Cerita ini Fiktif

 

– Suatu ketika, di tahun 2005

“Mas, uang gajian sudah habis. Maafkan aku,  Mas.” kata Mbak Aini kepada suaminya.

“Sssshhhh…” cuma sebuah tarikan napas panjang yang sanggup keluar dari mulut Mas Diro.
Sebuah tarikan nafas yang di dalamnya tidak hanya mengisyaratkan suatu keluh yang masam, tapi juga perlambang satu kepasrahan yang temaram.

Mas Diro dan Mbak Aini adalah pasangan muda yang baru tiga tahun menikah. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini berumur dua tahun. Seorang anak yang lucu dan menggemaskan, walau tak jarang membuat mereka geleng-geleng kepala jika sudah ngambek meminta sesuatu.

Sehari-hari  Mas Diro bekerja sebagai pegawai di salah satu instansi pemerintah. Tapi ia cuma pegawai rendahan. Gajinya pas-pasan, dan sering tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagi Mas Diro, gajinya tak ubahnya fase menstruasi yang rutin dialami kaum hawa: rajin datang setiap bulan, tapi kalis dengan mudah hanya dalam tempo seminggu-dua minggu saja. Sementara Mbak Aini hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sehari-hari pekerjaan Mbak Aini adalah mengurus suami dan anaknya.

Jauh di lubuk hatinya, Mbak Aini sebetulnya ingin sekali membantu suaminya dengan mencari pekerjaan sampingan guna menambah penghasilan, juga tabungan. Tapi ia tak mentala jika harus membiarkan anaknya jadi tak keurus. Maka percakapan yang penuh dengan keluhan sepeti barusan, menjadi sesuatu yang akrab bagi keluarga mereka, dan hampir selalu kejadian setiap bulan.

***

“Lho, Mas. Kok sudah pulang?” tanya Mbak Aini kepada suaminya yang tak biasanya sudah mencapai bibir pintu rumah, bahkan saat malam belum mencapai pertengahannya.

Saban Malam, selepas menunaikan pekerjaannya sebagai abdi negara, Mas Diro mempunyai pekerjaan sampingan sebagai kenek. Sudah setengah tahun ini ia menjalani profesi ini guna mencari tambahan penghasilan. Mulai pukul sepuluh malam, Mas Diro akan bergegas mencari muatan di desa-desa sekitar tempat ia tinggal untuk dibawa ke kota. Pukul tiga dini hari, biasanya ia baru sampai di rumah. Maka tak heran jika istrinya menangkap sesuatu yang janggal kala Mas Diro pulang lebih awal daripada biasanya.

“Iya nih, soalnya Cak Mat lagi sakit,“ sahutnya. Cak Mat adalah sopir mobil ELF yang biasa dikondekturi Mas Diro.

“Sakit apa mas?” tanya Mbak Aini kepada suaminya yang tampak lesu itu.

“Terus kapan mulai narik lagi?”

“Waduh, nggak tahu, Dik. Bisa sehari, bisa juga seminggu atau lebih,” sahut Mas Diro sembari menyeka keringatnya. Tenaganya memang tak terlalu terkuras seperti biasa karena ia tak narik malam itu, tapi wajahnya malah tampak pucat lesu.

Yok po, Mas, kalo mas ngomong langsung sama Om Atib aja. Siapa tau nanti Mas dibolehin pegang satu ELF?” kata Mbak Aini coba memberi usul.

“Bener juga. Besok pagi aku tak sowan ke Om Atib, tak ngomong soal masalah iki sama beliau,” kata Mas Diro kepada istrinya.

Yo wis sekarang tidur lagi aja, Dik.”

***

Keesokan harinya, Mas Diro pun bertandang ke rumah Om Atib. Beliau terkenal sebagai juragan angkot di desanya. Angkotnya kurang lebih ada sepuluh. Cak Mat, sopir yang biasa dikondekturi oleh Mas Diro, adalah salah satu anak buahnya. Kebetulan, Om Atib juga masih bersaudara dengan Mbak Aini. Maka diutarakanlah maksud kedatangan Mas Diro kepadanya.

“Kamu ndak malu ta? Nanti kalo temen-temenmu ada yang liat kamu gimana?” tanya Om Atib sedikit menaruh ragu kepada suami dari ponakannya itu.

“Kalau aku sih sebenernya nggak masalah, malah seneng bisa membantu ponakan,” lanjut Om Atib. Kali ini dalam air mukanya seperti menyimpan setitik rasa iba.

“Nggak lah, Om. Mana ada temen-temenku jam segitu masih di jalan. Mereka pasti sudah istirahat di rumah dengan keluarganya,” tukas Mas Diro yakin.

Yo wis kalo begitu, mulai hari ini kamu aku kasih izin pegang satu ELF,” kata Om Atib memberi lampu hijau kepada Mas Diro.

“Makasih, Om,” sahut Mas Diro lega.

“Ngomong-ngomong kamu sudah punya sim B1 belum?” pertanyaan Om Atib mendadak membuat Mas Diro teringat kalau SIM-nya sudah lama tak diperpanjang.

“Itu… Nganu, Om. Saya baru ingat kalau SIM saya sudah lama ndak tak urus. Gimana ya?” jawabnya sambil sedikit menggaruk-garuk kepala.

“Hahaha, ya sudah ini sekalian buat ngurus SIM,” kata Om Atib sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.

“Wah, terima kasih banyak, Om. Jadi nggak enak, belum mulai kerja sudah ngerepotin begini.”

***

Kurang lebih satu setengah tahun lamanya Mas Diro menjalani dua profesi yang kalau dipikir-pikir sama sekali tidak nyambung satu sama lain. Pagi sampai sore hari, separuh lebih kehidupannya dihabiskan dengan bekerja di salah satu direktorat pada Kementerian Keuangan. Sedangkan malam harinya, ia menyusuri jalan-jalan yang gelap dan tak melulu mulus, mengangkut muatan dari desa untuk dibawa ke kota. Semua dilakukannya demi mencukupi kebutuhan untuk keluarganya.

Beruntung, setelah adanya reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian tempat Mas Diro bernaung, yang diiringi dengan naiknya penghasilan berkat adanya remunerasi bagi pegawai-pegawainya, nominal take home pay Mas Diro naik dalam jumlah yang cukup signifikan. Kebutuhan dasar keluarganya pun bisa tercukupi dengan layak, dan ia tak perlu lagi mencari pekerjaan tambahan. Dengan berat hati, akhirnya Mas Diro meninggalkan pekerjaan sampingannya sebagai supir, dan berkonsentrasi penuh untuk profesinya sebagai abdi negara.

Kelak, di kemudian hari, jika memiliki waktu senggang, Mas Diro masih sering menyempatkan diri mengunjungi teman-temannya sesama supir di Terminal. Dalam suasana cangkrukan yang penuh keriaan, sesekali Mas Diro mengenang masa-masa silamnya sebagai seorang supir angkot.


Post Scriptum: Cerita ini adalah improvisasi dari hasil nguping obrolan “Mas Diro” dengan salah seorang teman waktu berangkat ke kantor.

  • http://www.findofondi.wordpress.com findo

    Apik,
    Sederhana tapi ngena.

  • Ditya

    Endingnya kurang manis, agak terburu-buru ingin cepat selesai apa ya, hehe.