Perihal Adam yang Menerobos Pantangan

Aku melihat perempuan itu berjalan mendekat ke arah kami. Aku gugup demi melihat gerakannya yang melambai namun pasti. Tanpa senyuman, dia mengambil kursi, duduk di hadapanku dengan gemulai. Hanya meja plastik yang memisahkan kami.

“Aku lupa membawa rokok. Dan lagi sepertinya kafe ini tidak menyediakannya. Bolehkah aku….?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja.

“Tentu saja. Silakan.”

Dia mengambil sebatang. Asap membubung dari bibirnya ketika ia mengucapkan terima kasih.

“Kau menyukaiku?” kata wanita itu tanpa perlu intro berbelit.

“Oh.. apa? Aku tak mengerti maksudmu.”

“Aku kira kau tertarik padaku.”

Aku bingung harus menjawab apa.

Kuperhatikan wajah itu. Aku bertaruh umurnya tak kurang dari empat puluh. Mungkin terpaut 15 sampai 20 tahun denganku. Guratan halus di bawah matanya mengabarkan hal itu. Tapi jangan salah, ia tetap ayu. Rambutnya diikat satu. Tersampir ke depan melalui sebelah kanan bahu. Terjuntai dan berakhir di bagian atas tonjolan payudaranya yang indah bagai sabtu. Kaos yang dipakainya tipis seperti tisu. Ketat dan tak merahasiakan segala lekuk tubuh. Warnanya yang langsat memberi sensasi seolah ia tak memakai baju. Membuatku nafsu dan menjadikan pikiranku melayang saru.

“Ehemm!” dia terbatuk. Buyar lamunanku.

“Mengapa kau berkesimpulan kalau aku menyukaimu?” tanyaku.

“Aku perhatikan kau melihatku sejak tadi.”

Sial. Dia tahu. Aku memang sempat memperhatikannya. Duduk sendiri di ujung ruangan. Melamun di meja paling sudut.

“Oh.. maaf jika itu mengganggumu. Aku hanya melihatmu di seberang sana dan merasa tertarik untuk memandang lebih lama.”

“Apakah kau merayuku?”

“Maaf jika terkesan seperti itu. Tapi sama sekali tidak. Maksudku, aku baru melihatmu di sekitar sini. Dan sepertinya kau memang bukan orang yang tinggal apalagi berasal dari sini. Yah mungkin kau tahu maksudku. Di kota sekecil ini, semua orang hampir pernah saling melihat. Paling tidak saling mengenali wajah meski tak pernah bertegur sapa. Kafe ini, jika memang ini disebut kafe, juga adalah satu-satunya di kota ini.”

“Jadi, kau termasuk orang asli dari sini?”

“Tidak juga. Aku pendatang. Tapi sudah cukup lama tinggal di sini. Aku abdi yang bisa ditempatkan di mana saja. Pekerjaan yang membawaku ke sini. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan yang…”

“Sudah cukup. Ini bukan wawancara kerja. Dan aku juga bukan calon ibu mertua yang sedang menginterogasi calon menantunya” dia memotong omonganku sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.

“Kau, selalu datang dan duduk sendirian seperti tadi?” tanyaku padanya.

“Ayolah, kamu ini bagaimana. Masih muda sudah pikun. Bukankah kau sendiri yang bilang baru pertama kali melihatku di sini?”

“Oh iya, maaf,” jawabku malu.

“Dan kau, apakah selalu datang bertiga dengan teman-teman pemabukmu itu?” tanyanya sambil menunjuk Redy dan Hari yang sedari tadi tertidur karena teler akibat kebanyakan minum ballo – minuman tradisional dari Sulawesi Selatan, sejenis arak atau tuak yang dihasilkan dari pohon lontar.

“Tidak selalu tapi sering. Dan lagi mereka jarang mabuk. Hanya sesekali jika kebetulan jenuh.”

“Baiklah. Aku harus pulang. Terima kasih atas obrolan, dan tentu rokoknya. Lain kali jika kita ketemu lagi akan aku ganti.”

“Bolehkah aku mengantarmu?”

“Lalu katakan padaku bagaimana nasib teman-temanmu yang mabuk itu?”

“Pemilik kafe ini sudah mengenal mereka. Jadi tak masalah.”

ǂǂǂ

“Apa kau mempercayai Tuhan?”

Aku yang berbaring telanjang di atas ranjang hotel, tepat di sampingnya, berbalik demi mendengar pertanyaannya yang tak lazim. Perempuan ini memang tak biasa. Dia terpelajar. Dan cerdas. Aku tahu meski baru beberapa jam mengenalnya.

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja”

“Ya. Tentu aku percaya”

“Lantas mengapa tadi kau rela menjadi pejantanku sementara telah jelas bahwa kau bukanlah suamiku?”

Aku merasa tertohok. Pertanyaannya sangat menyindirku. Aku hanya bisa terdiam.

