Refleksi: Lima Tahun Menjadi Pegawai

– Memperingati 5 tahun bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.

Saya sudah 5 tahun menjadi pegawai Direktorat Jenderal Pajak Desember ini, jika hitungannya adalah dari Nomor Induk Pegawai yang merupakan identitas saya sebagai PNS. Jujur bukan impian saya menjadi seorang pegawai pajak, minat saya pada debat, diskusi, tulis menulis, sejarah dan sosial-politik awalnya mendominasi masa SMA. Hingga saya mendaftarkan diri dan diterima di Ilmu Pemerintahan, Fisipol UGM. Harapan saya sih waktu itu saya bisa menjadi seorang jurnalis, peneliti atau pengamat politik dan semacam itulah yang bisa menyalurkan minat saya.

Tapi itu hanya mimpi masa remaja. Hanya sebulan di UGM saya pindah ke Bintaro, belajar ilmu keuangan di STAN 3 tahun, kemudian lulus dan mengabdi di DIrektorat Jenderal Pajak. Jelas, segala yang saya capai sampai sekarang jauh dari segala impian masa SMA, tapi lalu adakah saya menyesal? Tidak, untuk memenuhi titah ibu, saya tidak akan menyesal mengorbankan impian masa remaja saya, apalagi waktu itu kondisi untuk saya serba sulit. Saya anak pertama, tidak berbapak, ibu hanya guru swasta, sementara adik sudah mulai remaja. Hal terlogis waktu itu memang masuk STAN, supaya bisa cepat bekerja, mendapat uang sendiri dan menggantikan ibu membiayai adik.

5 tahun lalu saya masih ingusan, sekarang saya akui saya sudah banyak berubah walau masih tetap ingusan. 5 tahun lalu saya manusia yang super idealis, sekarang? saya mengubah diri saya menjadi seseorang yang realistis. 5 tahun di instansi ada banyak yang bisa renungi dan membuat saya bersikap realistis. Idealis? masih kog, setidaknya saya mencoba untuk fair saat bekerja, tepat waktu dan menerima konsekuensi apa yang saya kerjakan, mencoba berhubungan profesional dengan Wajib Pajak juga wujud idealisme saya. Idealis saya tunjukkan dengan bentuk lain, bukan idealis dengan sikap meledak-ledak seperti dulu. Lalu mungkin idealisme yang beralih rupa ini mungkin pertanda saya makin menua?

Untungnya saya bekerja dimana pajak belum menjadi komoditi penting bagi sistem politik negara ini, kalau pajak jadi sasaran tembak ya sudah jelaslah itu gausah banyak penjelasan. Tapi toh kita belum pernah mendengar revolusi karena tarif pajak naik bukan? Bandingkan dengan Revolusi Perancis yang salah satunya dikarenakan tarif pajak yang mencekik, atau Marzrevolution di Jerman yang juga karena tarif pajak yang membuat rakyat menjerit. Belum pernah di sejarah Indonesia ada pemerintah yang goyang karena pajak yang tinggi. Maka, bekerja di Direktorat Jenderal Pajak masih nyaman, masih bisa tidur dengan tenang, masih bisa makan-makan enak, beli gadget atau nabung buat jalan-jalan keluar negeri bukan? Bayangkan jika suatu saat pajak jadi komoditas politik dan rakyat menuntut revolusi karena pajak yang tinggi, bisa-bisa kita melarikan diri keluar negeri karena tak mau dipancung rakyat yang dendam dengan pegawai pajak.

Tapi ada enaknya di pajak itu, gaji besar. Cukup untuk pamer-pamer beli tiket promo, maafkan saya jika dulu saya sering begitu. Sekarang saya sadar, saya tahu di timur sana, di tengah derik jangkrik di tengah hutan ada yang menabung berdarah-darah hanya untuk pulang beberapa hari di rumah. Gaji besar itu sebenarnya kan relatif? Bagi sebagian mungkin besar, tapi bagi sebagian lain, 2 minggu habis untuk makan. Gaji besar itu keniscayaan, membuat lena, padahal dibalik gaji besar terpancang kewajiban yang besar pula. Sayangnya banyak yang lupa itu, gaji besar tapi tingkah polahnya besar juga. Mau gajinya tak mau kerjanya, parahnya semua hanya diukur dengan absen, ini salah. Bagaimana kalau absen lalu pergi?

Untungnya saya punya pemimpin yang walaupun bikin gemes tapi lumayan sering menyuarakan aspirasi institusi ini. Pemimpin saya ini berani bilang kalau kita kekurangan pegawai, kalau dipikir itu benar lho, memang benar-benar kekurangan pegawai kog. Banyak pegawai yang mengeluh overload pekerjaannya dan bahkan ada yang saking bingungnya mau mengerjakan apa karena memang benar-benar sudah buntu karena saking banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan. Kalau begini runyam, beberapa rekan-rekan saya harus sukarela lembur, overtime, tanpa bayaran. Dulu rekan kerja saya malah dalam seminggu bisa 3-4 hari tidur di kantor, dia bawa selimut, bawa bantal, kadang bawa sleeping bag, karena memang dia mengerjakan sendirian apa yang seharusnya dikerjakan 3-4 orang.

Perkara kekurangan pegawai ini saya pernah punya cerita lucu. Ketika saya jadi pelaksana ekstensifikasi di Ciamis, saya overload kerjaan. Saya mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan 3 orang, karena memang kekurangan pegawai. Waktu itu musim proyek dan penilaian, pada akhirnya saya hampir 24 jam di kantor, untung belum 30 jam bukan? Bahaya kalau 30 jam di kantor. Saya minum kopi, dari yang sebelumnya 2 cangkir sehari, sekarang 5 hari sehari, di hari keenam saya lembur, saya tumbang. Periksalah saya ke dokter, saya migrain, lemas, demam dan mual. Dokter bilang 1 hal “Kurangi minum kopi! Kamu keracunan kafein!”. Dokter larang saya minum kopi selama sebulan! Duh kiamat, itu siksaan, benar-benar gara-gara kekurangan pegawai, hak orang lain minum kopi jadi terganggu!

Tapi harusnya sih sebelum menambah pegawai seharusnya ya dibabat dulu pegawai-pegawai yang kinerjanya jelek dan justru menghambat kinerja organisasi. Kan tidak mau kan menambah pegawai tapi benalu-benalu yang mengganggu mesin organisasi sampai berkarat itu masih bercokol. Lepaslah orang-orang yang konservatif yang tak mau menerima perubahan, mereka yang masih bermain belakang, mereka yang sudah tidak punya hati di institusi atau mereka yang benar-benar pergi. Biarlah institusi ini diisi orang-orang yang ingin maju dan mau mengabdi, biar mesin organisasi bergerak makin kencang menyongsong perubahan yang sudah diimpikan sejak lama.

Oia, saya bukan pegawai yang cerdas, pintar dan berprestasi kog, apa yang saya capai sampai level ini hanyalah karena beruntung. Ketika 3 tahun lalu, di awal 2011 banyak yang terkaget-kaget karena saya sudah diangkat menjadi AR, di Jawa pula, sementara banyak senior yang belum diangkat. Apa saya waktu itu tidak lebih kaget dan bingung, bagaimana bisa anak ingusan macam saya, baru 1,5 tahun bekerja, lulusan PBB dan tidak memiliki background ilmu perpajakan yang mumpuni mampu menjadi seorang AR? Kenapa saya bisa menjadi AR? Sesungguhnya itu murni keberuntungan, waktu itu di Ciamis, di kantor lama saya, tidak ada yang mau menjadi AR, pada akhirnya saya dengan sukarela mendaftar menjadi AR, sekantor hanya 2 orang yang mendaftar dari sekian puluh pegawai. Akhirnya ya mau tidak mau 2 orang itu kemudian diangkat menjadi AR. Beruntung bukan?

Pun ketika dihadapkan dengan tugas-tugas AR. Saya bingung setengah mati, belajar sana-sini. Saya bukan pegawai yang baik, bodoh malah karena saya terlalu banyak bertanya. Apa sih yang saya bisa kalau ketika diminta menganalisa laporan keuangan, saya minta pacar saya yang mengajari saya. Ya betul, saya dibantu pacar saya melakukannya karena saya benar-benar tidak bisa mereview laporan keuangan. Membacanya saja sudah pusing tujuh keliling. Perkara target tahunan tercapai itu soal keberuntungan saya bilang, banyak-banyak berdoa. Pesan ibu saya begini, “berdoalah ketika kamu : berangkat kerja supaya kerjaanmu lancar hari ini, pas istirahat supaya kamu tetap bersemangat dan pulang kerja supaya kamu bersyukur atas kerjaanmu hari ini”. Satu lagi, berdoalah ketika mumet. Saya sering ketika wajib pajak dihimbau tidak nurut-nurut, di STP tidak bayar juga, saya nangis, saya pasrahkan saja dan saya berdoa sama Alloh. Tiba-tiba besoknya cek MPN sudah ada uang pajak masuk dari Wajib Pajak! Entah, mungkin Alloh sudah benar-benar kasihan sama saya, sudah bodoh, gendut, jadi AR pula!

