Seiring Tetes Terakhir Senja

Wanita itu tetap mengarahkan pandangan ke gelasnya. Dia sendirian di bar ini. Tapi dia tahu ada seorang pria mendekat ke arahnya. Dia tak boleh terlihat grogi, pikirnya.

Dia sudah sering mengalami ini. Datang ke bar ini, memesan minum, mabuk, didekati pria, menghabiskan malam berdua, dan si pria pergi saat dia terbangun. Selalu skenario yang sama.

Malam ini pun tak berbeda. Dia tak pernah berharap lebih. Pria selalu sama. Mendekatinya hanya terpikat oleh cantiknya dan ingin menidurinya. Dia pun sudah menyerah untuk mendapatkan pria yang serius dengannya. Baginya pria sama saja. Pikirannya hanya seputar isi celana.

Pria itu semakin dekat. Satu yang dia herankan, malam itu dia terlalu cepat didekati pria. Kebanyakan dari mereka biasanya menunggu sampai dia menenggak beberapa gelas vodka, dan mendekatinya saat tengah malam menjelang. Tapi kini setengah sebelas malam dan dia baru saja memasuki bar ini. Bahkan belum setetespun alkohol masuk ke tubuhnya. Terlalu cepat dibanding malam sebelumnya.

“Hai,” Pria itu mendekatinya.

“Hai,”

“Dimas.”

“Elena.”

Pria bernama Dimas ini mencoba terlihat santai, namun Elena bisa mebaca kekakuannya. Dia hanya tersenyum. Pemula, pikirnya.

I found you very attractive. Can I offer you something?”

Elena hanya tersenyum. “Offer me something? I hope you’re not a salesman, sir.”

“Bukan. Saya buka salesman. Saya hanya ingin menawarkan sesuatu.”

Thank God. Saya tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini jika anda menawarkan barang dagangan anda pada saya.”

Mereka berdua tertawa kecil. Pemecah kekakuan.

“Baiklah. Apa yang ingin kamu tawarkan?”

“Sebelumnya, maaf, are you dating someone?”

No, I’m not.” kata Elena sambil menahan tawa di bibirnya. Sangat berbeda dengan banyak pria yang mendekatinya.

“Syukurlah, kalau begitu, saya menawarkan anda waktu.” kata Dimas kemudian.

“Waktu?”

“Ya, jujur, saya selalu melakukan hal yang sama di bar ini. Datang, menjaga diri agar tidak terlalu terpengaruh alkohol, mendekati wanita, menidurinya, dan pergi sebelum pagi menjelang. Selalu sama tiap malam saya kesini. Dan untuk anda, saya menawarkan lebih dari sekedar rayuan dan tubuh saya. Saya tawarkan kepada anda sebuah waktu yang utuh.”

I don’t get it.” jawab Elena mencoba mengerti kata-kata Dimas.

Instead of let you drunk and sleep with you, I will give you a special night that you never forget.”

“Oh. That’s more understandable. Lalu kenapa daritadi berbelit-belit?”

“Saya hanya ingin menghabiskan waktu dengan anda dalam keadaan sadar. Jadi saya mohon jangan minum vodka martini di tangan anda dulu.”

Elena hanya tersenyum. Pria ini sangat amatiran sekali dalam menarik wanita, pikirnya. Dia sering mendapatkan banyak pria yang jauh lebih ganteng, lebih romantis dan lebih pintar dalam merayunya. Pria ini berbeda.

Elena melihatnya dari atas ke bawah. Pantalon hitam dengan kemeja kerja warna biru tua dengan kancing paling atas dibuka satu. Pasti pulang kerja dan belum mandi, pikir Elena. Pandangan Elena naik ke mata pria itu. Tadinya dia ingin tertawa dan menolak. Tapi mata Dimas berbeda. Dia kira pria itu akan membual asal bisa menidurinya, ternyata tidak. Matanya yang tajam menunjukkan dia bersungguh-sungguh. Elena pun menerima tawarannya.

Dimas tersenyum senang. Dia segera mengajak Elena pergi dari bar itu. Mempersilahkan Elena masuk ke mobil sedan hitamnya dan menembus kegelapan malam Jakarta.

