Menggoreng Dongeng, Menanak Imajinasi – Bag. II

suki.jpg_effected

– Lanjutan dari Menggoreng Dongeng, Menanak Imajinasi Bag. I

Boleh saja kita memilih dongeng anak tanpa pesan moral atau edukasi, demi tujuan menghibur saja. Agar tidak menjadi cerita selintas lalu, setelah dibaca kurang berkesan bagi pembaca, daya imajinasi penulis haruslah lebih liar lagi atau gaya bahasanya berseni. Tanpa mengabaikan tujuan dari tulisan “Menggoreng Dongeng, Menanak Imajinasi” ini, yakni agar tulisan kita menjadi lebih matang dan lebih terkenang di mata dan di pikiran, kali ini saya akan membahas dua hal tersebut.

B. Latar Tempat dan Waktu yang Imajinatif

1. Dunia baru

Kita membuat dunia baru yang berisikan makhluk-makhluk tak pernah dikenal sebelumnya. Bisa dengan penggabungan hewan-hewan yang ada di dunia nyata, selain makhluk mitos Yunani karena sudah dikenal (misalnya Hippogriff, kuda berkepala dan bersayap burung; atau Griffin, singa bersayap burung). Atau seperti yang ada di kartun serial Avatar, The Legend of Aang atau di The Croods, misalnya, macan berkepala burung hantu dan, monyet berparuh bebek. Bisa juga ditambah dengan hukum-hukum alam yang berbeda dengan hukum alam di dunia nyata. Misalnya, petir tercipta dari raket listrik di awan.

Hal yang harus diperhatikan agar pembaca dapat meresap ke dalam dunia buatan penulis adalah irisan dengan dunia nyata. Ada hal-hal di dunia rekaan tersebut yang serupa dengan yang ada di dunia nyata. Hal yang membuat Harry Potter begitu mudahnya diterima adalah karena kita sendiri bisa merasakan, misalnya di Hogwarts ada guru favorit dan guru yang menyebalkan, seperti di sekolah pada umumnya.

2. Menyulam

Kita bisa menggabungkan hal-hal yang sudah ada dan menjadikannya cerita yang utuh. Gaya menyulam ini dilakukan oleh Rick Riordan di serial Percy Jackson and the Olympus miliknya. Di dua buku awal yang saya baca, plotnya adalah deretan kemunculan para dewa yang memiliki kekuatan khasnya masing-masing. Satu kemunculan lantas disulam dengan kemunculan lainnya menjadi cerita yang satu, utuh, dan tidak terpisah-pisah. Misalnya: ada seorang tokoh dari planet lain yang harus pergi ke dasar laut bumi untuk menyalakan sesuatu. Diceritakan latar di planet tersebut seperti latar di Star Wars, saat jatuh ke bumi dia terdampar di hutan yang pohonnya dapat berbicara seperti kaum Ents di Lord of the Rings, dia mengarungi laut bersama Viking dan bertarung melawan Kraken, menceburkan diri ke dalam laut dan menemukan Bikini Bottom.

Kekurangan teknik menyulam ini adalah kurang kuatnya hukum sebab-akibat antara adegan yang satu dengan adegan yang lain dan hal itu saya temukan di buku karangan Rick Riordan tersebut. Oleh karena itu, bila menggunakan teknik menyulam ini sebaiknya diperkuat sebab-akibatnya.

3. Modifikasi

Inilah gaya yang paling mudah dan paling saya sukai. Kita memodifikasi dongeng yang sudah ada menjadi dongeng baru. Hal inilah yang dilakukan oleh Disney dengan dongeng-dongeng yang menjadi kartun andalan mereka seperti Snow White dan Sleeping Beauty. Kalau kita baca versi asli dari kedua dongeng tersebut, bisa saya perkirakan tak ada yang mau membacakannya untuk anak-anak karena begitu menyeramkan. Contoh film-film kartun yang mengalami modifikasi selain kartun klasik tersebut adalah Shrek (hasil modifikasi banyak sekali dongeng) dan Tangled (hasil modifikasi Rapunzel).

Bagian yang dimodifikasi bisa banyak sekali: motif, cara, akhir. Saya ambil contoh misalnya dongeng yang menceritakan kenapa elang mengincar anak ayam dan ayam selalu mengorek-ngorek tanah. Bagian yang dimodifikasi bisa barang yang dicari ayam di tanah, kenapa dulu bisa jatuh ke tanah, kenapa dulu elang bisa memilikinya. Semua bagian dapat dimodifikasi dan menciptakan dongeng yang baru.

C. Gaya Bahasa Berseni

Selain kedua bahan di atas, gaya bahasa bisa jadi hal yang kita tonjolkan di dongeng kita. Jadi meskipun tidak ada pesan moral atau edukasi yang disampaikan, meskipun latar cerita kurang imajinatif, cerita yang kita buat bisa tetap menarik dengan gaya bahasa sebagai bungkus yang memperindahnya. Gaya-gaya ini tidak perlu ada sepanjang cerita, cukup di beberapa bagian saja sudah menambah nilainya.

1. Rima

Rima adalah kalimat yang berakhir dengan bunyi yang sama. Saya bisa pastikan sudah banyak yang terbiasa membuat rima sehingga tidak perlu dijelaskan lebih banyak. Namun, terkadang kita sulit untuk menentukan pasangan rima dari sebuah kata. Maka dari itu di sini saya hanya menginformasikan bahwa masalah itu dapat diatasi dengan mengunjungi situs http://kamusrima.com.

