Kisah Tentang Aku, Kamu, dan Rempeyek

Karena kita seharusnya menjadi semacam Bumi dan Matahari yang saling menggenapi. Bukan gerhana yang menggelapi

Sot mata yang hampir segaris, hidung kokoh yang bangir, dan senyum berbelah khas di sudut bibir, kembali meruak dalam setiap ingatan masa lalu yang panjang tapi terasa sumir. Kaukah itu yang muncul dalam deretan aksara-aksara yang menggelambir? Kata-katamu berumbai-rumbai bagai anyelir. Menjanjikan, seolah semuanya belum berakhir.

ǂǂǂ

Aku masih ingat deretan gigi depanmu yang tak bisa bertemu. Dan aku senang mengejekmu tentang itu. Tak terhitung berapa kali aku menyuruhmu menangkupkan gigi sedemikian rupa untuk melihatmu begitu. Tawaku akan terpicu. Aku terbahak demi melihat celahmu yang aku anggap lucu. Mendekatimu dengan ciuman yang terkadang berakhir cumbu. Dan pada akhirnya bukan hanya aku yang ketawa bertalu-talu. Kita berdua tergelak karena dunia tak pernah mau untuk tahu.

ǂǂǂ

Aku juga masih ingat kala pertama kita bertemu. Di depan stadion Andi Mattalatta di pinggiran jalan kota yang berdebu. Apakah kau masih menyimpan ingatan akan masa itu? Ingatlah karena akupun begitu. Kau tersenyum dan memperkenalkan dirimu. Menanyakan segala ini dan itu. Membuat pertemuan yang awalnya gagu tapi lucu, menjadi cair seperti es di kutub-kutub terjauh.

ǂǂǂ

Kita lalu menutup malam dengan gempita janji akan bertemu kembali. Mega-mega jingga di otakku menjadi saksi. Betapa malam itu aku merasa menemukan apa yang hilang yang aku sendiri alpa menyadari.

ǂǂǂ

Hilang di waktu duluuu sekali. Ketika aku masih anak-anak yang bebas berlari telanjang tanpa alas kaki. Duluuuu sekali. Ketika aku masih bocah tengil manja yang senang berkelahi tanpa peduli akan konsekuensi. Duluuu sekali, ketika orang kepercayaan keluargaku menarikku masuk ke dalam kamarnya dan memaksaku menjadi dewasa sebelum waktunya sampai.

ǂǂǂ

Beberapa hari kemudian, kita menggenapi janji. Dan saat itu aku mulai sadar kalau kita seperti gerhana matahari. Ketika kita bertemu dan gerhana membuat semesta terlingkupi. Orang-orang panik dan segera mengambil air suci. Membasahi beberapa bidang tubuh dari rambut sampai ujung kaki. Bersimpuh di atas sajadah bergambar kubah berwarna-warni. Menengadahkan tangan meminta doa kepada yang Ilahi. Semoga gerhana segera berpisah dan mati. Sehingga gelap berhenti menangkup Bumi. Dan dunia menjadi normal kembali.

ǂǂǂ

Tak sadarkah kalau itu hanya ilusi? Aku, kamu, dan pertemuan-pertemuan kita hanyalah delusi. Kita tak pernah benar-benar bersatu. Tak akan pernah bisa benar-benar bersatu. Seperti gerhana matahari yang seolah melekat tapi ternyata hanya fantasi. Mereka berjarak dalam ruang yang tak bisa dihitung jari. Berpandangan sedemikian rupa tapi tak akan pernah bisa saling memiliki.

ǂǂǂ

Hari ini kau kembali lagi dalam bentuk yang lain. Berkata akan mengirimiku rempeyek kacang. Aku memang pernah bercerita tentang cemilan kesukaanku itu. Tentang seorang wanita Jawa miskin di tanah Bugis yang menjual rempeyek untuk menghidupi suami dan anak-anaknya. Bagiku rempeyek bukan hanya sekadar cemilan. Makanan itu di mataku selalu menceritakan kisah-kisah kemiskinan. Pun kisah-kisah kenangan yang balik bertimbal, tentang aku, kamu, dan segala rahasia-rahasia kecil kita.

ǂǂǂ

Aku membatin, jangan-jangan kau hanya bermain-main. Tapi keraguanku seolah tertiup angin. Kau serius dan sama sekali tidak main-main. Kau bilang ingatan tentangku terus berulang dan mengulang bagai refrein. Abadi seperti tulisan yang digores dengan bolpoin.

ǂǂǂ

Kau bilang segala apapun yang pernah bersinggungan denganku, yang menjadi kesukaanku, akan membangkitkan memorimu. Memori tentang apa yang pernah terjadi dan terjalin di masa lalu. Entah itu makanan, kebiasaan, celotehan, tingkah laku, bahkan lagu. Maka siang itu ketika kau menikmati hidangan di sebuah kedai masakan Jawa yang menyajikan rempeyek kacang, sejarahmu dan sejarahku yang pernah berlintasan kembali berpilin. Melipat waktu dan membuat garis-garis masa seolah rancu.

ǂǂǂ

Siang ini, sorot mata yang hampir segaris, hidung kokoh yang bangir, dan senyum berbelah khas di sudut bibir, kembali meruak dalam setiap ingatan masa lalu yang panjang walau terasa sumir. Aku mengucapkan terima kasih bukan terutama karena rempeyek yang kau kirim. Tapi ingatanmu yang masih memuatku di bawah layar-layarnya yang bergerak menjauh.

ǂǂǂ

Setelah ini aku akan memilih untuk tak mau lagi memandangi gerhana. Dan aku berdoa, semoga tak ada lagi gerhana yang terjadi di sepanjang sisa hidupku. Karena jangankan gerhana, bumi pun belum kuat tanganku untuk meninjunya. Aku tak akan mampu mengirimkan gerhana untukmu.

ǂǂǂ

Karena kita seharusnya menjadi semacam Bumi dan Matahari yang saling menggenapi. Bukan gerhana yang menggelapi. Bukan Bulan dan Matahari yang sama-sama berfungsi menerangi bumi, tapi saling merindu di tepi-tepi galaksi. Berduka dalam tawa. Berbincang tanpa suara

ǂǂǂ

Seandainya dunia berani kita cebir, kita pasti akan tahan tertawa di bawah mulut-mulut yang mencibir. Dan seandainya kita terlahir sempurna, tentu kisah ini tak akan berakhir dengan kata-kata “seandainya”

ǂǂǂ

Tapi tak apa. Toh kita tetap berbahagia dan menikmati dunia. Bukankah hidup hanyalah bahagia dan derita yang sambung-menyambung menjadi masa?

ǂǂǂ

Kisah ini, untuk semua yang seharusnya menyesal tapi memilih untuk tidak menyesali

ǂǂǂ

Kota Surabaya, Mei 2013
Aku di sini, menunggu kiriman rempeyek itu. Semoga di dalam paketannya nanti, kutemukan serpihan-serpihan diriku yang dulu sempat tak sengaja terbawa olehmu


Catatan: Tulisan ini pernah diposting sebagai “certweet” di Twitter. Dengan beberapa penambahan kalimat, diposting kembali di Birokreasi.