Jalanan masih cukup ramai. Sepanjang jalan mereka berdua saling bercerita tentang berbagai macam topik kecuali tentang privasi masing-masing. Yang mereka saling tahu hanya nama, selebihnya tidak.

Dimas membawa Elena ke salah satu gedung bertingkat di bilangan Kuningan. Membawanya ke lantai paling atas kemudian naik dengan tangga darurat ke atap gedung.

Elena tercekat. Ada satu meja dengan dua kursi di atap gedung itu, lengkap dengan piring dan alat makan lainnya yang telah tertata rapi. Elena juga mendapati ada helikopter yang terpasang di helipad gedung yang tak jauh dari meja itu.

Dimas segera mempersilahkan Elena duduk. Dia menjentikkan jari, lalu muncul lima orang pelayan yang membawakan berbagai macam makanan ke meja mereka. Elena hanya terdiam menahan senyum di hatinya. Dia pernah dibawa ke restoran paling mahal dimana pun, tapi dia baru pertama kali makan malam di atas gedung.

Saat akan duduk di kursinya, Elena kaget. Dimas memberikan jaket yang sudah dia siapkan untuk Elena. Elena tersenyum. Dia sudah sering dipakaikan jaket atau jas pria dari belakang, namun ini yang terbaik dengan setting yang paling sempurna. Dia tak mampu menahan senyum.

Dimas tersenyum juga. Elena yang tadi bersikap seperti wanita sosialita kelas tinggi yang sangat menjaga keanggunannya, seakan berubah menjadi gadis kecil yang tersipu malu setiap Dimas melakukan hal-hal romantis padanya. Saat Dimas memakaikan jaket, memotongkan daging steak yang dihidangkan untuknya, sampai memuji kecantikannya malam itu. Elena hanya bisa tersipu malu dan mengucap terima kasih.

Seusai makan, Dimas mengajaknya beranjak dari meja itu, menggenggam tangan Elena dan mengajaknya ke arah helikopter. Nafas Elena tercekat

“Kita mau naik ini?”

Dimas mengangguk. Elena seakan ingin bersorak riang. Dia belum pernah naik helikopter sebelumnya. Kendaraan yang paling mewah hanya sedan seharga semilyar yang pernah dipamerkan seorang pria padanya. Kali ini lebih hebat. Sebuah helikopter. Dia tak peduli Dimas menyewanya atau memilikinya, yang pasti dia ingin menaikinya.

Helikopter itu segera terbang setelah mereka siap. Elena menggenggam tangan Dimas. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi wanita itu.

Sepanjang penerbangan mereka berdua hanya diam menikmati lampu kota Jakarta. Hati Elena bersorak riang.

Thank you, Dimas.”

The night is not over.” jawab Dimas tersenyum.

Tanpa Elena sadari, helicopter itu terbang ke arah Ancol dan turun di salah satu bagian pantai Ancol. Mereka turun. Elena seakan tak rela perjalanan dengan helikopternya berakhir. Namun, dia juga penasaran kemana Dimas akan membawanya.

Dimas menggandeng tangan Elena. Wanita itu melihat ke arlojinya. Jam tiga dini hari.

Dimas membawa mereka berdua ke tempat penyewaan sepeda. Dimas mengambil sepeda couple di rak sepeda itu.

“Hei. Sepeda siapa itu? Nanti kita dikira mencuri.” protes Elena.

“Tenang saja. Aku sudah memesannya sejak tadi sore. Lihat saja, sepeda yang lain terkunci kan?”

Mereka menaiki sepeda itu setelah keraguan Elena bahwa mereka mencuri sepeda hilang membawanya keliling pantai. Suasana pantai dini hari memang tidak mendukung untuk bersepeda. Namun bagi Elena, jaket Dimas yang dia pakai, membuat hatinya terasa begitu hangat.

Mereka tertawa saat Dimas mengarahkan sepeda itu ke arah air laut dan menghasilkan percikan air yang mengenai kaki mereka. Elena tak pernah tertawa sabahagia ini. Apalagi bersama orang asing. Namun dia tak peduli. Baginya, Dimas sangat istimewa.

