Lilin

“Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.”

Ungkapan bijak yang bagi saya adalah retoris belaka. Bagaimana jika sudah gelap dan warung terdekat tidak menjual lilin? Atau lilin ternyata sudah terjual ke orang lain yang sebenarnya lampunya melimpah ruah dan jika mati lampu dia sudah punya genset?

Bagi orang-orang yang sudah punya lampu dan genset, sebenarnya lilin adalah barang yang tak penting-penting amat. Hanya sebagai pelengkap. Sementara bagi orang yang sudah berada di kondisi mati lampu terlalu lama, mempunyai lilin sebatang adalah berkah yang luar biasa. Cahaya sekecil apapun adalah berkah. Mau sesebentar apapun, cahaya adalah nikmat yang luar biasa bagi orang yang sudah berada dalam kegelapan sekian lama.

Mengapa saya bicara soal lilin dan nyala api? Karena nyala api kecil sebenarnya lambang sesuatu yang besar. Coba tengok sebentar lambang Dinas Pendidikan. Di tengahnya terdapat nyala api kecil. Konon itu adalah nyala api blencong, penerang yang digunakan saat pertunjukan wayang. Dalam falsafah Jawa, nyala blencong itu bukan sembarang terang. “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku”, nyala blencong adalah petunjuk dalam dalam lumaku/berjalan di kehidupan. Nyala adalah penunjuk jalan, pedoman hidup. Seperti dalam wayang, blencong menyala, pertunjukan lantas dimulai.

Mengapa Dinas Pendidikan membuat lambang nyala api kecil, bukan neon atau petromaks? Karena pendidikan itu penerang dari kegelapan. Karena pendidikan pula lah yang memerdekakan bangsa. Para pendahulu bangsa, bangkit dengan suluh kecil, dari satu orang yang bangkit dari kegelapan, kemudian mengajar terang kepada yang lain. Jadilah bangsa ini terang. Terang untuk bangkit dari kegelapan bukanlah terang yang besar, ia bisa menyilaukan. Terang kecil adalah pembuka tabir kegelapan. Pendidikan dalam tataran api kecil tadi adalah berfungsi sebagai suluh, penerang. Tanpa pendidikan, siapapun itu akan selalu dalam kegelapan, terbodohkan dan lebih parah daripada katak dalam tempurung.

——

Tapi tampaknya mendapatkan pendidikan adalah bukan perkara mudah, walaupun kondisi sekitar sudah terang benderang. Di kota besar lampu tak pernah mati selama 24 jam. Terang benderang dari lampu neon, lampu jalan, dan lampu apa saja bisa menyala dan penduduknya tak pernah risau memikirkan kegelapan. Jika gelap, tinggal komplain ke perusahaan listrik, maka bak sulap, tak sampai semenit lampu menyala kembali dan penduduk kota besar kembali berpesta menikmati terang.

Sementara hanya satu belokan dari kota besar, ada kota kecil yang penduduknya hanya melihat terang dari kota besar. Menikmati terang dari jauh. Sesekali lampu menyala, hanya segelintir orang di kota kecil yang menikmati. Sesekali lampu menyala, orang berebutan mendapatkan terang. Ada yang mendapatkan sekali, dua kali, tiga kali. Akan tetapi lebih banyak yang melihat dengan iri karena belum mendapat giliran mendapat terang lampu meskipun kecil; ada yang harus menelan ludah melihat lampu sekecil itu semakin diperebutkan penduduk kota kecil. Dan ludah seolah menjadi empedu pahit setelah melihat nyala terang kota besar.

——

Kisah gelap dan terang ini pun menjadi persoalan yang tak kunjung usai di institusi di mana banyak pegawai bergelimang terang, sementara masih banyak juga pegawai yang harus saling sikut untuk menikmati terang yang tak kunjung datang. Jika pendidikan sudah dituliskan dalam lembar suci undang-undang sebagai hak segala bangsa, maka yang terjadi adalah hak dipasung dengan syarat yang membuat hak sebagai sesuatu kemewahan yang harus diraih dengan berdarah-darah.

