Defying “Gravity”

“Fiksi sains telah mati,” demikian kata sineas kawakan Ridley Scott dalam sambutannya di Festival Film Venice tahun 2007. Scott bukannya tanpa alasan. Tahun 1968, satu tahun sebelum bahkan manusia pergi ke bulan, seorang sutradara yang jenius-cum-visioner, Stanley Kubrick, melahirkan magnum opus-nya, “2001: A Space Odyssey”; film yang dianggap begitu bagus, sampai-sampai menghancurkan satu genre sains fiksi.

“Tidak ada yang orisinal (pasca “2001”). Kita telah melihat semua sebelumnya.”, lanjut Ridley Scott kemudian. Mungkin dia lupa bahwa filmnya sendiri, “Blade Runner”, seringkali salip-menyalip dengan “2001: A Space Odyssey” dalam daftar film sains fiksi terbaik sepanjang masa. Begitu juga dengan Alfonso Cuaron, mau tidak mau dia harus merasakan “tulah” berupa perbandingan (yang lagi-lagi menjemukan) dengan “2001”, ketika film sains fiksinya, “Gravity” rilis di bioskop.

Gravity 1

Gravity bercerita tentang misi STS-157, beranggotakan Dr. Ryan Stone (diperankan oleh Sandra Bullock), Matt Kowalsky (George Clooney), Shariff (Paul Sharma), beserta beberapa astronaut lainnya yang tinggal di dalam pesawat ulang alik namun tidak diceritakan. Dr. Stone adalah seorang insinyur dalam bagian peralatan medis. Ia baru pertama kali ini pergi ke angkasa, dengan misi untuk memasang panel hasil inovasinya pada teleskop Hubble. Sementara Kowalsky adalah astronaut yang sudah berpengalaman berkali-kali melakukan perjalanan ke angkasa. Kontras dengan Dr. Stone yang sering khawatir, Kowalsky, karena jam terbangnya yang banyak, begitu tenang dan cenderung cuek. Kowalsky memutar lagu country sambil berjalan-jalan di luar angkasa dengan keceriaan bak anak kecil, berharap memecahkan rekor spacewalking Anatoly Solovyov. Dia juga bertukar cerita-cerita banal dengan petugas flight controller NASA di bumi, sambil sesekali menggoda Dr. Stone dan mengungkapkan firasat buruknya tentang misi kali ini.  Sementara karakter Shariff tidak terlalu sentral, dan dia hanya menyumbang beberapa dialog saja.

Ternyata firasat Kowalsky terbukti benar. Masalah tiba ketika Rusia menembak jatuh satelitnya yang tidak terpakai. Alih-alih jatuh kembali ke bumi, satelit tersebut pecah dan memicu efek Kessler. Puing-puingnya menabrak satelit lain, membentuk sekumpulan besar pecahan satelit yang melaju 20,000 mil per jam akibat pengaruh momentum sudut dari rotasi bumi dan gravitasi. Mulanya diperkirakan bahwa Stone dan kawan-kawan aman karena trayektori dari puing-puing sampah angkasa tersebut berbeda ketinggian dari orbit di mana misi STS-157 berada. Sampai akhirnya puing-puing tersebut menabrak satelit lebih banyak lagi, dan masuk ke trayektori STS-157. Pesawat mereka hancur. Shariff dan yang lain meninggal akibat tabrakan dengan pecahan satelit. Tinggal Stone dan Kowalsky untuk bertahan hidup di tengah ruang hampa dan kembali ke bumi, dengan oksigen yang menipis dan putusnya kontak radio dengan NASA.

Gravity 2

Cuaron dengan lihainya memadukan animasi 3D yang epik, dengan teknik pengambilan gambar yang begitu subtil. Emmanuel Lubezki, sinemator yang juga bekerja sama dengan Cuaron dalam “Children of Men”, tidak segan-segan menggunakan kembali teknik long-shot yang ia gunakan dalam “Children of Men”. Teknik single-take yang panjang yang dipakai Cuaron dalam mengambil gambar bumi ini mengingatkan saya pada film-film lama Andrei Tarkovsky. Hasilnya, lanskap bumi yang begitu menakjubkan dilihat dari luar angkasa adalah gambaran yang nyaris lirikal; nyaris puitis. Cuaron mengingatkan kita tentang betapa kecil dan lemahnya manusia di hadapan semesta.

