2013 : Sebuah Rangkuman

Rasa-rasanya baru tempo hari kami membikin sebuah grup di salah satu aplikasi online chatting untuk berunding memperbincangkan rencana pembuatan sebuah wadah berkreasi—khususnya di bidang tulis-menulis—bagi kalangan birokrat. “Project Blablablah”, begitu kami serampangan menamai grup waktu itu karena memang kami belum membuat kesepakatan mengenai nama. Jarak yang terpaut di antara kami lah yang ‘terpaksa’ melantari dibuatnya grup itu. Barangkali jika bukan bilangan puluhan bahkan ratusan dalam satuan kilometer yang memisahkan, kami bakal lebih memilih untuk bertatap muka merundingkannya meskipun masing-masing dari kami belum begitu akrab satu sama lain. Apa boleh buat. Toh, internet sebagai buah pikir manusia paling ciamik di abad ke-20 telah mampu merangkum jarak yang sedemikian rupa sehingga menjadi subtil dan tak kentara.

Tapi siapa sangka, itu adalah kejadian setahun lalu. Tepatnya di hari keempat bulan Januari, ketika impian dan harapan masih meletup-letup seperti petasan dan kembang api di malam perayaan Tahun Baru. Sejak hari itu, kami menjadi sering mencuri-curi waktu di sela himpitan rutinitas kerja dalam kubikel kantor, untuk mematangkan rembug.

Pertama-tama adalah nama. Kali ini kami sepakat menutup telinga dan membungkam mulut bermadu William Shakespeare yang hendak berujar, “What is in a name?”. Bagi kami, nama adalah identitas. Lebih dalam lagi, nama adalah doa dan pengharapan, yang kalau kami tak salah ingat, ada sebuah penggalan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi berbunyi, “…Maka baguskanlah nama-nama kalian”. Oleh karena itu, wajar bila tak cukup dengan hanya satu atau dua hari kami memikirkannya.

Hingga akhirnya pada tanggal 10 Januari 2013, sepakatlah kami menggunakan nama Birokreasi—manifesto dari birokrat yang berkreasi—sebagai identitas kami. Filosofinya sederhana, kami ingin pelan-pelan mengikis stigma yang telah lama lekat dan mengakar pada benak khalayak ramai bahwa birokrat hanyalah koloni manusia yang kaku dan tumpul kreativitas. Hanya sehari setelahnya, sebagai sebuah awal mula, akun @birokreasi menetas dari cangkangnya, lalu mencoba bertengger dan sesekali berceloteh di atas dahan-dahan pohon di dunia kicau. Dan dari sana, kami mulai coba memperkenalkan diri.

Tidak berselang lama, akhir Januari, kami membikin sebuah mukadimah berupa event tulis-menulis ala kadarnya yang kami namai #7harimenulis. Kami bilang ala kadarnya karena memang kalau boleh jujur, sebenarnya #7harimenulis kami niatkan semata hanya sebagai hajatan internal kami selaku para admin. Sekadar ajang ‘pemanasan’ saja, niat kami waktu itu.

Akan tetapi ketika ide itu kami suarakan melalui akun twitter, ternyata mendapat respon dan antusiasme yang begitu luar biasa dari banyak pihak, baik dari sesama kalangan birokrat maupun yang bukan. Syahdan, 7 hari berturut-turut, mulai dari tanggal 31 Januari hingga 6 Februari, kami yang jumlahnya tak seberapa ini kepayahan menjalani tiga peran sekaligus: menjadi pegawai instansi pemerintah yang harus bekerja dari pagi hingga sore menjelang petang, menjadi admin yang mengarsipkan lalu membagi link tulisan dari para partisipan yang masuk setiap harinya, serta turut meramaikan event sebagai partisipan itu sendiri.

Cukup melelahkan, memang. Namun justru berkat event ini lah, kami merasa seperti disuntik dopamin sehingga menjadi semakin bersemangat untuk merealisasikan terciptanya wadah yang muat dan layak, guna menampung tuangan-tuangan kreasi dari para birokrat.

Pada tanggal 11 Maretberkat kerja sama, dukungan, dan bantuan dari beberapa pihakkami bisa me-launching  birokreasi.com lengkap dengan logo sebagai identitas, tagline  “menulis di sela kerja”, serta segmentasi dalam tiga kanalnya yang memiliki spesifikasi masing-masing seperti saat ini: Dari Belakang Meja (Notulen dan Surat Edaran), Nonsastra (Esai, Perjalanan Dinas, dan Pesiar), dan Sastra (Cerpen, Sajak, Saujana, dan Resensi). Hari-hari berikutnya kami jalani dengan mengisi web dengan tulisan demi tulisan dari para kontributor, yang perlahan-lahan beranak-pinak hingga sekarang.