Selain akhir yang berujung sama, kita bisa membentuk kalimat yang berawalan sama. Contohnya: Dari kemarin ayah terbaring lemas di tempat tidur. Danar dan ibunya begitu cemas. Dalam dua jam, ayah sudah lima kali ke kamar mandi muntah-muntah. Untuk membantu mencari kata yang berawalan sama, kita bisa menggunakan  situs http://badanbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ dengan terlebih dahulu mengganti “sesuai dengan” menjadi “diawali”.

2. Pantun Jenaka

Selain kalimat yang berima, kita bisa mengembangkan deskripsi menjadi pantun jenaka. Pantun ini bisa saja berupa gurindam atau pantun empat baris. Tinggal kita yang pandai meramunya agar terdengar lucu bagi anak-anak.

3. Aliterasi

“Pengulangan bunyi konsonan yang sama disebut aliterasi. Pengulangan bunyi yang dapat dikategorikan pada bunyi aliterasi adalah pengulangan bunyi secara dominan.” (Hasanuddin, 2002: 75).

”Aliterasi adalah pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan.” (Laelasari dan Nurlailah, 2006: 24)

”Aliterasi adalah pola persajakan berupa runtun konsonan dalam larik sajak.” (Yuwana, dkk, 2006: 43)

Konsonan yang dipilih agar sering berbunyi sehingga jadi dominan dapat menjadi pola aliterasi, bagi saya, eksplisit dan implisit. Pola eksplisit adalah pola di mana huruf konsonan yang berbunyi dominan terletak di akhir atau awal kata, sedangkan pola implisit adalah pola di mana huruf konsonan yang berbunyi dominan terletak di tengah kata.

Contoh eksplisit di akhir:

Anis menangis sebab si Puspus menggores-gores buku bergaris yang belum habis.

Contoh eksplisit di awal:

Bapak berangkat ke bedeng naik becak Bang Boim. Banyak becekan. Beberapa bajaj balap-balapan dan buang gas. Bikin bapak bengek. Bapak berkeluh kesah. Bang Boim berpeluh, bajunya basah.

Contoh implisit di tengah:

Feri buru-buru pergi dari barak karena Amara berseru-seru kebakaran dari arah dapur.

Kalau kalian ingat dulu pernah ada “obat” untuk menghilangkan cadel pada anak-anak dengan kalimat yang berbunyi, “Ular melingkar-lingkar di pagar, berputar-putar sampai gemetar,” kalimat itu menjadi menarik karena gaya aliterasi.

4. Asonansi

”Asonansi merupakan pemanfaatan unsur bunyi secara berulang-ulang dalam satu baris sajak. Halnya sama dengan aliterasi, hanya pengulangan di sini merupakan pengulangan bunyi-bunyi vokal.” (Hasanuddin, 2002: 76). Pendapat ini didukung oleh Sujidman dalam Yuwana, dkk. (2006: 45) ”Pola persajakan berupa perulangan bunyi vokal pada kata yang berurutan tanpa disertai ulangan bunyi konsonan disebut asonansi.” Laelasari dan Nurlailah (2006: 45) menyatakan bahwa ”Asonansi adalah perulangan bunyi vokal dalam deretan kata.”

Kubuka-buka terus buku kuning itu. Kubaca satu-satu hurufnya. Ibu selalu memberi tahu, baca buku bagus buat hidupku. Aku butuh ilmu bergunung-gunung untuk mampu hidup maju di tahun-tahun baru.

Aturan Dalam Mengolah

1. Kalimat pembuka yang kreatif

Langsung hapus apabila kalian menggunakan “pada suatu hari…, zaman dahulu kala…, dahulu ada seorang…” Pakem ini sudah terlalu klise untuk dipakai di dongeng anak. Kita bisa memakai gaya aliterasi untuk kalimat pembuka agar lebih menarik.

2. Gaya bahasa harus cocok untuk umur anak yang dijadikan sasaran, seperti bebas dari kalimat majemuk. Kalau bisa mengenalkan kosakata baru dengan konteks jelas.

3. Uji pasar

Coba berikan dongeng atau fantasi anak buatan kalian ke anak yang umurnya menjadi sasaran cerita kalian. Tanya seberapa paham mereka terhadap isinya. Apabila pemahaman mereka tidak seperti yang kita inginkan, tanya kenapa mereka bisa berpikir seperti itu agar kita bisa tahu bagian mana yang harus diubah untuk menjelaskannya. Setelah itu tanya dia suka atau tidak dengan cerita yang kita buat. Kadang kita sendiri terlalu pesimis sampai malu sendiri dengan cerita rekaan yang sudah susah payah kita buat. Kita saja yang tidak tahu bahwa pembaca kita ternyata menyukainya. Kalau tahu pembacanya suka, kita tak mungkin sibuk menuruti pesimisme kita sendiri. Beri hadiah sebagai ucapan terima kasih kepada anak itu, misalnya coklat batang yang kecil. Tantang dia, kalau mau membacakannya di depan keluarga yang lain, akan dapat coklat batang yang lebih besar. Kalau dia berhasil, dia akan ketagihan membaca dongeng dan fantasi buatan kita.

Sekali lagi formula ini bisa diikuti, tetapi lebih baik dikembangkan dan dimodifikasi agar menjadi gaya sendiri. Ingatlah resep muffin, brownies, dan blackforest yang nikmatnya luar biasa tersebut tercipta dari resep yang diolah melenceng dari formulanya, tetapi justru menciptakan jati diri dan disukai. Selamat berimajinasi!