Warna Tulisan

Penulis tidak jauh beda dengan penyanyi. Sering kali kita mendengar dalam kontes menyanyi para juri memuji seorang peserta karena suaranya memiliki warna vokal yang sangat khas. