Sang Pembawa Mimpi

Pada suatu malam yang biasa saja, di tengah usahanya melahirkan kantuk, tersebutlah seorang pemuda lugu yang terbiasa berkhayal menjelajahi angkasa raya. Pemuda yang tiba-tiba saja merasa ingin mengintip gugusan galaksi favoritnya yang–dari bentuknya–ternyata mengingatkannya pada bekas luka kecil di paha mantan pacarnya. Di tengah malam yang sepi itu dia meraih kotak tipis ciptaan Jepang yang memuja pusat gravitasi galaksi Bima Sakti–negara pemuja matahari yang seakan berada jauh sekali di depan dalam pertarungan kecanggihan teknologi antar bangsa.

Di tengah proses mengetik alamat situs pada tab kolom peramban, tiba-tiba dia mendengar sesuatu yang bergerak di luar jendelanya. Dia menyalahkan kondisi badannya yang terlalu lelah akibat maraton pertamanya yang diselesaikannya dengan posisi ketiga dari belakang. Seperti biasa, dia selalu tertinggal jauh dari siapapun. Badannya terlalu lemah untuk bangun dan mengintip apa yang bersuara di luar jendela. Dia segera menyalakan sebuah aplikasi pengenal suara untuk merekam suara tersebut dan mengunggahnya di jaringan sosial yang dibangunnya. Tak lama kemudian respon berdatangan.

Respon pertama berasal dari pemudi jelita fashionista yang mengatakan bahwa suara yang didengarnya adalah suara seekor kucing yang sedang melampiaskan kebutuhan kebinatangannya kepada lawan jenis. Untunglah pemudi tersebut mengakhiri komentarnya dengan mengatakan bahwa kemungkinan kucing menjadi binatang homoseksual kecil sekali.

Respon kedua berasal dari seorang sahabat dekat yang malah berujung menceritakan pengalamannya bermain cinta dengan seorang penulis ternama ibukota kemarin malam. Pemuda lugu itu tiba-tiba terkesiap mengingat ritual pamer imajiner yang biasa mereka lakukan setiap bertemu. Respon terakhir datang di tengah pertanyaan tentang fakta-fakta kepada sang sahabat, berisi rujukan kepada salah satu situs web pengumpul suara aneh di kegelapan. Pemuda lugu tersebut seakan berubah menjadi profesor ultrasonologi yang seperti habis disuntik adrenalin melalui syaraf indera penglihatannya. Kantuk berubah menjadi penasaran. Terlihat si pemuda lugu tersebut seperti melakukan kegiatan memuja dalam mengekspresikan rasa penasaran yang tiba-tiba membanjir.

Teknologi seakan mengakibatkan manusia ingin mengevolusi hitungan satuan waktu yang diterapkan. Tak ada buku panduan yang menjelaskan tentang proses terjadinya rasa penasaran dan keingintahuan di saat menunggu kantuk.

Pemuda lugu tersebut menghabiskan sisa waktu kegelapannya dengan menyentuh-nyentuh layar bersinar itu.

***

Sesekali kudengar bunyi sinyal waktu terang akan datang.

Aku menghela nafas panjang pertanda kebosanan. Gagal sudah tugas kesekianku yang diberikan oleh Tuhan untuk menghembuskan mimpi indah pemberi solusi terbaik berbalut ambigu, kepada manusia.

Matahari hampir terlihat diujung sana.

Aku bergegas, takkan pernah lagi aku terlambat dalam perjalanan kembali ke atas pikirku.

Lampu indikator merah yang tertanam di lengan kiriku menyala saat aku mendekati bahtera penjemput. Kutinggalkan pemuda lugu bergelar profesor universitas Google itu dengan kepakan kecil yang ternyata hampir membuat seorang kepala desa terbangun terkejut.

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.