Suri Wilan

Sore, air laut menyapu pantai. Membawa butiran pasir lalu membawanya pergi lagi.

Sepasang kaki putih bersih tenggelam setengah senti di pasir. Kaki milik seorang gadis yang sering dipanggil Suri. Ifsuri Meilani lengkapnya. Gadis desa, kembang desa, dari keluarga biasa. Cantik memesona. Rambutnya panjang sebawah pundak, berwarna kecokelatan, keriting agak kusut. Kulitnya tetap putih, mungkin ada garis keturunan Cina.

Tangannya terlipat di depan dadanya. Risau menanti Wilan, kekasihnya. Seorang remaja yang juga dari keluarga biasa. Tidak begitu tampan, hanya saja menjadi pujaan perempuan-perempuan setempat.

Dia cerdas, tidak heran jika dia berhasil meraih beasiswa dari sekolah dasar hingga kuliah. Dan sekarang diharuskan berangkat ke Kepulauan Natuna. Beasiswa kuliahnya yang mengharuskannya. Bekerja sebagai teknisi pertambangan minyak dan gas bumi selama 10 tahun. Klausul lain menyebutkan bahwa Wilan tidak diizinkan pulang dan atau menikah dalam jangka waktu dua tahun pertamanya dengan alasan apa pun.

Suri berdiri lama terdiam tanpa gerak tanpa ekspresi, selain kedipan mata dan tarikan napasnya yang sedikit sesak. Tiba-tiba saja matanya terasa berat, ada sesuatu yang memaksa keluar darinya: air mata.

Ia bisa merasakan kehadiran Wilan yang telah berdiri terpaku sepuluh meter di belakangnya. Suri terisak. Dadanya sesak. Mereka berdua sama-sama tahu belum saatnya berbicara.

Suri berlari dengan sisa tenaganya tanpa menoleh ke arah Wilan. Kakinya gemetar. Berulang kali jatuh tersungkur di pantai. Wilan bergeming. Dan Suri pun terus berlari.

***

Di rumahnya, Suri masuk ke kamar mandi. Mengunci dirinya. Menghujani tubuh yang lengket karena air laut dengan semburan shower. Panggilan orang rumah yang khawatir tak dihiraukannya. Menangis sesenggukan hingga habis tenaganya.

Wilan datang. Masuk tanpa diizinkan. Mendobrak pintu kamar mandi dengan kekuatan penuh tanpa menghiraukan larangan keras ibunda Suri. Ia menemukan tubuh Suri lemas. Pingsan karena akumulasi lemas, kelelahan, dan kedinginan. Dengan cepat ia angkat tubuh Suri. Ibunda Suri panik. Wilan segera menaruh tubuh Suri di ranjang kamar ibundanya. Membiarkan ibundanya menggantikan pakaiannya yang basah kuyup.

Panas tubuhnya meningkat, sekaligus dingin yang menusuk yang dirasakan. Belum sadar dari pingsan, ia mengigau memanggil-manggil nama Wilan.

Wilan membisikkan ke telinga Suri untuk memintanya tenang. Suri merasakan dingin yang jauh lebih menusuk dari sebelumnya. Tubuhnya menggigil keras. Wilan segera menyelimuti Suri dengan puluhan lapis selimut, tetapi Suri tetap merintih kedinginan. Wilan tanpa pikir panjang lagi segera memeluk tubuh Suri dengan erat. Erat sekali. Barulah Suri tenang dan tak berapa lama ia siuman. Sadar Wilan yang ada di atas tumpukan selimutnya, ia tampar keras-keras wajah Wilan kemudian memeluknya sekuat tenaga. Sambil terisak. Lama sekali. Wilan terdiam, tidak melawan. Ia sadar, melawan akan memperburuk suasana dan juga hati Suri.

Melepas Wilan untuk waktu yang begitu lama, bagi Suri sama seperti mencabut kuku dengan paksa. Bahkan lebih sakit lagi. Tetapi, itulah konsekuensi yang harus ditanggungnya. Ini juga demi masa depan mereka berdua. Sebab dulu ia sendiri yang mendorong Wilan untuk meraih beasiswa itu. Ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya.

Esok adalah hari keberangkatan Wilan. Dalam keadaan masih lemas, Suri bangkit dari tempat tidurnya. Menarik tangan Wilan untuk mengajaknya ke suatu tempat. Ibunda Suri tak kuasa menahan.

Tempat yang dimaksud Suri ternyata sebuah bukit. Bukit yang sangat mereka kenal dan penuh kenangan. Bukit berumput rendah yang mereka tetapkan sebagai tempat khusus saat-saat berbahagia. Tidak boleh ada kesedihan di sana. Bukan maksud Suri mengubah paten bukit itu malam ini. Ia hanya ingin menyatakan rasa bahagianya, tidak ada sedikit pun kesedihan, sekaligus memberikan restu kepada Wilan untuk pergi demi masa depan mereka yang lebih baik.

“Tenang saja, aku bahagia, sangat bahagia,” kata Suri sambil tersenyum dan menatap mata Wilan dalam-dalam.

“Terima kasih, dengan ini langkahku menjadi lebih ringan. Ini untukmu. Mm, maksudku untuk kita,” jawab Wilan seraya memberikan sebuah cincin kepada Suri.

Wilan melamar Suri malam itu, di bukit mereka, bukit kebahagiaan mereka. Wilan melingkarkan cincin pemberiannya ke jari manis Suri. Dada Suri kembali sesak. Bukan karena sedih, melainkan rasa bahagia yang sangat membuncah. Bercampur dengan rasa tidak percaya lelaki pujaannya melamarnya. Malam ini sungguh malam yang istimewa di tempat yang istimewa.

Sekali lagi, Suri memeluk erat Wilan, juga dengan air mata. Air mata bahagia.

“Tunggu aku dua tahun lagi,” bisik Wilan.

Suri hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.

  • http://about.me/heruirfanto Heru Irfanto

    Sebelum membaca cerpen ini, seperti biasa, saya sempatkan beberapa detik pertama untuk scrolling laman. Cukup pendek. Saya termasuk orang yg suka membaca cerpen yg seukuran ini, dengan harapan akan ada sebuah klimaks yg bombastis entah itu di tengah atau di akhir cerita, tanpa membiarkan kebosanan terlebih dulu datang seperti halnya cerpen-cerpen panjang pada umumnya.
    Namun sayang, saya masih belum menemui ke-bombastis-an itu..

    Oh ya, pemberian nama tokohnya unik. Saya suka. Yg seperti ini kadang bisa menjadi ‘nilai jual’ sebuah cerpen seperti halnya yg Sukab-nya Seno Gumira Ajidarma, atau Kukila-nya M. Aan Mansyur misalnya. 😀