Jangan dikira jalan yang kami lalui lempeng-lempeng saja. Lika-liku dan kerikil tajam itu ada. Bahkan sesekali kami menemui batu sandungan. Salah satunya adalah yang kami alami pada pertengahan Agustus lalu. Ketika itu birokreasi.com mengalami deface. Kejadian ini sempat membuat kami lintang pukang. Pemulihan dan beberapa perbaikan dari segi keamanan kami lakukan setelah kurang lebih satu minggu web lumpuh dan tidak bisa dibuka. Beruntungnya, seluruh konten masih bisa diselamatkan dan web birokreasi.com bisa kembali melakoni apa yang telah menjadi khittah-nya.

Lebih dari setengah tahun dilalui, kami tak mau terlalu sibuk dengan diri kami sendiri. Sebagai sebuah entitas, kami sadar bahwa kami juga memiliki tanggung jawab moral yang harus diemban, meskipun tak seberapa. Kali ini dunia anak yang menjadi fokus utama kami melalui sebuah, katakanlah, sayembara menulis antologi dongeng dan fantasi anak bertajuk Kuda Besi: Kumpulan Dongeng dan Fantasi Anak bersama Birokreasi.

Ada dua alasan utama yang menjadi musabab digagasnya event ini. Pertama, sebatas pengetahuan kami (semoga kami salah dalam hal in) buku-buku dongeng dan fantasi anak saat ini menjadi sesuatu yang sukar dijumpai di toko-toko buku, atau setidaknya kurang semarak. Padahal, masa kanak-kanak merupakan fase yang sangat menentukan bagi perkembangan di usia dewasanya. Selain dapat menimbulkan minat baca yang rendah, hal ini juga bisa mempengaruhi aspek psikologis, imajinasi, dan kreativitas anak kelak. Kedua, salah seorang kenalan kami dari aktivis sosial yang acap kali membantu secara sukarela di salah satu panti asuhan di Yogyakarta pernah bercerita bahwa anak-anak di panti asuhan tersebut kurang mendapatkan kelayakan pemenuhan kebutuhan. Keterbatasan dana, adalah salah satu penyebabnya. Karena itulah kami berniat membantu melalui proyek antologi ini, dimana hasil keuntungan penjualannya akan disumbangkan kepada panti asuhan tersebut.

Dan seia-sekata dengan event terdahulu, tanggal 1 Oktober lalu kami resmi membuka tangan lebar-lebar kepada umum untuk turut berpartisipasi di event kedua ini.

Bisa dibilang Kuda Besi membutuhkan keseriusan kami dalam porsi yang lebih. Bagaimana tidak, event ini membutuhkan rentang waktu yang sangat panjang mulai dari perencanaan, konsultasi sana-sini dengan beberapa pihak yang kompeten di bidangnya, penyelenggaraan ‘sayembara’, penjurian, pencetakan buku, penjualan, hingga proses penyaluran bantuan dana nantinya. Pun karena banyaknya pihak yang turut bekerja sama dengan kami dalam rangkaian event ini.

Puji syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sampai di penghujung tahun ini kami telah melewati tahap pengumuman pemenang. Selamat kepada para pemenang dan terima kasih atas partisipasi dari para peserta!

Menengok kembali apa yang telah kami alami selama tahun 2013 kemarin, rasa terima kasih kami paling besar tentu saja kami alamatkan kepada pembaca setia birokreasi. Partisipasi kalian dalam membaca, membicarakan, sekaligus menyebarkan keberadaan kami sungguh membantu kami dalam berbagi dan bersenang-senang dalam dunia ini. Yakinlah, tak ada yang lebih membahagiakan daripada mengetahui bahwa kehadiran kami ditungguatau minimal diakui oleh para pembaca sekalian.

Terima kasih juga harus kami sampaikan kepada para kontributor yang dengan semangat luar biasa mau menyumbangkan tulisannya sehingga keberlangsungan kami dapat tetap terjaga. Khusus untuk hal ini, kami masih menanti sumbangan-sumbangan karya dari kalian, baik kontributor lama maupun yang baru akan bergabung. Sekali lagi kami minta agar tak perlu ada rasa malu atau sungkan untuk mengirimkan tulisan kalian karena kami ada justru sebagai wadah untuk berkreasi dan bersenang-senang. Juga sebagai pelarian dari rutinitas di tempat kerja yang melelahkan.

Jika melihat kembali apa-apa yang sudah kami lakukan selama setahun kemarin, rasa-rasanya kami boleh sedikit merasa bungah karena tahun 2013 yang telah pungkas, berhasil meninggalkan satu-dua jejaknya yang membekas. Walaupun kami juga sadar, perjalanan kami belum ada apa-apanya. Masih banyak hal-hal yang perlu kami benahi, serta beberapa lain yang perlu kami tuntaskan. Mengutip seorang Khalil Gibran, izinkan kami menutup tulisan ini dengan sepenggal kalimat: “Yesterday is but today’s memory, and tomorrow is today’s dream.”

Selanjutnya, 2014. Siap?