Kereta di dalam Gerobak

Kereta masih merayap di atas relnya. Deru dan decit seperti menegaskan usia tua gerbong-gerbong berjajar ini. Juga membuat derit hati penumpangnya menepi antara garis-garis batas sepi dan pedih peri, sementara hujan di luar masih menebali angkasa. Tiap tetesan hujan menimpa kereta laksana kerikil yang menghempasi tubuh tua. Mereka jatuh, menghujam, membuat tubuh kereta itu makin bergerak dengan payah. Dan kereta pun makin berderit, makin berdecit, dan makin pelan pula jalannya.

Jarum jam tanganku membentuk sudut senyum di pukul 22.10. Senyum yang berlawanan dengan suara derit kereta yang kubenci. Apa ia ingin meledekku yang masih tetap terjaga setelah hampir melintasi setengah Pulau Jawa. “Sial! Kenapa juga aku harus naik kereta?” gerutuku dalam hati.

Sebuah surat datang di kantorku siang tadi dalam sebuah amplop klasik berwarna putih dengan garis merah dan biru berselang seling mengelilingi sudutnya. Sengaja tidak cepat kubuka begitu kulihat nama pengirimnya yang tertulis besar-besar: Sumiharjo Buwono. Lelaki itu masih seperti dahulu, menjunjung tinggi kaidah Bahasa Indonesia lama. Tipikal orang kuno yang enggan diajak menjadi modern, atau memang tidak sanggup dibawa ke alam modern di mana telepon genggam lebih cepat mengirimkan sebuah pesan daripada berbaris-baris surat yang mengayun-ayun dalam keranjang tukang pos dan entah kapan baru sampai.

Kereta kembali berhenti. Aku mencoba menangkap rembang cahaya di kejauhan. Di mana aku sekarang? Huruf-huruf tegas berderet nyata di sana: “TEGAL”.

“Ah, ternyata masih di Tegal”, sahutku dalam hati.

Suara dalam hati ini lembut walau di wajahku gerutu masih menemukan rumahnya dan enggan berpindah.

“Masih setengah jalan lagi menuju rumah”, gumamku waspada. Jangan sampai perasaan senang karena tinggal separuh perjalanan kulalui menghapus benciku yang telah aku jaga berhari-hari. Waspada agar alam pikiranku tidak kemana-mana.

Di meja kerja, akhirnya kubuka surat itu. Ternyata isinya pendek saja:

 

“Assalamu Alaikum, Anakku..

Bagaimana kabarmu, Nak? Sehat, kan? Sudah lama Ayah tidak mendapat kabar darimu. Seperti surat-surat sebelumnya, Ayah selalu menyisipkan maaf atas kesalahan di masa lalu. Kesalahan yang membuat perihmu selalu bangkit dan kamu tumpahkan kepada Ayah, Nak. Selalu Ayah ungkapkan padamu: Maafkan Ayah, Nak.

Namun bukan masalah itu yang membuat Ayah mengusikmu lewat surat ini. Ibumu, Sunarti, sedang sakit. Tubuhnya makin lama terlihat makin renta setelah batuk rejan itu menyerang. Ayah takut kalau Ibumu sudah tidak punya waktu cukup lama lagi. Mbah Rono bilang kira-kira lima hari adalah sisa umurnya paling lama. Pulanglah, Nak. Lupakanlah segenap dendammu sejenak saja.

Wassalamu Alaikum

Sumiharjo Buwono

 

Aku menghela nafas, ada badai mengamuk di dalam dada. Entah geram ataukah kasihan yang bercampur baur dalam dinding-dinding perasaanku yang memang tipis sejak dulu. Kenapa pula harus kuturuti surat ini untuk menjenguk Sunarti? Ada urusan apa? Dendam yang membatu telah mengikisi waktu, dan kegembiraanku sepanjang pagi itu seketika berlalu.

“Mas, mau pulang ke mana?”, suara lembut itu memudarkan lamunanku.

“Ke Kediri, Mbak.”

Aku berusaha menyimpulkan senyum. Kala itu, menyimpulkan tali terasa jauh lebih mudah.

“Kalau mbaknya mau ke mana?” Batinku mengetahui kalau itu cuma basa-basi.

“Solo, Mas…”, ia membalas senyumanku. Ujung bibirnya ditarik sedemikian rupa hingga raut wajahnya menjadi manis. Semakin manis malah. Aku lupa bahwa wanita ini memang manis sejak awal dia naik dan duduk di sebelahku. Mungkin kekalutan pikiranku yang membuat persepsiku akan cantiknya paras menjadi berubah. Begitulah manusia, makhluk paling sempurna yang sering diperdaya amarah hingga membuat akalnya binasa. Tapi bukankah cantik itu soal hati, dan sedari tadi memang hatiku yang kalut?

