Di Bandara

band.jpg_effected

– Waktu jalan (denganmu), aku tidak tahu apa nasib waktu

Sayangku, kamu tahu malam ini seharusnya jadi malam yang biasa saja buat kita berdua. Kita tidak sedang berjalan lebih jauh, ke entah berantah, seperti dikisahkan dalam irama liris milik Banda Neira. Kita juga tidak sedang berdua menuju ruang hampa seperti lagu yang Efek Rumah Kaca biasa senandungkan. Dan kita bukan pula tengah berniat menjadi sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, sebagaimana Melancholic Bitch memberi nama buat lagunya yang termahsyur kala dinyanyikan oleh Frau itu.

Sama sekali tidak.

Kita cuma sedang melakukan sesuatu yang sederhana saja. Kita duduk bersebelahan di sini. Pupil kita silih bertumbuk. Bau nafas kita saling meraba. Pundak kita kerap bersinggungan. Kedua telapak kaki kita sama-sama tidak sedang menjejak permukaan bumi. Dan kita bisa menghidu aroma parfum masing-masing, saat kita diam-diam menghirup napas dalam-dalam. Sebab malam ini, kita —aku dan kamu— hanya sedang dipisahkan oleh jarak yang begitu renik, katakanlah, cuma beberapa zarah saja. Dan kamu tahu, sayangku, kita jarang sekali mendapatkan momen-momen seperti ini.

Sungguh aku sadar betul kalau di sini —di dalam kabin berlapis baja yang bisa terbang ini, yang warna putihnya telak kalah oleh binar kiranamu itu— kenyataannya kita memang tidak benar-benar sedang berdua saja. Ada banyak orang lain di dalam sini, yang seharusnya tetap kita anggap keberadaannya. Bukan diacuhkan begitu saja seperti katamu barusan. Tetapi bukankah peduli terhadap kasak-kusuk mereka —orang-orang yang kebetulan saja punya titik tuju yang sama dengan kita itu— adalah hal terakhir yang ingin kita lakukan apabila pipimu sudah bertengger di bahuku seperti sekarang ini?

Jika sudah begini, aku rasa keruh awan dan jernih kilat yang terlihat dari jendela tempat kita duduk ini tak pernah seseram yang mata kita rekam. Sebab segetir dan sederas apapun awan-awan itu coba menenun hujan serta memugar bias-bias baskara dengan segala kelam, selalu ada bayan terang yang bisa ditangkap jelas pada retina kita berdua. Sebuah terang, yang jika saja kita lebih memilih untuk menyimpannya sendirian di dalam toples keheningan, barangkali bakal membikin gelap semakin ditahbiskan sebagai sahabat karib bagi waktu-waktu yang pernah lenyap.  Atau setidaknya bakal membuat ia kerap beranjangsana lagi, di pintu-pintu yang usang tak berpenghuni.

Tetapi kamu tentu juga tahu, sayangku, bahwa gelap tidak pernah datang kepada kita malam ini. Walau lampu di dalam kabin sedang padam dibunuh redam. Walau langit dimana tempat kita berkendara ini sudah berubah muram dan meruam. Ada satu titik pada perjalanan kita berdua ini, yang membuat kita bisa sama-sama mengamini bahwasanya pada saat terbalur dalam bilur gelak riang percakapan serta kedua tangan yang saling memagut seperti sekarang ini, adalah sebenar-benarnya terang yang membungkus. Ia —saat-saat seperti ini— selalu bisa membuat kita merasa kudus, walau kenyatannya hidup kerap penuh dengan melankolia di dalam kardus.

Kata orang, sesuatu yang menyenangkan kerap membikin kita jadi gampang melupakan. Ia adalah permen manis yang bakal membikin kita kembali menjadi bocah pandir yang cuma tahu perihal manis gula-gula. Tanpa bisa mengingat lagi bahwa jika memakannya terlalu banyak, kelak di kemudian hari, satu demi satu gigi kita bakal mengeropos dimakan ketidakberdayaan. Sampai akhirnya tanggal dengan perih, karena sudah terlalu ringkih untuk dipakai bertopang pada gusi.

Menempuh perjalanan ini bersamamu pun demikian, sayangku. Ia membawa kesenangan yang betul-betul melenakan.

Aku pikir kamu sudah tahu, bahwasanya perjalanan di udara sebenarnya tak pernah menjadi kawan yang karib bagiku. Atau seandainya ia telah berusaha keras untuk menjadi kawan yang baik, aku tak pernah merasa demikian. Selalu ada ketir yang getir serta rasa waswas yang mawas saban kali mendengar pengeras suara meminta rasa waskita dari para penumpang, tatkala benda raksasa yang menelan banyak orang di dalam lambungnya ini akan segera lepas landas, menolak permukaan bumi.

Bagaimana kalau ia tak kuasa melawan tarikan gravitasi?
Bagaimana kalau rodanya mendadak tergelincir?
Bagaimana kalau mesin pendorongnya tiba-tiba mati?
Bagaimana kalau ini adalah perjalanan terakhir kita sebagai seorang manusia?

