Exit Through the Secondhand Book Shop

I.
Jakarta adalah sebrengsek-brengseknya kota, sebuah nekropolis raksasa mirip London pada abad ke-18. Di dalam kota seperti ini, pilihan eskapisme yang ada sangat terbatas. Anda bisa menghabiskan uang Anda, menghambur-hamburkannya atas nama hedonisme dan konsumerisme. Atau, Anda bisa melepaskan diri dari semua yang materialis, untuk duduk diam di sebuah kuil metaforis. Atau keduanya. Anda bisa menghabiskan uang Anda untuk membeli buku, yang lantas bisa Anda baca sambil menyesap kopi di petang hari. Bukankah membeli buku adalah sebaik-baiknya retail therapy?

II.
Anda boleh berargumen bahwa tidak ada pengetahuan yang dihargai terlalu mahal. Boleh-boleh saja. Namun, jika Anda seperti saya (yang sayang untuk menghabiskan uang untuk membeli buku pada toko buku besar di pusat perbelanjaan), toko buku bekas adalah pilihan Anda.

Di Jakarta sendiri ada beberapa toko buku bekas yang bisa Anda kunjungi. Dulu, sebelum dipindah, Anda bisa datang ke Kwitang, daerah Pasar Senen. Sekarang, Anda bisa mengunjungi lantai bawah Blok M Square, atau Pasar Festival Kuningan, atau Thamrin City. Ada satu toko yang luput dari perhatian saya, yang mungkin tidak saya ketahui jika tidak membaca sebuah majalah sastra di tempat kos Arman Dhani; yaitu kios buku “Guru Bangsa” di daerah Pondok Pinang.

DSC_0129.jpg_effected

Toko buku ini terletak persis di sebelah halte Transjakarta Pondok Pinang. Jika Anda dari arah terminal Lebak Bulus, Anda bisa belok kanan pada perempatan FedEx, letaknya di sebelah kanan jalan. Untuk pergi ke sana, Anda bisa naik Metromini nomor 611 dari Blok M, atau naik bus Transjakarta koridor 8 (transit di halte Harmoni). Toko buku ini buka pukul 10 pagi sampai pukul 8 malam, setiap hari kecuali hari Minggu. Hari Sabtu kemarin (14 Desember) saya dan Bang Fanny Perdhana memutuskan untuk berburu buku di situ.

Jika Anda berkunjung ke Kuil Apollo di Delphi, 4.000 tahun yang lalu, mungkin Anda akan membaca inkripsi “gnothi seauton” (kenalilah dirimu sendiri) pada pintu gerbangnya. Demikian pula jika Anda menjejakkan kaki pada toko buku bekas “Guru Bangsa”, di daerah Pondok Pinang, Anda akan disambut dengan kata-kata “Dengan membaca, membuka cakrawala. Satu buku, sejuta ilmu.” Seingat saya semasa masih bocah dulu, kalimat seperti ini terasa terlalu berlebihan, meskipun saya sendiri suka membaca. Namun, coba propagandakan kalimat seperti ini kepada anak-anak SD generasi Z. Saya bergidik ngeri, jangan-jangan mereka hanya mendengus kesal dan lantas asyik kembali dengan tabletnya.

DSC_0135.jpg_effected

Beruntung, kami bertemu langsung dengan pemiliknya, Bang Ucok. Ia lantas menyambut kami dengan dua gelas kopi hitam. Dan sambil memilih buku, kami pun lantas mengobrol dengannya tentang banyak hal.

III.
Ternyata, banyak sastrawan dan penulis pernah berkunjung di tempat ini, dan bahkan kenal dengan Bang Ucok secara pribadi. Richard Oh, Eros Djarot, Ajip Rosidi, Djenar Maesa Ayu, dan bahkan mantan pemred TEMPO (saya lupa namanya) serta mantan Menteri Pendidikan/Agama, Abdul Malik Fadjar pernah membeli buku di tempat ini.

“Saya masih punya beberapa nomornya, nih,” ujarnya sambil menunjukkan ponselnya.

Ia tidak butuh afirmasi. Ia menyediakan dirinya untuk melestarikan kesusasteraan, meskipun dunia yang ia pilih ini tidak menjadikannya kaya. Dia sudah cukup bahagia memiliki toko buku bekas dan juga tinggal di bagian selatan Jakarta.

“Jakarta Selatan itu bagaikan Taman Eden. Kau lihat saja, banyak orang-orang penting tinggal di Jakarta Selatan; pejabat, pengusaha, petinggi militer.”, kelakarnya.

“Coba kau ajak orang yang tinggal di Jakarta Selatan [untuk] tinggal di Jakarta Barat, dua jam saja pasti langsung tidak betah. Tapi coba kau ajak orang Jakarta Barat [untuk] tinggal di Jakarta Selatan, dia pasti bilang, ‘Ini surga’.”

Bang Ucok memang akrab betul dengan dunia filologi tanpa perlu menjadi kritikus atau penulis. Ada kegusaran yang tulus ketika ia tiba-tiba menceletuk kepada salah seorang pengunjung, “Jangan pakai ‘oke’ lah, kawan. Tidak enak kedengarannya. Pakai ‘baiklah’ saja. Lebih enak. Seperti asing saja.” Ia membenarkan, tanpa perlu menjadi pongah seperti grammar nazi.

“Sekarang ini, sudah jarang sekali ada sastrawan Indonesia bagus. Dulu banyak yang bagus,” ujarnya sambil mengingat tentang Chairil Anwar dan lain-lain.

