The Fourth State of Pen

Mereka bilang pena lebih tajam daripada pedang. Namun, bagaimana jika semua pedang di negara ini mengarah pada Anda dan Anda tidak mempunyai apa-apa selain pena?

———–

739725375

Tentu saja hal di atas adalah metaforik. Dunia berkembang, dan masing-masing pihak dalam perpetual war antara pena (dalam hal ini jurnalisme) dan pedang (kekuasaan negara/korporasi) menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Pedang berganti bom dan senapan mesin; pena berganti jutaan bit informasi yang ditransmisikan tiap detiknya. Kedua antipoda ini menjadi semakin cepat, kuat, dan tak terbendung. Akan tetapi, perang, dan kemunculan bajingan-bajingan di kedua belah pihaknya, masih tetap (akan) sama.

Perkenalkan Paul Jensen (Moritz Bleibtreu), seorang jurnalis Jerman, anak dari seorang jurnalis juga yang bepengaruh di Rusia pada masanya, Norbert Jensen (Bjorn von der Wellen). Mulanya, Paul datang ke Rusia untuk bekerja pada majalah gosip dan gaya hidup, Moskva Match, milik teman ayahnya, Mikhail Onjegin (Rade Serbedzija). Salah satu fotografer Moskva Match, Dima (Max Riemelt), mengenalkan Paul yang gegar budaya ini pada gemerlap dunia malam Moskow, yang melulu tentang pesta dan seks pada ujungnya. Semuanya terlihat menyenangkan, sampai akhirnya pada suatu pagi Paul menyaksikan sendiri seorang jurnalis Rusia yang terkenal kritis terhadap pemerintah ditembak di hadapan matanya. Ketegangan timbul di kantor Moskva Match, karena darah wartawan politik yang diwariskan ayahnya beradu dengan keputusan kepala editor untuk tetap berada pada bisnis majalah gaya hidup serta intimidasi dari FSB, dinas rahasia Rusia.

Lalu, datanglah Katya (Kasia Smutniak), jurnalis wanita cantik, pintar, dan memahami gejolak Paul untuk mengungkap kebusukan pemerintah Rusia. Di antara romansa dan ancaman yang secara konstan meneror, Paul mengalami kejadian yang tidak pernah terlintas di benaknya: Katya meledakkan bom bunuh diri di sebuah stasiun kereta bawah tanah. Kedekatannya pada Katya membawa Paul mencicipi rasanya terpenjara dalam gulag, dengan tuduhan sebagai konspirator terorisme. Di dalam penjara, dia berkawan dengan beberapa anggota Chechnya, termasuk pemimpin mereka di situ, Aslan (Mark Ivanir), yang rupanya juga mengenal ayah Paul. Paul kemudian terperangkap dalam sebuah petualangan yang berbahaya. Siapa Katya sebenarnya? Apa yang coba diungkapkan oleh ayahnya tentang Chechnya dan pemerintah Rusia sebelum ia meninggal?

———–

Die Vierte Macht (The Fourth State) mungkin adalah sebuah alusi terhadap peran jurnalisme sebagai “the fourth estate” yang populer di Inggris pada tahun 1787. Film besutan sutradara Dennis Gansel ini masih mengambil tema yang cukup klise namun panas – terorisme dan konspirasi politik; seperti Zeitgeist ( 2007 ) namun dengan drama dan akting di dalamnya. Die Vierte Macht mengajak Anda untuk melihat bahwa dunia tidak melulu Amerika Serikat. Cukup hipster memang, namun tetap sama saja. Jika Anda mengganti 9/11 dengan pemboman apartemen di Moskow, Buynaksk, dan Volgodonsk (yang menjadi adegan pembuka film ini), lalu mengganti Al-Qaeda dengan Chechnya, dan War on Terror-nya Amerika Serikat dengan Perang Chechen Kedua, maka Anda mendapatkan Die Vierte Macht. Film yang rilis pada Maret 2012 ini lebih-lebih menjadi makin relevan setelah pengeboman di Boston Marathon yang dilakukan oleh kakak-beradik keturunan Chechnya beberapa waktu lalu. Saya sempat berpikir mungkin saja sebentar lagi Hollywood akan membuat remake-nya.

Jika dibandingkan dengan film konspirasi lain semacam The Manchurian Candidate (2004) atau yang lebih kontemporer, trilogi Bourne (2002, 2004 dan 2007) , Die Vierte Macht cenderung lemah, meskipun sebenarnya mempunyai premis yang menarik. Sama seperti Jason Bourne, Paul Jensen tidak tahu mengapa dia harus terlibat dalam sebuah konspirasi besar. Namun, tidak sama seperti Bourne, dia tidak bisa berkelahi dan berakhir menjadi samsak tinju bagi beberapa orang. Akhirnya, tidak mudah bagi saya untuk memperoleh kesan bahwa Paul adalah arketipe seorang pahlawan yang eksepsional, karena saya juga tidak mendapat kesan bahwa Paul adalah seorang jurnalis yang seinvestigatif Woodward dan Bernstein di All the President’s Men (1976). Bahkan, karakter Bobby Funke dalam Assassination of a High School President (2008) lebih menyenangkan untuk ditonton.

Lain dari itu, penggambaran Paul yang depresi nampak terburu-buru dan tidak matang. Kisah cinta Paul dengan Katya juga dibangun ala kadarnya dengan dialog yang terlalu minimalis dan forgettable, sama seperti keseluruhan film ini. Rasanya Gansel masih harus belajar kepada David Fincher untuk membuat bagaimana sebuah film conspiracy thriller berlakon utama seorang jurnalis menjadi witty namun tetap enak untuk ditonton.

8048c810-ab0b-11e2-a1f9-0025901ee90c

Meskipun demikian, Die Vierte Macht adalah tentang sebenar-benarnya keberanian; keberanian satu orang dalam melawan negara yang begitu besar, namun busuk, korup, dan gemar membunuh. Mata, telinga, dan senjata negara ada di mana-mana, dan mereka loyal juga mematikan, tetapi Paul tetap bergeming. Ia kukuh dalam perjuangannya mengungkapkan kebenaran, karena dia tahu, hal itu sepadan dengan nyawanya.

Adalah naïf apabila kita berpikir dengan cara berpikir seorang realis – bahwa negara akan selalu bertindak rasional dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Jika Rousseau pernah berujar, bahwa negara pada hakekatnya adalah sebuah manifestasi dari kontrak sosial, maka negara-negara yang kita lihat sekarang ini adalah negara-negara yang mengalungkan pedangnya ke leher kita dan memaksa kita untuk menyetujui kontrak. Kekuasaan memang nikmat, dan mereka yang berkuasa tentu saja punya insentif untuk mempertahankan kekuasaannya, walaupun harus dengan cara-cara keji dan culas seperti yang dulu dikhotbahkan Machiavelli. Dan pada akhirnya, pena adalah harapan kita. Dari pena, lahir intelektual organis semacam Soekarno, Gandhi, dan Martin Luther King, Jr. yang menggerakkan rakyat menjungkalkan kekuasaan tiran yang lalim. Dari pena, muncul eingreifendes Denken, pemikiran yang merasuki kepala masyarakat, yang membawa kita pada revolusi.

“Mereka bisa membunuh manusia, tetapi mereka tidak bisa membunuh ide”, ujar Medgar Evers. ”Ide”, kata Dom Cobb dalam film “Inception”, “adalah parasit yang kuat dan sangat menular.” Paul Jensen yakin benar akan hal tersebut. Dia menghidupinya.

gf