Menggoreng Dongeng, Menanak Imajinasi – Bag. I

Saya sering merasa jengah pada orang yang saya kagumi cerita atau tulisannya, tetapi setiap kali saya tanyai bagaimana caranya agar cerita atau tulisan kita semenarik miliknya, mereka menjawabnya hanya dengan, “Tulis saja semua yang ada di pikiranmu”. Sama sekali tidak memberikan jawaban. Kalau kita bertanya kepada seorang koki bagaimana caranya memasak sajian yang teramat nikmat, kalau ia berbaik hati pasti ia menjabarkan alat dan bahan serta cara mengolah semua bahan, bukan hanya berkata, “Masukkan saja semua bahan yang ada di kulkasmu.”

Bertahun-tahun saya menajamkan indera pengecap sendiri. Untuk mencicipi setiap hidangan yang dibuat oleh banyak penulis, untuk menerka-nerka apa saja bahannya; mencoba-coba bagaimana mereka mengolah semua yang ada, untuk menciptakan sajian yang bisa saya nikmati berkali-kali. Mungkin beberapa tebakan saya salah atau ada bahan rahasia yang lolos dari kecapan. Atau prosesnya sedikit berbeda sehingga rasanya tak sama. Tapi setidaknya saya jadi punya sedikit pengetahuan untuk mengolahnya sendiri.

Formula dongeng dan fantasi anak yang saya bocorkan ini pun hasil tebak-menebak tulisan para profesional oleh indera pengecap saya yang terkadang salah atau kurang terka. Formula ini bisa diikuti, tetapi lebih baik dikembangkan dan dimodifikasi agar menjadi gaya sendiri. Ingatlah resep muffin, brownies, dan blackforest yang nikmatnya luar biasa tersebut tercipta dari resep yang diolah melenceng dari formula awalnya, tetapi justru menciptakan jati diri dan disukai.

Ada tiga bahan dominan dari sebuah cerita dongeng dan fantasi anak. Ketiga bahan ini dapat dicampuradukkan dengan proporsi yang tepat sehingga menjadi karya yang kompleks dan detail dan menjadikannya bernilai seni tinggi, atau sebagai satu-satunya bahan utama agar rasanya semakin menempel di ingatan pembaca dan membikin mereka ketagihan membaca karya kita. Kali ini saya hanya membahas bahan utama pertama.

A.      Plot Cerita

Bahan ini merupakan ruh dari sebuah cerita. Pola sederhananya adalah pengenalan, masalah, klimaks, penyelesaian, dan akhir. Hal-hal yang saya jabarkan berurutan sesuai apa yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.

1. Pesan moral

Anak-anak belum mengerti banyak tentang dunia, tentang bagaimana seharusnya dia bersikap, tentang bagaimana balasan orang atau hewan di sekitarnya atas perlakuannya, tentang bagaimana akibat dari perbuatannya. Oleh karena itu, anak-anak seharusnya diarahkan dengan cara yang menyenangkan, salah satunya adalah membaca dongeng dan fantasi yang mengandung nilai moral. Pesan moral bisa dibagi menjadi beberapa macam.

a. Moral tentang perilaku anak demi dirinya sendiri:

anak harus rajin mengerjakan PR, bersemangat berangkat ke sekolah, rajin salat, selalu ingat menggosok gigi, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

b. Moral tentang hubungan antara anak dan alam juga lingkungan:

biasa menyiram tanaman, rutin memberi makan peliharaan, atau gemar memungut sampah terserak di jalan untuk dibuang ke tempat sampah.

c. Moral tentang hubungan antara anak dan keluarga:

bisa mengutarakan kemarahannya tanpa harus marah-marah sampai memukul-mukul orang tua, bisa menghargai uang yang diberikan oleh ayahnya, membantu ibu memasukkan baju kotor sendiri ke mesin cuci, meminjamkan mainan ke adik, membiarkan kakaknya mengerjakan PR dulu baru mengajaknya bermain.

d. Moral tentang hubungan antara anak dan orang-orang di sekitarnya:

mencari solusi bila berkelahi dengan temannya dan mau meminta juga memberikan maaf, berani bertanya pada ibu guru, percaya diri mengajak teman baru untuk ikut bermain.

2. Sains

Dongeng dan fantasi anak bisa jadi media belajar yang menyenangkan. Jadi selain pesan moral, penulis bisa menyisipkan edukasi tentang alam sekitar kepada anak. Misalnya: bagaimana siklus hujan, terciptanya pelangi, rotasi bulan hingga purnama, gerhana matahari, pembuatan madu, dan lain-lain.

3. Sebab dan Konsekuensi

Cara mengajarkan pesan moral kepada anak adalah mengenalkan akibat yang akan terjadi apabila anak mengabaikan pesan moral tersebut. Cara mengenalkan di dongeng dan fantasi anak bukanlah dengan kehadiran tokoh dewasa yang menasihatinya, tetapi si tokoh anak atau tokoh yang mewakilinya mengalami konsekuensi sendiri sehingga dia dapat mengerti bahwa apa yang dilakukannya salah. Konsekuensi sebaiknya dibuat berefek domino, banyak hal yang terciprat dampaknya, agar rasa jera yang timbul semakin besar. Efek domino juga akan menimbulkan kesan klimaks dalam cerita.