Segala ketakutan dan kekhawatiran macam itu, yang barangkali kamu anggap terlalu degil lagi berlebihan, pada kenyataannya selalu mampir dan bersilang sengkarut di dalam batin. Tak peduli berapa sering aku melakukan perjalanan seperti ini.

Tetapi malam ini rupa-rupanya ketakutan dan kekhawatiran tengah lupa memberi salam. Entah mereka tertinggal di ruang tunggu keberangkatan, atau bisa jadi mereka tak sempat waktu untuk melakukan boarding sampai panggilan terakhir selesai disuarakan. Ah, persetan dengan mereka, yang jelas malam ini perjalanan di udara telah melakukan gencatan senjatanya dengan baik. Ia menjelma sesosok gadis dengan sekantung permen manis, membikin seseorang yang sejak dua jam lalu duduk di sebelahnya, hanyut dalam eskalasi glukosa juga senyum penuh gula-gula.

Lalu masih adakah ketakutan yang tak berani ditemui jika tubuh sudah kadung kuyup oleh riak-riak kebahagiaan seperti sekarang ini, sayangku?

Aku rasa, kamu pun sudah tahu jawabannya.

Walaupun pada akhirnya, sayangku, kita sadar kalau kesenangan selalu punya akhir yang anyir. Seberapa hebat dan sepanjang apa pun kesenangan mengurung kita dari segala penjuru, ia tak pernah alpa untuk kembali pulang dan memberi kalimat perpisahan. Adalah sebuah keniscayaan apabila kesenangan memang punya hak mutlak untuk pulang dengan meninggalkan residu yang pahit, juga sisa remah-remah yang bernanah. Ia —saat-saat berakhirnya kesenangan— adalah godam raksasa yang mampu meratakan seisi kota Gotham dalam sekali hantam, bahkan saat Bruce Wayne belum sempat menyelesaikan makan malam.

Dan seperti bocah kecil yang menjerit-jerit pada saat gigi gerahamnya digerus desing mata bor manakala gigi keroposnya coba ditambal, aku sadar betul kalau malam ini pun, kesenangan tidak pernah melupakan kewajibannya untuk pulang. Lewat suaranya yang paling liris, malam ini kesenangan berpamitan dengan satu kalimat yang mengiris:

“Suamiku sudah menunggu di bandara.”


Post Scriptum: Setelah diteliti kembali, lagu “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” ternyata pertama kali dipopulerkan oleh grup band Melancholic Bitch. Lagu ini terdapat di dalam album pertama mereka, Anamnesis, yang rilis pada tahun 2005. Sedangkan Frau, mendaur ulang lagu tersebut lewat album Starlit Carousel di tahun 2010.

Terima kasih atas koreksinya, Margaretha Nitha (@nitnitha).

  • http://fauziatma.blogspot.com Marli Haza

    Membaca tulisan Galih seperti membaca karya klasik Shakespeare dan F. Scott Fitzgerald. Galih sering kali menggunakan kata-kata yang tampaknya memunah karena hampir tak pernah lagi disenandungkan rakyat Indonesia. Dari diksinya, Galih mengajari kita bahwa perbendaharaan kata Indonesia tidaklah sefakir yang kita pikir. Kita saja yang terlalu malas mengimlakan diri sendiri aksara-aksara berharga dari kamus besar bahasa Indonesia.

    • http://goodtemptation.blogspot.com Galih Rakasiwi

      Wah, kalau dibadingkan sama Shakespeare/Fitzgerald kayanya ketinggian banget. Tulisan saya mah cuma butiran debu, dibanding The Great Gatsby/Romeo Juliet 😀

      But, thanks anyway, Marli.

      • http://fperdhana.blogspot.com Fanny Perdhana

        Fitzgerald tinggal di Paris. Galih tinggal di Lombok. Fitzgerald udah mati. Galih masih hidup. Ya kerenan Galih kemana-mana!!

  • super_panda

    Mas, pasti pelajaran Bahasa Indonesianya dulu selalu dapat ponten di atas sembilan. Atau sekedar nilai tujuh karena guru mas tidak sampai mengerti maksud tulisan mas tapi cukup mengerti kalau ia teridentifikasikan indah.

    Mas bisa jadi salah satu di antara pengamal sumpah pemuda. Mereka yang selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan, bukan mengesakan, Bahasa Indonesia. Setidaknya satu tingkat lebih tinggi dari kemampuan saya.

    – ditulis dengan rasa kagum sekaligus sebal yang tumpah melimpah ruah.

    • http://goodtemptation.blogspot.com Galih Rakasiwi

      Saya lupa berapa nilai pelajaran Bahasa Indonesia saya dulu, mas, tapi kayanya sih lebih tinggi daripada nilai ujian Akuntansi saya, waktu di semester 2 dulu. Ah, sudahlah…