Dimas mengarahkan sepeda itu ke resort yang sudah dia pesan sejak kemarin. Dia mangajak Elena masuk. Dia tahu Elena sudah sangat lelah, begitupun dengan fisiknya. Dia mepersilahkan Elena yang kelelahan untuk membersihkan diri dan istirahat.

“Terimakasih untuk malam ini, Dimas.” Elena pun memagut bibir Dimas dengan lembut. Mereka pun segera tertidur saat tubuh mereka menyentuh kasur.

Kelelahan membuat Elena bangun saat matahari sudah sangat tinggi. Dia berada di kamar yang tidak dia kenal. Dia melihat ke tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap. Dia tersenyum.

Senyumnya kembali merekah saat Dimas masuk kamar dan membawa sarapan paginya.

“Selamat pagi, Tuan putri.”

“Selamat pagi.” Elena kembali tersenyum. Tanpa disadari intensitas otot bibirnya merekah karena senyum meningkat sejak tadi malam.

“Boleh saya tawarkan sesuatu lagi, Tuan putri?” Dimas kembali membuka pembicaraan sembari mereka menikmati sandwich ikan tuna.

“Apa itu?” Elena mencoba menjawab tawaran Dimas meski mulutnya masih penuh dengan sandwich yang masih dia kunyah.

“Bolehkan saya menawarkan waktu saya satu hari lagi?”

Hati Elena menjerit. Dia ingin setiap harinya bersama Dimas. Namun bibrnya tertahan. Dia hanya mengangguk senang.

Siangnya mereka menghabiskan waktu untuk pergi ke Kebun Binatang Ragunan, melihat sunset di kemacetan Jakarta, dan makan malam di apartemen Elena dengan masakan Dimas.

“Gimana? Enak?”

“Enak. Kamu belajar darimana, Dimas?”

“Otodidak.” jawab Dimas sembari tersenyum.

Ekspresi Dimas berubah. Dia mengatur nafasnya dan memegang tangan Elena.

“Ini sudah saatnya saya untuk pergi Elena. Apa yang saya tawarkan sudah saya  berikan semua. Sekarang waktu saya sudah habis, dan saya harus pergi.”

Elena menggenggam tangannya.

“Aku sudah tak peduli dengan tawaranmu yang mempunyai batas. Aku siap menemanimu dan menikmati tawaran-tawaranmu atas waktumu selanjutnya.” Tak bisa Elena pungkiri. Dia suka semua ini. Hal-hal cheesy ala amatiran yang Dimas lakukan padanya, memang yang pertama dia alami. Tapi semua itu membentuk ruang tersendiri di hatinya, hanya untuk Dimas.

“Elena, maaf. Jujur. Kemarin saat saya bertemu kamu, kamu adalah alasan saya untuk tidak mengutuk hari itu. Kamu terlihat sangat cantik. Seakan-akan kamu sendiri juga yang membuatku memberanikan diri untuk menawarkan waktuku.”

Dimas masih menggenggam tangan Elena. Dia mampu merasakan genggaman Elena pun terasa semakin erat.

“Hari itu adalah hari dimana perusahaan saya bangkrut. Hari sebelumnya juga hari dimana saya mendapati Istri saya selingkuh dengan supir pribadi saya. Semua yang saya berikan kepadamu, adalah yang saya rencanakan untuk merayakan hari jadi saya dengan istri saya. Maaf. Setelah ini, saya tidak akan sekaya itu untuk membahagiakan kamu seperti kemarin. Mulai besok saya akan menata hidup saya pelan-pelan dari bawah, dan saya rasa kamu tidak akan bisa hidup susah.”

Ada getir yang terdengar di kata-kata Dimas.

“Saya juga berbohong saat saya bilang jenuh karena dengan mudah mendapatkan wanita. Sejujurnya, kamu wanita pertama selain istri saya yang pernah saya ajak menghabiskan malam bersama.

Elena hanya terdiam sambil menitikkan air mata.

“Maaf dan terima kasih Elena. Bagi saya. dua hari ini saya merasa sangat hidup. Terima kasih.”

