Air Mata dalam Gelas Kaca

 

Ditampungnya air mata di dalam perutnya di mana air berkecipak-kecipak pada kelopak gelas sehingga menimbulkan ombak yang tinggi dan menjulang
Direbahkannya buih yang lahir dari rahim kesedihan itu pada sebuah ranjang kecil di dasar pusaran air yang ganas dan garang
Air yang sombong hanya karena mereka lebih banyak hingga berani menantang- nantang melawan si kecil yang terjatuh karena terseka bayu dan tangan
–si kecil air mata, ia tak menyangka bakal lahir dari setetes mani kenangan

Air mata mengigau Tuhan, menyerahkan seluruh jiwanya pada pusaran saudaranya, yang ia sangka saudara karena sebentuk serupa, tapi malah ia dihantami hingga luka
Bukan ia memilih untuk lahir dari mata lalu disebut air mata, tak pernah ada pilihan ihwal lahir, pun ihwal sunyi dalam keabadian, melainkan bertanya-tanya ia pada gelas kaca: “Mengapa mereka tidak melihatku sebagai air saja?”

Lalu menghiba-hiba dirinya pada dinding kaca kosong tanpa awan sembari menghela menelan kenyataan untuk dihempas dicocok ke sana-sini, dianggap paling ganjil, paling resah menuju palung bumi
Dari luar kaca gelas tersisih embun, mengalir tetes pada dinding gelas yang agung, menimbulkan tanya bagi seluruh air dalam gelas kaca: “Siapa itu? Bukankah semesta air berhimpun di ruang kaca yang agung ini?”

Maka air mata yang dirasai nista pula dihina oleh saudara sebentuk serupa merasa dirinya harus terjun ke luar sana, memuat kehendak dingin untuk menyusul parau air yang berlelehan, merdeka dari laku semena-mena, bebas menggetarkan air yang berkuasa dalam gelas kaca.
“Aku sudah di luar, biarkan saja aku pudar. Aku bebas dari segala memar”

 

 (untuk negeri tanpa toleransi)

  • fanny perdhana

    Sajak dengan lautan metafora dan diksi. Menakutkan, sekaligus mengagumkan.

    • http://cesariansyah.tumblr.com Meidiawan Cesarian Syah

      trims, Mas….memang saya masih belajar memetaforakan sesuatu ini….hehehe