengan auteur  yang kurang lebih sama dengan Malick, Carruth membuat karya yang impresionis, yang intim, yang subtil dan tidak mudah dipahami. Upstream Color adalah film yang bahkan terlebih-lebih menekankan pengalaman visual-estetik dibandingkan Gravity. Walaupun memiliki premis yang condong ke arah sains fiksi – sebagian Invasion of the Body Snatchers,  sebagian mirip proyek MKULTRA – film ini jauh lebih melodramatik untuk dikatakan sebagai film sains fiksi. Bisa dibilang, sama melodramatiknya dengan Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

Honorable mentions:  film tentang perbudakan 12 Years a Slave,  sebuah Django Unchained  versi non-brutal. Blue Is the Warmest Color, sebuah film coming-of-age yang tidak melulu heteronormatif, sesuatu yang saya tunggu-tunggu sejak terakhir kali menonton Boys Don’t Cry  di RCTI semasa masih bocah. Ada juga Blue Jasmine,  film drama komedi garapan Woody Allen. Lalu juga Before Midnight,  seri terbaru dari Before Sunrise – Before Sunset. Lalu, The Bling Ring,  film besutan Sofia Coppola tentang Robin Hood masa kini yang khusus mencuri dari artis-artis Hollywood. Ya, Robin Hood, jika saja Robin Hood itu lebih hedonis dan diperankan oleh Emma Watson dan Taissa Farmiga. Khusus untuk Anda yang ingin sedikit jadi hipster,  cobalah melihat film surreal L’Ecume des jours  atau film arthouse Post Tenebras Lux.

Demikian daftar 5 film tahun 2013 dari saya. Tabik!

***

Addendum:

Ada beberapa film yang ingin saya tonton namun belum, yang kemungkinan jika sudah saya tonton akan membuat daftar 5 film tahun 2013 jadi berbeda dari ini. Film-film tersebut adalah:
*) Her, drama sains fiksi besutan Spike Jonze. Tentang seorang penulis yang jatuh cinta dengan software komputer.
*) Inside Llwelyn Davis, drama komedi dari Coen brothers. Tentang perjalanan hidup seorang musisi.
*) The Spectacular Now, film drama coming-of-age dari James Ponsoldt.
*) film-film indie dalam negeri yang saya sebutkan di atas.


Post-scriptum:

1) Saya lebih suka menggolongkannya dalam terma bikinan saya sendiri: meandering cinema. Meandering cinema adalah film yang kekuatan ceritanya dibangun lewat dialog tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam sebuah perjalanan (baik tujuannya jelas, maupun tidak). Berbeda dengan travelogue,  perjalanan itu sendiri hanyalah sebuah MacGuffin yang tidak terlalu penting. Hasil akhirnya adalah sebuah film yang kontemplatif ataupun reflektif meskipun dilihat sekilas dari luar terkesan banal dan tidak penting. Contohnya adalah Weekend (karya Jean-Luc Godard), Gerry (karya Gus Van Sant), Fear and Loathing in Las Vegas (karya Terry Gilliam), dan Before Sunrise (karya Richard Linklater).

Semua poster film di tulisan ini diambil dari Wikipedia.