Dimas pergi dari apartemen Elena. Wanita itu hanya menangis tanpa menahan Dimas pergi. Dia tak tahu apa yang dia rasakan. Dia hanya ingin menangis, sejadi-jadinya.

***

“Sudah semua, Pak Dimas. Ada lagi?”

“Oh tidak, terima kasih Mang Udin. Bayarannya, sudah saya titipkan semua sama Pak Bejo.”

“Baik, Pak. Terima kasih. Mau saya kunci sekalian?”

“Nanti dulu, Mang. Saya masih mau disini sebentar. Biar nanti saya yang kunci.”

Mang Udin pun pamit keluar. Dimas masuk ke bekas ruangannya. Hanya ada meja dan kursi disana. Rumah tiga lantai yang disewanya dan digunakan menjadi kantornya kini sudah bersih. Sudah tidak ada lagi kegiatan dan alat-alat kantor disana. Hanya perabotan yang menjadi milik Sang Pemilik Rumah yang tersisa.

Di kantor inilah semua karirnya bermula. Dari kantor kecil di pinggiran Jakarta, hingga menyulap rumah sewaan sebesar ini untuk dijadikan kantor, semua berakhir hari ini. Perusahaannya dinyatakan bangkrut dan banyak hutang. Namun Dimas bersyukur, semua aktiva kantor mampu menutup semua hutang. Tapi yang terjadi, kini dia tak punya apa-apa lagi. Ditambah istrinya yang pergi mengkhianatinya, Dimas merasa sangat jatuh.

“Pak, Pak Dimas. Punten, Pak.” Mang Udin tiba-tiba mengetuk pintu ruangannya.

“Oh iya, Mang Udin. Ada apa kok balik lagi?” tanya Dimas heran.

“Punten, Pak. Ada yang mau ketemu.”

“Siapa, Mang?” Dimas semakin bingung. Dia tak punya janji dengan siapapun. Apalagi setelah kantornya “mati” sepeti sekarang.

Belum sempat Mang Udin menjawab, tamu tadi segera masuk ke ruangan Dimas. Dia mengenali tamu ini. Mang Udin segera keluar setelah diberi isyarat Dimas.

“Hai. Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?” Dimas masih dengan kekakuannya.

“Selamat pagi, Pak Dimas.” kata wanita itu anggun.

“Se.. Selamat pagi.” jawab Dimas bingung.

“Saya dengar perusahaan Bapak sedang membutuhkan Asisten Direktur baru. Benar itu, Pak?”

“Tapi, perusahaan saya.. “ Dimas sedikit tergagap dengan kakunya.

“Kalau benar begitu adanya, dengan segala pengalaman pekerjaan yang saya milik, saya ingin melamar sebagai asisten pribadi, Bapak. Ini CV saya.” kata wanita itu memotong kata-kata Dimas.

Dimas semakin bingung melihat sikap yang ditunjukkan wanita yang terlihat anggun dengan kemeja hitam dan blazer merah itu. Wanita itu mengeluarkan Map berwarna biru dari tak kerjanya dan memberikannya pada Dimas.

“Tapi, apa maksud kamu Elena. Perusahaan saya sudah bangkrut. Sudah tidak ada lagi.”

“Saya mohon bapak membaca CV saya terlebih dahulu. Saya sangat berharap dapat bekerja disini.”

“Tapi..”

“Maaf, saya sangat berharap Bapak mempertimbangkan kualifikasi saya dalam hal ini.” Wanita itu terus memotong omongan Dimas.

Dimas semakin bingung. Dia mengambil Map biru itu dan membukanya.

Senyumnya merekah. Hanya ada satu lembar kertas dengan satu kalimat tertera disana..

Will you propose me?

  • http://goodtemptation.blogspot.com Galih Rakasiwi

    Bagian naik helikopter itu keren banget, Ham. Kapan2 kalo punya istri, gw ajak naik helikopter lah, keliling komplek

    • http://ilhamsas.tumblr.com/ Harnangga Ilham Sasmita

      ett dah keliling komplek. lo jadi artis aja gal.. tar kalo syuting di atas gunung kan dinaikin heli. kyk pevita. :’)