“Hahaha.. maaf aku hanya bercanda. Tentu saja kau mau. Kau hanya manusia sekaligus lelaki biasa”. Ia kemudian melanjutkan, “Kalau begitu, jika kau memang percaya pada Tuhan, kisahkan padaku tentang Eden yang fatamorgana. Tentang Adam yang dimuliakan tapi melanggar pantangan. Tentang Hawa yang lemah dan tergaris sebagai pengikut setia. Dan tentang Ular yang licik nan paling dibenci, tapi ternyata menjadi pemenang di akhir cerita.”

Keningku semakin berkerut. Permintaan seperti ini tak pernah terlontar dari mulut perempuan-perempuan yang pernah kukencani. Dia membacanya sebagai keraguan. Lantas menegaskan, “Ceritakan saja!”

“Baiklah. Tempat itu dinamakan Eden. Muslim menyebutnya Firdaus. Ada sebuah taman di dalamnya. Adam yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi khalifah di Bumi, diperkenankan memakan buah apapun yang tumbuh di taman itu kecuali satu: Khuldi. Alkitab mengatakan, buah tersebut tumbuh dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lalu muncul Iblis, menyamar sebagai Ular. Menghasut Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang itu. Apa lacur. Adam, pun Hawa terhasut. Buah itu mereka makan dan menyebabkan mereka terusir dari Surga. Adam adalah manusia pertama yang dihasut Iblis setelah makhluk itu diusir oleh Tuhan dari nirwana. Karena pada hari ketika Iblis terusir, dia bersumpah akan menggoda Adam dan keturunannya hingga kiamat menjelang.”

“Cerita yang menarik. Aku tetap menyukainya meski telah diceritakan padaku berulang-ulang sejak kecil. Tapi jika memang Adam diciptakan untuk menjadi khalifah di Bumi. Untuk apa Tuhan menempatkannya di Surga dan menjadikan Khuldi sebagai alasan untuk mengusirnya tanpa pakaian dari sana?”

“Mungkin konsepnya sama dengan kematian,” jawabku.

“Maksudmu?” sekarang giliran dia yang bingung.

“Maksudku seperti ini. Kenapa Tuhan menempatkan manusia di Bumi, jika pada akhirnya kita semua ditakdirkan harus mati dan akan digiring untuk kekal di akhirat? Aku berusaha berbaik sangka pada Tuhan. Bahwa Dia tak akan seenak hati menetapkan sebuah kebijakan. Dari sana aku menemukan jawaban bahwa mungkin, Tuhan menciptakan hidup, mati, Surga dan Neraka, untuk mengajari manusia tentang apa itu konsekuensi. Tentang sebab akibat. Tentang tanggung jawab. Sama halnya ketika Ia menempatkan Adam dan Hawa di Surga untuk kemudian diturunkan ke Bumi. Harus ada yang mengakibatkan dua manusia pertama itu diturunkan ke dunia. Dan itu adalah Khuldi.”

“Jadi, kau percaya pada takdir?”

“Yang aku percayai adalah, aku harus bekerja, tak peduli dimanapun itu, demi untuk keluargaku.”

“Kau sudah berkeluarga?” tanyanya seperti orang kaget.

“Sudah. Kami sedang menantikan anak pertama. Istriku saat ini sedang hamil”

“Berarti aku baru saja meniduri lelaki muda yang sebentar lagi menjadi ayah? Oh sudahlah, lekas pakai celanamu dan pulanglah. Aku merasa bersalah pada istrimu. Bagaimanapun kami sama-sama perempuan.”

“Aku juga merasa berdosa.”

Kukenakan kembali semua pakaianku. Kubenahi tatanan rambutku yang sedikit acak-acakan. Dan segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

“Apakah kita akan bertemu lagi?” tanyaku padanya yang masih berbaring telanjang di bawah selimut.

“Bukankah kau mempercayai takdir? Kalau begitu kita lihat saja bagaimana Tuhan menuliskan garis takdir untuk kita berdua.”

“Aku masih sangat berharap untuk bertemu lagi dan menghabiskan waktu denganmu. Jadi sampai kapan kau tinggal di hotel ini? Apakah kau berniat menetap di kota ini dan belum menemukan tempat tinggal yang tetap? Aku bisa menemanimu mencari rumah yang kau butuhkan.”

“Sudah ada orang yang mencarikannya untukku. Aku baru tiba petang tadi dan merasa lebih nyaman untuk tinggal di hotel dulu. Aku tidak enak untuk merepotkan orang-orang jika harus pindah rumah malam-malam. Besok akan ada yang membantuku mengangkut semua barang-barangku ini, ke rumah baruku.”

“Suamimu?” tanyaku

Dia tak menjawab, hanya tersenyum.