“Kok diam saja, Mas? Saya lihat dari tadi Mas melamun dan muram?”

“Ah, masa, Mbak? Saya baik-baik saja kok, cuma memang tidak suka hujan…”, bunyi jawabanku beresonansi dalam kerongkongan.

Begitu pendeknya surat serta begitu dalamnya pedih membuatku gemetar. Kuhela nafas kembali, apa perlunya aku pulang menemui Ayah dan Sunarti? Semudah itukah melepaskan dendam? Semudah menghanyutkan daun dalam aliran Kali Ciliwung yang sering aku lakukan dulu? Daun itu lenyap seketika ditelan naik turunnya arus yang deras. Kalaupun bukan dendam, apakah benci juga bisa dilepaskan semudah itu? Hati manusia bukan lirih daun yang mudah luruh dalam pusaran air.

Surat ini ditulis tiga hari yang lalu, berarti lusa adalah akhir jangka waktu yang diberikan oleh Mbah Rono, dukun terpercaya di Desa Duwet, Kediri. Berarti esok malam aku sudah harus berangkat dari Jakarta jika aku memutuskan untuk pulang. Tentu saja aku juga harus memikirkan naik apa untuk bisa sampai ke Desa Duwet jika memang nantinya pulang. Kata jika dan jika terus berpendar di kepalaku, lalu lenyap dan kosong seketika. Sepertinya, hatiku mulai lelah untuk segala dendam.

“Saya hampir saja ketinggalan kereta, Mas. Hujan ini bikin macet tadi di jalan”

Aku baru sadar kalau wanita ini masih mengenakan baju kantoran

“Mas juga cabut dari kantor terus langsung ke stasiun ya?”

“Eh… Iya. Tadi takutnya macet dan emang rencana pulangnya mendadak.” Pertanyaanku seakan dijawab dan dibalas dengan pertanyaan yang sama. “Wanita cerdas”, batinku.

“Memang sepertinya hujan bikin susah ya, Mbak, sampe kita ini rela ga mandi. Dari kantor langsung ke stasiun ngejar kereta ini.”

“Wah saya sempet mandi kok, Mas. Pake air hujan di jalan tadi… Hahaha”

“Hahaha…”

Kami pun terbahak bersama-sama.

Sesungguhnya, aku masih enggan untuk pulang selepas membaca surat itu sampai kutemukan helai yang kedua. Tulisan di helai itu lebih buruk dari yang pertama. Guru sekolah dasarku dulu pasti lebih suka menyebutnya cakar ayam. Tapi tulisan cakar ayam itulah yang menyentuh hatiku lebih dari kelembutan segala puisi yang pernah kubaca. Tulisan itu penuh guratan. Aku merasakan kegigihan tangan senja dengan wajah yang dipenuhi guratan pula, mencoba membariskan larik demi larik kata agar perasaanku bisa menyala saat membacanya.

“Nang1, ayo pulang ke Kediri. Maafkan saja semuanya, Nang. Di sini Ibu juga sudah tentram, sudah ikhlas. Ibu sakit kalau Ayahmu sedih. Ibu juga kangen kamu, Nang.

Ibu”

Pertahanan di pelupuk mataku tumbang, air mata mengalir. Bagiku, Ibu adalah gemercik air tanpa suara. Maka lirih rindu dalam tulisannya lebih dari cukup untuk memaksa anak semata wayangnya ini pulang. Menuju Desa Duwet di Kediri.

Arlojiku menunjukkan pukul 01.50. Jarum jam membentuk sudut senyum yang sama seperti pukul 22.10. Kami masih sibuk tertawa dan menertawakan. Dua orang dengan baju kantoran, duduk bersebelahan, dan begitu akrab setelah membicarakan hujan.

Namanya Rani, asalnya dari Solo dan sekarang sedang bekerja di sebuah perusahaan finansial di Ibukota.

“Mas Karta memangnya sudah lama ga pulang ya?” Geletak giginya begitu menawan.

“Iya, Ran. Aku bahkan udah lupa rasanya mudik itu gimana?”

“Bukankah enak kalau bertemu keluarga, Mas? Bapak sama Ibu Mas masih sugeng2, kan?”

“Alhamdulillah masih, kok… Memang mungkin akunya aja yang terlalu sibuk kerja” Jelas ini jawaban berpura-pura. Aku tidak mau dianggap durhaka olehnya, walau durhaka dan pendendam adalah dua sikap yang berbeda.

“Sibuk kerja atau sibuk pacaran, Mas?”