“Mungkin karena anak-anak sekarang jarang membaca. Bagaimana mau jadi pintar? Kalau mau menjadi pintar, dalam hal apapun itu, ya harus membaca.”

Bang Ucok tidak menyukai hubungan antara pemilik toko buku dan pembeli yang sekedar menjadi hubungan transaksional semata.

“Kalau kau beli toko buku di Kwitang, atau di Blok M, paling-paling kau cuma ngomong ‘Harganya berapa?’ ‘Sekian’ ‘Bisa kurang nggak?’ ‘Ya udah berapa?’ lalu kau beli atau pergi. Kenapa? Karena banyak penjual buku sekarang yang nggak baca. Nggak tahu isi bukunya,” begitu keluhnya.

“Makanya, saya suka sama orang yang ke sini tanpa ada target mau cari buku apa. Mereka seringkali kecewa, karena nggak nemu. Lain halnya kalau kamu ke sini tanpa ada rencana cari buku apa. Mungkin saja kamu malah nemu buku yang lebih bagus. Atau senang karena ada teman ngobrol seperti saya, ya seperti begini ini. Banyak sastrawan-sastrawan itu, yang datang ke sini cuma buat duduk, lesehan, ngopi, dan ngobrol. Karena itu yang asyik.”

Dia kemudian pamit untuk membeli makan. Lalu pulangnya dia membawakan kami teh manis hangat. Kami terheran-heran dibuatnya.

Berbeda dengan tipikal pedagang buku bekas di Blok M yang menumpuk buku-bukunya tanpa memilah-milah terlebih dahulu jenisnya, buku-buku Bang Ucok tertata dengan rapi. Di rak paling depan, dekat pintu masuk, ada buku-buku novel (Indonesia, asing, maupun terjemahan) dan komik. Di rak sebelah kirinya ada buku-buku tentang agama. Di rak sebelah kanan terdapat buku-buku motivasi dan bisnis. Di rak tengah ada buku-buku psikologi populer. Di bagian belakang ada buku-buku politik, juga buku-buku hukum di bagian belakang di sebelah kanan.

DSC_0127.jpg_effected

Bang Ucok ini juga gemar berkelakar. Ujarnya setengah menasehati, “kawan, kalau kau cari pacar yang bagus, yang setia, carilah di toko buku.”

“Kok bisa, Bang?”

“Cewek yang suka diajak di toko buku, pasti dia suka baca. Pastilah dia pintar. Kalau dia mau kau ajak ke toko buku, pastilah orangnya sederhana. Nggak seperti cewek-cewek yang biasa nongkrong di mal itu. Ha ha ha.”

Meskipun begitu saya tidak setuju-setuju amat dengan Bang Ucok, terutama tentang pandangannya tentang wanita. Misalnya ketika saya tanya dia tentang seniman-seniman yang kehidupan cintanya begitu bebas (tentu saja dengan sedikit menyentil kasus Sitok Srengenge). “Ya memang begitu seniman. Yang namanya tubuh wanita itu memang karya seni. Dipuja. Kalau nggak selingkuh dan lain-lain kayak gitu ya nggak bisa nyeni.”

DSC_0125.jpg_effectedBang Ucok.

Percakapan-percakapan yang banal dan tak melulu intelektual seperti ini yang membuat toko buku “Guru Bangsa” berbeda dari toko buku lain. Bang Ucok, dengan personanya, menjelma bak nabi kecil dalam sepotong kecil Yerusalem miliknya ini. Di satu waktu dia berceloteh tentang bagaimana pintarnya D. N. Aidit serta bagaimana menyedihkannya seorang pemikir besar seperti dia harus mengalami ketidakadilan oleh negara ini. Lantas di menit yang lain dia bercerita tentang salah seorang pengunjung langganannya, seorang ilustrator yang tertipu milyaran rupiah dalam proyek pengadaan LKS sebuah propinsi di Pulau Jawa; tentang bagaimana merajalelanya korupsi dalam birokrasi.

“Kalian sendiri kerja di mana?”

“Kami di pajak. Saya di Pancoran, dia [saya] di Kalibata. Dulu kuliah di STAN. Ini [sambil menunjuk saya] junior saya,” jawab Bang Fanny.

“Kok suka sastra?”

“Biar nggak stres, Bang. Ngutak-atik angka melulu. Ha ha ha,” sahut Bang Fanny lagi.

IV.
Lalu, apa yang saya dapatkan di sini? Saya membeli 2 buku Roald Dahl, lalu masing-masing satu buku James Joyce, Gabriel Garcia Marquez, Henry David Thoreau, Orson Scott Card, Yukio Mishima, Antoine de Saint-Exupery, dan Margaret Atwood. Saya mendapatkan 9 buku ini, dengan total harga sama seperti harga sebuah buku di Gramedia, atau Periplus, atau Kinokuniya. Ya, dia menghargai buku saya seluruhnya hanya Rp120.000,00 (Bang Fanny mendapatkan 12 buku dengan harga Rp150.000,00). Bahkan dia tidak meminta bayaran untuk kopi dan teh hangat yang kami minum. Saya tidak bisa lebih bersyukur lagi sore itu.

DSC_0128.jpg_effected

“Bulan depan ke sini lagi deh, Bang. Terima kasih banyak. Selamat sore. Selamat Natal.” ucap kami sambil melangkah keluar.

  • http://redemptionsoldier.blogspot.com Gita Wiryawan

    ajak aku ke sanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……

  • lala sampurno

    thanks buat tulisannya. tanpa banyak cingcong, bang ucok ini udah jadi pahlawan juga.

  • http://mandewi.com ManDewi

    Waah., ke sana, ah.