“Syukurlah kalau begitu jika memang ada yang akan membantumu, tak peduli siapapun dia. Tapi jika kau butuh apa-apa, hubungi aku saja,” kataku sambil menuliskan nama, alamat dan nomor teleponku di selembar kertas.

“Jadi, namamu Arik?”

“Iya, dan kamu nyonya, siapa namamu?” tanyaku sambil bercanda.

“Panggil Mey saja”

“Jadi Mey. Apakah kau mempercayai Tuhan?”

Mey hanya tertawa kemudian menjawab, “aku sedang berusaha.”

ǂǂǂ

Aku meninggalkan hotel tempatnya menginap malam itu dengan perasaan campur aduk. Senang dan lega sekaligus merasa berdosa pada istriku yang sedang mengandung 7 bulan. Kubuka telepon genggamku dan kudapati dua panggilan tak terjawab serta tiga pesan baru disana.

Pesan pertama: Mas, km sedang apa? Jgn lupa mkan mlm. Ntar maagmu kambuh

Pesan kedua: Mas, kok ga di bls? Telponku jg ga diangkat. Udah bobo kah?

Pesan ketiga: Met bobo y mas klo bgitu. Mimpiin aku. Oya km dpt salam dari si jagoan, dia ngajakin becanda mulu. Nendang2 perutku. Love u :*

Aku semakin merasa bersalah atas apa yang telah kuperbuat dengan Mey. Telah kureguk kesegaran dari buah yang tumbuh di dadanya. Seperti ketika Adam menikmati Khuldi yang menjadi pantangannya. Inilah godaan jika harus jauh dari keluarga. Itulah juga mengapa Redy dan Hari memilih untuk mabuk di kafe tadi. Mereka hanya sedang berjuang melawan suntuk pada rutinitas pekerjaan dan rasa rindu pada keluarga. Aku berjanji akan segera memboyong istriku ke sini jika telah melahirkan nanti.

Tapi tak dapat kupungkiri bahwa aku menghabiskan sisa malam itu dengan memikirkan Mey. Pesonanya seperti mampu membendung rasa bersalah kepada istriku. Aku merasa nyaman dan terhibur berada di sisinya meski kuakui ada perasaan aneh jika bersama dengannya. Ia terlalu cerdas. Sangat matang dan dewasa. Dan aku sangat jarang mengencani perempuan-perempuan tipe seperti ini.

Seandainya aku hanyalah seekor kucing jantan, yang bisa berganti-ganti pasangan, dan membuahi beberapa betina tanpa perlu dibebani tanggung jawab. Tapi sayangnya aku hanya manusia yang percaya pada keberadaan Tuhan. Hanya lelaki biasa yang punya rasa kasih dan tanggung jawab. Aku sangat merindukan Mey malam itu.

Mataku baru terpejam kala waktu menunjukkan pukul tiga pagi, dan membuatku terlambat datang ke kantor keesokannya.

Aku berlari tergesa-gesa ke arah kantor setelah memarkirkan sepeda motorku. Berharap masih mendapatkan jatah absen pagi itu tanpa status “terlambat”. Malang, aku telat beberapa menit yang setara dengan pemotongan tunjangan sekian persen. Sial!

Tapi setelah kurenungkan, aku pikir ini setimpal dengan kesenangan yang aku peroleh tadi malam bersama Mey yang pesonanya masih belum lepas dari pikiranku. Aku berdoa semoga pagi ini ia segera menghubungiku.

Segera kucari Hari dan Redy, dua orang sahabatku yang kupastikan akan sangat iri jika mengetahui apa yang terjadi padaku semalam.

Aku memasuki ruang loket demi mencari mereka berdua ketika kulihat semua staf sedang sibuk merapikan meja masing-masing.

“Ada apa?” tanyaku

“Bisa-bisanya kau lupa. Cepat rapikan kemejamu. Pakai nametag-mu!” jawab Redy yang sedang merapikan ikat pinggangnya ketika terdengar ada serombongan orang yang memasuki ruangan.

Semua staf diam dan selanjutnya suara Pak Cahyo, Kepala Sub Bagian Umum, menjadi satu-satunya yang bergaung di ruangan itu.

“Jadi, inilah kepala kantor kita yang baru. Ibu Meisye Hartanto. Beliau baru saja menyelesaikan Tugas Belajar di Amerika, dan sekarang memimpin kantor kita ini. Kita patut berbangga”

Aku seketika menciut kala melihat Mey-ku, berdiri anggun di depan sana, dikelilingi lelaki-lelaki tua yang menjadi atasanku selama ini.***

  • http://redemptionsoldier.blogspot.com Gita Wiryawan

    Endingnya kampret! 😀

  • Daeng Gafur

    Thanks udah membaca. Semoga menghibur :)

  • http://www.dedensaefudin.wordpress.com deden

    mantabbbb, endingnya luar biasa hehehe…

  • Daeng Gafur

    Thanks Deden, semoga menghibur 😉