“Hahaha”, tawa kami bergemuruh lagi di lorong kereta. Beberapa wajah mulai tampak masam karena lelap tidurnya tertunda.

Menjelang lebaran begini, tiket pesawat sudah terlampau mahal. Aku tidak mau naik angkutan lain. Bis atau kereta hanya akan memutar kaset rusak berisi rekaman kemiskinanku sendiri. Sejarahku diukir bersama Ayah dan Ibu di atas kereta. Kami adalah orang yang terlalu percaya dengan dongeng urbanisasi berisi kisah sukses di ibukota. Maka seketika itu juga iming-iming kebahagiaan membawa kami ke atas kereta menuju Jakarta. Kami orang desa mudah terbuai cerita-cerita pertumbuhan ekonomi dan gedung-gedung yang gampang menyulap orang biasa menjadi kaya. Cerita yang ternyata sudah usang di kemudian hari.

Aku juga tidak mau pergi ke terminal karena nasibku dipahat juga di sana. Tiada terminal yang tak pernah kujejaki. Debu dan aspal jalanan adalah tempatku berlari-lari. Maka bis jenis apapun adalah teman-temanku sendiri. Aku tidak mau kembali kepada kemiskinan.

Penolakan ternyata cuma bongkahan kayu dalam api. Ia akhirnya hancur juga saat esoknya segala tiket telah habis. Cuma tersisa satu moda: kereta ekonomi Brantas pukul 16.00. Dengan pilihan itu, maka aku terpaksa izin pulang awal karena jam kantor baru usai pukul 16.30.

Sial! Sial! Sial! kataku berulang-ulang. Dada makin memanas. Namun bayangan tentang gemericiknya suara Ibu membawaku lemah. Biar kusiksa kesombonganku sebentar demi seseorang yang ternilai namun sempat aku lupakan karena pilihannya akan keikhlasan untuk menampung cinta seorang pendosa.

Hujan pun kutembus. Aku turun dari taksi sebelum benar-benar sampai di stasiun. Tubuhku basah. Sama seperti Rani, aku dimandikan juga oleh hujan.

“Mas, sudah hampir sampai Solo nih”, Rani seakan ingin menutup dialog

“Oh iya, ya… Kamu turun di mana? Solo Jebres?”

Pertanyaan yang sebenarnya retoris, gumamku dalam hati

“Iya Mas.”

Ia menarik ujung bibirnya lagi.

Kali ini wajahnya begitu manis dan aku bisa sangat menikmati senyumnya yang terkulum itu. Namun apakah ini akhir dari semuanya? Perpisahan pamungkas dari sebuah pertemuan kami? ataukah pembukaan dari pertemuan-pertemuan kami yang lain? Kereta berderit memelas. Tubuh tuanya perlahan berhenti di Solo Jebres.

“Kamu pulang ke Jakarta lagi tanggal berapa, Ran? Mungkin biar bisa bareng lagi”, kata-kata itu tiba-tiba berbaris meninggalkan mulutku tanpa perintah.

Rani tersenyum lagi. Aku menikmatinya lagi.

“Kayaknya aku pulang ke Jakarta esok diantar suamiku, Mas. Naik mobil.”

Jam tanganku menunjuk pukul 03.42. Sudut jarumnya seperti kesedihan. Kali ini dia tidak meledek karena aku pun sedih. Dan hujan turun semakin deras.

Bulir hujan itu menyiksa sekali. Setidaknya itu yang ada di ingatanku, Karta kecil. Mataku kukedip-kedipkan karena derasnya hujan benar-benar mematuki wajahku. Kumpulan kardus ini ternyata tidak benar-benar melindungi tubuh mungilku. Aku melihat Ibu kepayahan menarik gerobak seorang diri. Wajah Ibu begitu merah sekaligus pucat, mungkin perpaduan antara sedih dan marah.

Makin lama hujan turun makin deras. Aku menutupi tubuhku dengan kardus sembari mengintip kesusahan Ibu menarik gerobak. Gerobak yang tiba-tiba ditarik kencang ketika melewati sebuah sudut sepi di bawah sebuah jalan tol. Diantara jutaan bulir hujan dan gemuruh angin, mataku menangkap gerik seseorang yang kukenal. Seseorang yang tadi siang pamit untuk mencari uang tetapi tak kunjung pulang. Sekujur dendam pun lahir kala aku melihat peristiwa sial itu:

Sumiharjo Buwono mencumbui Sunarti.


1) Nang, berasal dari kata (anak) lanang atau anak laki-laki dalam bahasa Jawa. Merupakan panggilan sayang.

2) Bahasa Jawa, artinya hidup, dan/atau dalam keadaan sehat.