Bukan Rindu yang Terbalaskan, tapi Dendam.

Kepada dirimu yang masih saja berdiri, memerihi mimpi yang mati,
lampu dan garis jalan yang biasa kau susuri menjelang pagi.

Mereka tertawa.
memaki,
sambil memercik baptis.

“Cinta bukan hal yang nyata wahai pemuja. Kata-kata biasa yang diatur sedemikian cuma kebiasaan belaka.
bernafas pun layak kau sejajarkan dengan nafsu. Karena mempertanyakan sungguh merupakan sifat manusia.”

“bercintalah dengan tanpa aturan. Maka semua yang semu jadi abu-abu.”
“Menangislah tanpa beban. Sehingga kau terdengar sangat sendu.”

Pagi yang biasa kau tongkrongi berujung alam mimpi yang terpaksa kau lanjutkan sendiri.
ajakan jendral Nemo untuk berdansa telah kau tolak mentah-mentah. Kau merasa paling sendiri.

Sampai pada suatu hari kau dihadapkan dengan kemudian-kemudian yang tak bisa kau hindari.
Limbung dan ragu bukan solusi.
apalagi berlari.

Sampai pada suatu pagi kau tersadar matahari sudah teramat tinggi.

Sampai pada suatu hari kenyataannya adalah kau harus merubah mimpi.
Imajinasi dibatasi, menyatu dengan tagihan dan tunggakan kewajiban.
Cerita mengecil dan mencoba melawan padam.
beranikah?

Sampai pada suatu hari pertanyaan tentang akankah, berhenti.
Senyum mereka terasa sangat hambar sehingga kau menahan mual.
Pelarian hanya ke gunung dan laut.
kemana kau akan pergi kali ini?

Sampai pada suatu hari tersebutlah seorang putri.
Menebar wangi yang entah menipu atau cuma jujur bercerita.
Bermimpi bijaksana dan menjaring jiwa penunggu dengan ajakan malu-malu.
kemana kau akan berimajinasi kali ini?

 

(Toro Y Moi – Still Sound)

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.

  • Lanissa Prasasti

    Setelah dibaca dengan seksama, sajak ini kayanya cocok dijadiin lagu juga. Manis.