Bagi saya, “Gravity” adalah Apollo 13 jika saja Apollo 13 disutradarai oleh Terrence Malick. Ia penuh dengan aksi bertahan hidup. Pada intinya, film ini memang bercerita mengenai ketidakberdayaan manusia melawan alam. Dalam hal ini, alam adalah luar angkasa yang luas, dingin, kejam, dan membunuh. Namun, “Gravity” tidak melulu tentang aksi-aksi menegangkan. Ia juga penuh dengan momen-momen kontemplatif.  Ada refleksi tentang kehilangan. Ada refleksi tentang iman dan ketuhanan. Ada juga refleksi tentang kehendak untuk hidup – der Wille zum Leben, jika boleh meminjam istilah Arthur Schopenhauer – yang berulangkali diungkapkan oleh karakter Kowalsky di tengah keputusasaan dan kesedihan Dr. Stone. Monolog-monolog dari Dr. Stone yang berganti-ganti antara fatalistik dan optimistis mengingatkan saya pada karakter Chuck Noland pada film “Cast Away”. Ada perenungan tentang bunuh diri pada keduanya, di mana akhirnya baik Noland maupun Stone mampu mengalahkan dirinya sendiri dan memilih untuk bertahan hidup.

Sandra Bullock memerankan seorang karakter astronot tidak berpengalaman dan tidak bertuhan dengan sangat apik. Idiom “There is no atheist in the foxhole“, menyiratkan bahwa dalam tekanan yang luar biasa, ateis pun akan kembali berharap bahwa akan ada tuhan/kekuatan metafisik yang akan membantunya. Dan begitulah gambaran seorang Dr. Stone. Ada bifurkasi antara seorang Stone yang “[…] tidak pernah berdoa. Tidak ada yang pernah mengajariku” dengan Stone yang membayangkan anak perempuannya yang telah meninggal sebagai malaikat penjaganya. “Gravity” tidak mengkhotbahi kita dengan menunjukkan bahwa pada akhirnya Stone menjadi relijius. Dr. Stone hanya memperlihatkan pada kita pada sebuah karakter manusia yang benar-benar manusia: yang medioker, yang tidak eksepsional, yang seringkali tidak konsisten kepada dirinya sendiri. Seorang manusia yang bukan superhero, tetapi juga bukan seorang damsel-in-distress yang melulu butuh pertolongan seorang ksatria berkuda. Dan luar angkasa, hanyalah tetap menjadi luar angkasa. Di tangan Alfonso Cuaron, luar angkasa tidak menjelma sebagai rahim metaforis yang kemudian melahirkan kembali Dr. Stone dalam keadaan suci dan bertuhan, menjadi bak seorang Hawa prelapsarian jaman modern. Dan inilah yang saya suka, ada subteks yang filosofis tentang ketuhanan dalam “Gravity” tanpa adanya kesan menggurui.

Di tengah kejenuhan film sains fiksi yang seringkali bombastis dan pretensius (alien dan alien lagi!), “Gravity” hadir menjadi oasis yang menyegarkan. Namun ada satu yang perlu digarisbawahi, sebagus apapun “Gravity”, ia tidaklah terlalu groundbreaking. Ia bukanlah jawaban dari generasi kita untuk film-film semacam “2001”-nya Kubrick atau “Solaris”-nya Tarkovsky. Menurut saya, “Gravity” tidaklah lebih baik dari “Moon”, film tahun 2009 dengan premis yang sama (serta teknik narasi dan sinematrografi yang sama-sama subtilnya). Meskipun terdapat beberapa kesalahan saintifik, “Gravity” tetap realistik, tetap menegangkan, dan sangat menghibur secara visual. Ridley Scott dan James Cameron boleh berbangga dengan “Prometheus” dan “Avatar”-nya. Akan tetapi, bagi saya, film Cuaron kali ini defying gravity; ia terbang lebih tinggi daripada milik mereka.