Perihal ini saya pernah mati kutu ketika ditanya orang Kanwil, waktu itu ditanya bagaimana kiat-kiat bagaimana supaya penerimaan tercapai. Saya mau jawab berdoa, tapi takut ditertawakan, saya jawab yang teknis-teknis ya kerjaan saya biasa-biasa saja, pengetahuan peraturan ya cetek-cetek saja karena banyak yang lebih jago. Kalau mau tahu yang saya lakukan ya cuma banyak-banyak berdoa. Tapi ya banyak-banyak berdoa itu maksudnya kalau segala daya upaya sudah dilakukan, sudah maksimal, memang hanya tinggal doa saja kan yang kita gantungkan? Jangan lupa berdoa pokoknya dan jangan pernah meremehkan kekuatan doa pokoknya. Kan ada istilah dengan darah dan doa kan? Darahnya sudah, doanya jangan lupa.

Jadi AR saya makin tahu kalau sebenarnya institusi ini masih gamang dan bingung menentukan arah. 5 tahun disini saya masih merasa bahwa institusi ini masih mencari bentuk. 3 kali suksesi kepemimpinan selama 5 tahun yang saya alami, selalu menghasilkan karakter kepemimpinan yang berbeda-beda. Tidak ada yang salah, seorang pemimpin pasti punya gaya masing-masing. Masalahnya adalah suksesi ini membuat kebijakan institusi berganti begitu cepat, ini tidak bagus untuk keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang, apa yang dirancang begitu ganti pemimpin diganti. Kredo yang berlaku adalah ganti pemimpin ganti kebijakan, ini begitu terasa bagi pegawai level terdepan, betapa susahnya mengikuti ritme yang diinginkan organisasi. Gambarannya begini, baru saja menerapkan A, sudah diralat B, besok lusa sudah diralat C. Pegawai bingung, apalagi wajib pajak.

Hal ini memusingkan bagi seorang AR ketika banyak aturan yang berubah. Ujungnya menyebabkan Wajib Pajak super bingung. Ini sebenarnya yang membuat saya kasihan, bagaimana mengedukasi Wajib Pajak kalau hampir tiap triwulan ada perubahan aturan? Di kantor saya, Wajib Pajak datang ke kantor saja saya sudah sujud syukur. Dia mau mengerti pajak saja saya sudah ucap hamdallah banyak-banyak. Itu belum saya jelaskan lebih dalam tentang perpajakannya lho, baru dia datang dan tahu soal pajak. Mengedukasi wajib pajak disini butuh waktu lama soalnya. Belum lagi kinerja AR di sistem dituntut dengan satuan waktu. Bekerja macam balapan time trial. Kalau waktu terlampaui dapat peringatan dari Kanwil, pun WP bisa teriak-teriak lantang. Habis sudah kalau begitu terjadi, bisa-bisa nama masuk koran, dipanggil tim kepatuhan internal, kena sanksi, dan seterusnya dan seterusnya. Beuh amit-amit jabang bayi deh, semoga jangan pernah begitu.

Yang saya gemas mungkin soal mendapatkan kesempatan diklat. Ya ampun susah sekali disini dapat diklat, tapi mungkin karena banyak pegawai yang meminta pendidikan jadi malah kesulitan? Tapi kog ada orang itu itu saja yang berkesempatan mengikuti diklat. Saya dari Januari sampai dengan November kemarin setiap ada diklat daftar terus dan nihil hasilnya. Padahal dari ilmu yang saya dapatkan pas saya kuliah manajemen, walaupun universitasnya ecek-ecek tapi saya yakin ilmunya valid bilang begini : Organisasi itu bisa maju kalau SDM di organisasi itu meng-upgrade skill dan kemampuannya. Saya coba khusnudzon saja, tapi masalahnya saya susah khusnudzon kalau beginian, gimana dong?

Sebenarnya solusinya mudah, dibikin saja per regional per kanwil, ga harus di balai diklat. Jadi pemerataan itu ada dan diklat bisa berjalan tiap tahun, masalahnya begini, saya merasa saya katak dalam tempurung di kantor, kasus yang saya tangani ya kasus yang saya hadapi dan kasus yang sudah umum disini. Sementara kasus pajak itu kan akan berkembang terus dan kalau begini skill pegawai ini sangat butuh diupgrade, butuh melihat kasus-kasus di kantor lain sebagai bahan pembelajaran. Ini perlu karena kita juga butuh pembanding, sebagai bahan pembelajaran satu sama lain. Bayangkan seseorang di kantor yang sama, pekerjaan yang itu-itu saja pasti, pengetahuannya ya tidak akan beranjak, tidak siap menerima kalau ada kasus yang diluar kebiasaan yang ia tangani. Sebenarnya gregetan juga kali ya? Gregetan plus menyenangkan. Benci tapi cinta gimana gitulah. Kerja di sini itu butuh banyak-banyak sabar dan ikhlas. Di luar-luar banyak yang bilang miring, tapi toh selama kita bertindak benar ya ga masalah. Saya sih sudah gamau nanggepin apa yang dibilang di luar, makan ati. Mending kerja benar, bersikap benar, minimal diri sendiri berbuat benar.