Oleh karena itu, harus ada sebabnya terlebih dahulu. Misalnya, anak akan mendapatkan nilai merah sehingga gagal dapat hadiah rumah Barbie yang diidam-idamkan sejak lama karena dia malas belajar. Hewan peliharaan jatuh sakit atau mawar tak berbunga karena mereka selalu menolak merawat mereka.

Konsekuensi haruslah realistis dan benar-benar dapat mereka rasakan. Sering kali orang tua salah mengenalkan konsekuensi yang pada akhirnya kurang dipahami anak-anak. Contoh pengenalan konsekuensi yang menurut saya sebaiknya dihentikan adalah nasi yang akan menangis kalau tidak dimakan. Seharusnya konsekuensinya menempel pada anak, misalnya jadi kurang bertenaga sehingga tidak bisa ikut bermain dengan teman-temannya karena kelelahan.

Konsekuensi yang harus benar-benar dapat mereka rasakan menjadi alasan kenapa saya tidak memasukkan pesan moral antara anak – Tuhan, karena konsekuensinya yang terlalu menyeramkan (disiksa dalam neraka) serta tidak bisa langsung mereka bayangkan dan rasakan. Lagi pula, lebih baik menceritakan kisah para nabi daripada membuat cerita sendiri.

Di sinilah bagian yang harus diberikan perhatian lebih karena kreativitas dan orisinalitas kita terlihat dari sini. Juga karena dua hal ini, dua poin selanjutnya dapat dikembangkan menjadi lebih menarik dan imajinatif.

4. Solusi

Tentu saja solusi ini adalah menyelesaikan semua konsekuensi yang timbul karena perbuatan anak. Tentunya yang harus menemukan dan melakukan solusi-solusi tersebut adalah tokoh anak atau tokoh yang mewakili anak (karena bisa saja hewan atau tumbuhan). Hal ini akan memancingnya menjadi problem solver, bukannya menjadi anak-anak kebingungan yang selalu menunggu petunjuk dari orang lain. Lebih baik semua masalah selesai dan akhirnya bahagia. Anak terlalu berharga untuk dikenalkan dengan kegagalan sedini itu.

5. Masalah

Setelah ditentukan sebab yang memicu konsekuensi, kita ciptakan masalah-masalah yang membuat anak melakukan sebab tersebut. Karena keterbatasan jumlah kata, masalah bisa langsung dimunculkan di awal bersamaan dengan pengenalan latar dan para tokoh.

6. Alur Maju

Inilah yang membedakan antara cerita untuk anak dan cerita untuk dewasa. Kita yang sudah dewasa biasanya menganggap alur maju, apalagi yang terlalu linear dengan deretan sebab-akibat akan membosankan. Alhasil kebanyakan cerita untuk pembaca yang umurnya lebih tua memiliki alur campuran. Anak-anak lebih mudah mencerna cerita dengan alur maju. Agar menciptakan alur maju, keempat unsur di atas diurutkan menjadi:

  • Perkenalan tokoh, latar, dan masalah
  • Sebab dan konsekuensi
  • Solusi
  • Akhir yang bahagia.

— bersambung ke bagian kedua

  • http://redemptionsoldier.blogspot.com Gita Wiryawan

    Konsekuensi haruslah realistis dan benar-benar dapat mereka rasakan?

    Kalau niatnya bikin dongeng yang jauh dari realita sih nggak harus gitu ya. Sah-sah aja bikin cerita nasi nangis, atau apapun. Namanya juga fantasi. Ada naga terbang sama monyet ketahuan nyontek pas sekolah aja bisa kok.

  • Edgar Juliawan

    Menurutku dongeng untuk anak-anak tidak lah harus selalu realistis dalam koneksi sebab-akibat. Justru sebaliknya, lebih banyak disisipi dengan metafora yang sedikit khayal. Misalnya saja metafora bulan yg dimakan raksasa ketika gerhana, atau nasi yg menangis.

    Akan ada waktunya bagi anak-anak, kelak, untuk memahami siklus bulan ataupun pembakaran kalori dalam tubuh. Metafora yg menarik justru akan memancing keingintahuan mereka untuk membuktikannya. Lagipula, bukankah khittah dongeng adalah untuk merangsang imajinasi milik anak-anak?

  • http://nurmbud.blogspot.com ibud

    buatku, yang terpenting dari dongeng itu adalah pesan moralnya dan kemampuan dongeng itu untuk mengembangkan imajinasi dari pembacanya terutama anak-anak. sehingga anak-anak tumbuh menjadi anak yang kreatif dan mempunyai keluhuran budi.

  • fadila hikayana

    reblog ya kak… :3 boleh kah?

    • http://fauziatma.blogspot.com Marli Haza

      Boleh, asal cantumkan sumber.
      Sekalian promosikan #KudaBesi dan reblog bagian II-nya boleh kah? :)

  • nurulashari

    jikalau dongeng anak yang ternyata lebih pas buat dewasa apa jadinya ya? kaya Where The Wild Things Are, story book pada awalnya buat anak anak, ketika diangkat film jadi deh cerita yg terlalu rumit buat anak anak.
    oiya, dongeng anak ini termasuk ilustrasi didalamnya gak ya?

  • Pingback: Kuda Besi: Sebuah Pengantar Sebelum Kau Membeli Buku | Birokreasi()