Institusi ini tidak berjalan maju, tetapi mundur dalam pendidikan, walaupun pembuat aturan itu memang orang-orang yang yakin pasti berpendidikan – bergelimang terang tak hanya di kota besar tapi juga ke negeri seberang. Namun, mungkin setelah menerima terang, mereka terlalu silau. Lupa mendengar dan tak mampu melihat dalam kegelapan.

Mungkin banyak sudah menjadi curut tanah. Hidup di dalam tanah, gelap gulita. Namun kiranya menjadi curut lebih terhormat. Curut mampu melihat jelas dalam gelap, mempu mencari jalan dalam gelap. Sementara orang yang lama hidup dalam terang benderang akan langsung ciut begitu mendengar gelap. Mereka jauh dari gelap, menikmati euforia terang benderang.

——

Laku yang paling logis dan umum dari sebuah organisasi jika ingin maju adalah dengan menyekolahkan pegawainya, memberikan pendidikan yang bagus dan mendorong seseorang untuk terus mendapatkan pendidikan. Upgrade SDM adalah persoalan bagaimana mendapatkan pendidikan, dengan begitu sebuah organisasi bisa maju dengan sendirinya.

Rupanya saya berada di organisasi yang unik. yang menantang alur logis umum dan memilih berjalan mundur. Di mana pendidikan menjadi hal yang susah ditemui. Mendapatkan pendidikan harus melalui syarat yang begitu berat, mulai dari huruf a, b, c, d sampai z.

Kualitas SDM di organisasi ini mungkin tidak terlalu penting, atau mungkin organisasi ini menganut kapitalisme pabrik? Buruh tidak perlu berpendidikan tinggi, yang penting mampu bekerja. Buruh yang berpendidikan hanya akan memberontak dan menuntut lebih, bukan begitu? Tapi sayang, SDM di organisasi terlalu rendah jika diperlakukan sebagai buruh. Kasihan jika mereka terpasung aturan. Banyak intan yang cemerlang tidak akan tergali tapi justru akan terbenam lebih dalam.

Untuk organisasi yang selevel, organisasi ini sudah tertinggal terlalu jauh. Di level yang sama, organisasi lain sudah membebaskan pegawai untuk beroleh pendidikan, bahkan sampai ke negeri seberang. Di organisasi ini sebaliknya, makin mempersulit mendapatkan pendidikan, dengan syarat yang berlipat pula.

Ironisnya di saat banyak yang antre mendapatkan pendidikan dan berhampa mengharap pendidikan, ada yang rupanya berkali-kali mendapatkan pendidikan. Menyebalkan. Bagi orang yang mendamba pendidikan, melihat orang berkali kali mendapatkan tiket menuju pendidikan dengan mudah adalah seperti pungguk merindukan bulan. Melihat bulan saja sudah alhamdulillah.

——

Mungkin banyak yang akan skeptis dan bilang bahwa saya hanya mengeluh dan orang yang putus asa. Akan tetapi mengeluh adalah bagi orang yang tak pernah berusaha dan menyerah dalam susah hidup. Saya bukan orang seperti itu. Saya bukan orang yang gampang mengeluh, saya sudah mencoba berbagai macam jalan, dan buntu. Atau saya barangkali harus mendobrak pintu? Kalau saya mudah mengeluh dan menyerah, saya tak akan sanggup kuliah sarjana sampai menempuh 130 kilometer setiap harinya.

Saya pernah mendapatkan info diklat dari kementerian. Diklat itu harusnya sudah disebar ke seluruh eselon di bawahnya, karena saya mendapatkan info diklat ini dari teman sesama eselon di kementerian. Namun, ketika saya tanyakan ke bagian yang mengurus pendidikan di  Jakarta sana, saya lampirkan undangan diklat, saya lampirkan cv saya, jawaban yang saya dapat hanya “nanti akan saya teruskan kepada yang berkepentingan”. Sampai diklat usai tidak ada jawaban untuk saya. Atau mereka tidak mampu menjelaskan sehingga tidak mampu menjawab? Saya tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan diklat itu.