Harapan saya di institusi sih semoga institusi ini makin bisa menjamin dan melindungi hak-hak pegawainya. Serius ini, institusi ini ditopang puluhan ribu pegawai dan seharusnya institusi ini melindungi mereka. Janganlah bikin blunder-blunder yang bikin pegawai murka, kalau ditinggal pegawai memangnya institusi ini bisa apa? Yang di Jakarta mbok ya bikin aturan yang mengayomi, atau sekali – kali ke daerah sebelum bikin aturan, tanya dulu di daerah gimana-gimana. Sebenarnya pegawai itu permintaannya ga banyak kog, cukup kerja dengan tenang, bisa bertemu keluarga dan jenjang karir serta mutasi yang jelas. Itu saja. Kadang kan yang terjadi aturan itu kan orientasi Jakarta, yang daerah kudu ngikut, ya ndak bisa begitu. Kasusnya beda, karakter wilayahnya beda, ketersediaan infrastruktur berbeda, harus fleksibel. Kalau daerah diminta ikut Jakarta yasudah bubar. Kadang kasihan gimana gitu, ada lho pegawai yang lintas pulau setiap minggu demi melihat istri dan anaknya, itu ada dan saya kenal dengan mereka berdua. Mungkin hanya sabar dan tabah yang membuat mereka bertahan.

Jujur saya sekarang kadang bekerja dengan takut-takut, ga tenang. Dengan sistem sekarang mending jaga jarak dengan teman. Bisa-bisa sedikit saya di whistleblowing padahal saya belum tentu punya salah, mungkin hanya karena sentimen pribadi, mungkin ada yang iri. Tapi benar, sistem ini selain membuat pegawai bekerja dengan benar tapi juga bikin pegawai takut setengah mati. Saya kadang kalau pulang kerja dan beranjak tidur kadang suka cemas, kadang suka tidak tenang, sudah benar ga ya yang saya kerjakan hari ini. Karena kos saya dekat kadang saya balik ke kantor lagi malam-malam memastikan berkas-berkas sudah selesai, surat-surat sudah dikirim, memastikan apa yang sudah saya kerjakan itu benar-benar sudah benar. Saya benar-benar ketakutan. Seharusnya kalau sudah bekerja benar kan tidak usah takut kan? Yang terjadi pada saya, saya sudah benar tapi ketakutan. Duh mau gimana lagi? Saya jadi ga percaya diri sekarang kalau kerja, apa-apa di pikiran saya itu salah. Kalau begini saya cuma bisa berdoa, semoga yang saya kerjakan itu sudah benar dan memang benar-benar sudah benar.

Saya masih bertahan disini karena saya percaya institusi ini masih bisa berkembang lebih baik lagi. Ya walaupun beberapa waktu lalu ada beberapa orang yang menggelitiki saya untuk pindah ke mereka, tapi ya saya tolak karena saya masih mau bekerja sebagai pegawai pajak. Institusi ini juga sebenarnya sudah membuat saya bangga kerja disini, jujur sekarang pun saya masih cinta di institusi ini. Tapi maaf cinta saya bukan cinta buta yang bisa lihat indah-indahnya saja, cinta itu bagi saya juga soal kejujuran. Jika ada yang salah dari yang dicinta ya bilang salah, jika benar ya bilang benar. Begitu kan? Tapi secara umum, institusi ini masih terbaik dan punya sistem yang benar, ya dibandingkan dengan beberapa institusi selevel di institusi yang sama. Toh cinta seharusnya saling mengoreksi agar menjadi benar bersama-sama.

Mungkin pada akhirnya saya bilang saya orang beruntung yang bisa kerja disini. Saya sudah 5 tahun disini dan saya bersyukur atas itu. Saya bersyukur atas apa yang sudah saya lalui dan semoga akan terus bersyukur di masa mendatang entah dimanapun saya akan berdinas mengikuti apa yang dititahkan insitutusi ini. Dan saya benar-benar bersyukur masih bisa mengabdi disini walau kadang saya memang berkeluh-kesah. Tapi bagi saya, saya rasa itu hal yang manusiawi, kadang kalau sudah lelah, manusia pasti berkeluh kesah, saya bukan Mario Teguh yang setiap hari hidupnya dipenuhi kata-kata mutiara. Saya bangga menjadi bagian institusi ini, karena saya percaya menjadi PNS yang benar adalah kata lain dari mengabdi untuk bangsa sendiri.

Tabik.

ef