Jatuh

Pagi menyambut kita dengan hujan lamat-lamat bulan Oktober, dan udara Kaliurang yang memeluk cangkir kopiku dan mengambil semua panas tubuhnya. Engkau masih tertidur pulas. Punggungmu yang telanjang tertutup selimut yang tergulung-gulung, persis seperti ombak Pantai Selatan yang dulu sering kita kunjungi. Sesekali engkau tersenyum dalam lelapmu, entah mimpi apa yang sedang berputar dalam benakmu. Pada saat-saat seperti ini aku merasa kita begitu dekat, namun begitu jauh. Ada fragmen dalam hidupmu yang tidak pernah bisa kulihat, tidak bisa aku mengerti. Karena senyuman seperti itu tidak pernah kutemui tatkala engkau bangun.

“Sudah bangun?”

“Oh. Eh… Iya. Mau kopi? Biar aku buatkan.””

“Tidak, tidak usah. Aku mau mandi saja. Badanku rasanya lengket.”

Dua bilah tangan putihmu menggelung rambut yang mengilat sisa percumbuan kita tadi malam. Kau lantas datang menghampiriku, dengan masih telanjang, dan memagut bibirku, sebelum akhirnya kau masuk ke kamar mandi. Aku tetap merasa ada yang hilang dari lembut bibirmu. Ada keragu-raguan yang tidak bisa kita bicarakan. Mungkin kamu pun juga merasa ada yang hilang. Mungkin karena kau memagut bibirku, dan bukan bibirnya.

Habis dua batang rokok sebelum akhirnya kau keluar dari kamar mandi. Beberapa menit berlalu dan keheningan tak juga pergi.

Bersama denganmu membuatku tersiksa. Kita hanya merayakan berahi dan ketelanjangan, tapi bukan cinta. Atau mungkin cinta pernah ada, namun lama-kelamaan dia rapuh dan usang disesah waktu, sampai akhirnya ia dibunuh oleh cinta yang baru. Aku tidak benar-benar tahu. Sekarang yang ada hanya tinggal selongsong kering berupa cincin yang melingkar di jari-jari kita, yang memberangus kita dengan cinta dalam tanda petik. Selebihnya hanya keterpaksaan.

“Yuk, kita sarapan.”, ujarmu tiba-tiba.

Kau bangkit, menyusuri koridor dan turun menuju dapur. Aku mengikutimu dari belakang. Tanganmu mengambil beberapa tangkup roti tawar dan mengolesinya dengan mentega di satu sisi, dan selai coklat kesukaanmu di sisi yang lain. Kau mengambil wajan, menaruh sedikit mentega, dan lantas mengawinkan roti-roti itu di dalamnya.

“Bikin yang agak banyak. Aku lapar.”

Kau terkekeh dan menyodoriku beberapa, mungkin empat atau lima.

“Dihabisin ya?”

Kita membawanya di kursi dekat jendela, sambil melihat hujan yang masih menemani kita dengan setia. Apakah semesta sedang bercanda sehingga aku dan kau harus seringkali terpenjara di sini?

“Aku ingin bicara tentang sesuatu. Aku sudah tahu semua, dan sudah saatnya sandiwara ini berakhir. Mari kita akhiri pertunangan kita ini.”

Ya, aku tahu. Aku tahu kalau kita sudah berakhir sejak kau menemukan dia. Aku melihat renjana di matamu menyala-nyala kembali setelah lama mati. Beberapa tahun berbagi suka, duka, dan setiap jengkal tubuh, tak lantas menganugerahi kita dengan cinta. Kita hanya tertawa-tawa, seakan-akan semuanya sempurna.

Ada air di sudut matamu. Kamu mulai terisak.

“Kenapa, Mas?”

“Aku sudah tahu. Laki-laki yang kau temui di restoran itu. Aku tahu di mana kalian pernah menghabiskan malam-malam berdua, bersama. Aku mungkin menutup mata, tapi aku tidak buta.”

Tanganmu mencoba merengkuhku, namun aku menepisnya. Dingin membingkai wajahmu yang pucat dengan selaksa kemuraman, seperti awan yang sedang berarak-arakan di atas sana.

“Kita sudah sama-sama dewasa. Tidak ada gunanya memaksakan cinta. Cinta itu seharusnya membebaskan.”

“Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.” Kau duduk nyaris bersimpuh dengan pandangan mata yang layu terpaku ke arah lantai, yang makin dingin seiring hari yang makin lindap.

“Tidak, tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah di sini.”

Seperti itulah hidup. Tidak ada yang mengatur kepada siapa kita jatuh dan mencinta. Dan ketika tiba saatnya kita menemui bahwa kita sudah tidak jatuh bersama-sama lagi, mungkin inilah waktunya kita berjalan sendiri-sendiri.

“Tidak usah dipaksakan bersama jika memang hanya ini yang tersisa.” Aku mencopot cincin pertunangan kita dan menaruhnya di atas meja tepat di depanmu. Binarnya masih mengilat sama seperti baru, begitu pula dengan milikmu. Kita berdua menatapnya dengan nanar, bagaimana bisa gilap sebuah cincin lebih tahan lama daripada cinta yang diwakilinya?

“Kamu tidak layak tersiksa, tidak layak terpenjara. Pergilah dengannya jika memang itu membuatmu bahagia.”

Udara terasa semakin menggigit kulit, dan aku sudah kehilangan siapa yang menghangatkanku bertahun-tahun ini. Kali ini aku ikut menangis tanpa suara. Kau memelukku sekali lagi, kedua tanganmu merengkuh erat. Egoku runtuh dan pasrah seiring hangat tubuh kita yang makin lekat. Mungkin inilah kali pertama kita jujur setelah sekian lama. Kejujuran yang sudah semakin langka dalam hubungan kita. Gejolak dalam hati yang sudah lama terkekang akhirnya keluar tanpa perlu kata-kata.

Aku mendorongmu perlahan, melepaskan tubuhku dari tanganmu yang membentuk ikatan. Di sana, di sudut bibirmu terlihat kelegaan. Kita terlahir kembali setelah sama-sama mengalami kematian. Benar, mungkin sudah cukup bagi kita untuk menambah kenangan. Inilah saatnya kita berpisah tanpa perlu melupakan.

Aku mengepak barang-barangku. “Tidak usah kamu bantu. Aku bisa sendiri.” Kita tak lagi bicara, sebelum akhirnya aku keluar dari pintu rumahmu, dan kau memelukku sekali lagi sambil berkata agar aku hati-hati di jalan, dan juga terima kasih.

Aku memacu mobilku sampai ke kota Yogyakarta, berniat mencari beberapa tenggak alkohol untuk menghancurkan otakku ini. Namun, pikiranku berubah, dan ia menuntunku menuju suatu rumah di kawasan Gondomanan.

Aku mengetuk pintu.

“Oh, hai sayang, kok tumben main nggak ngabarin dulu?”

Aku hanya diam dan menjawab pertanyaannya dengan sebuah pagutan di bibir.