Beberapa waktu lalu ada tawaran short course. Ada permintaan membuat esai dalam bahasa inggris. Saya sudah membuatnya, esai ilmiah dengan referensi ilmiah dalam Bahasa Inggris. Saya kirim dan jelas kalau ini saya tidak terpilih, karena syarat golongan tidak memenuhi. Akan tetapi saya memilih buta dengan syarat golongan karena saya merasa mampu, toh organisasi ini juga pura-pura buta dengan mereka yang menuntut haknya. Saya memang tidak berniat untuk terpilih, saya hanya ingin menunjukan orang sana bahwa tanpa melihat golongan pun ada orang yang sebenarnya mampu dan mau. Namun, entah yang disana sadar atau tidak, mungkin surat saya dibaca pun tidak.

Ketika ada pengumuman mendapatkan pendidikan, seperti di awal tadi, penduduk kota kecil ditawarkan lampu. Lampu hanya ada satu, sementara yang butuh ada seribu. Saya selalu mendaftar, tetapi tak kunjung dipanggil. Ironisnya, ada orang-orang tertentu yang selalu dipanggil. Orang-orang tertentu yang selalu mendapatkan kesempatan, sementara yang lain harus puas dengan jawaban “Eits, tunggu dulu. Kamu harus menunggu!”

Saya sampai mengemis ke orang lain apakah ada peluang untuk mendapatkan pendidikan. Saya harusnya malu karena harus mengemis ke orang lain untuk sesuatu yang harusnya menjadi hak setiap orang. Akhirnya saya mencoba mendaftarkan short course sendiri, ke negara di mana tulip mekar berbunga dengan indahnya. Saya terangkan bahwa biaya ditanggung pemerintah negara tulip dan sebagainya bla… bla… bla… Jawabannya singkat saja: “kita harus lihat aturannya bisa atau tidak.”

Bahkan untuk sesuatu yang saya usahakan sendiri, saya cari sendiri, organisasi tidak mengeluarkan biaya, dan nanti justru organisasi akan mendapatkan keuntungannya dengan gratis, masih saja saya harus menghadapi kalimat yang sudah meruntuhkan semangat. Saya tak pernah takut mencoba, seperti saya tak takut bicara. Kata Pramoedya ketakutan itu sendiri adalah kebodohan awal yang akan membodohkan semua. Saya tak mau takut karena saya tak mau bodoh.

——

Saya iri pada orang-orang yang dengan mudahnya mendapatkan pendidikan dan saya tak mau lagi berkubang dalam kebodohan. Saya iri dengan mereka yang sudah maju ke depan sementara saya masih ditahan-tahan. Jika saya tak ingat Tuhan, tak ingat keluarga, mungkin saya sudah keluar dari jalan ini, mencari jalan lain yang lebih mudah.

Kata-kata “semangat”, “jangan putus asa”, “jangan mudah menyerah” di mata saya sudah tak ada gunanya. Saya sudah tak bisa merasakan getaran di balik dorongan itu semua. Saya bukan kehilangan motivasi, saya hanya sudah tak mau berharap lagi. Harapan hanyalah manis semu sakarin yang sebenarnya membuat lidah pahit dan sakit. Pendidikan adalah jauh panggang dari api dan kata-kata pemerataan mendapatkan pendidikan hanyalah kata-kata manis di surat yang tak pernah terbukti.

Pada akhirnya saya hanyalah buruh pabrik yang menyerah pada kapitalisme penguasa, mematikan otak, bekerja dibalik mesin, dan memilih menjadi bodoh karena keadaan. Namun saya selalu pegang kata-kata Tolstoy, “Tuhan tahu tapi menunggu.”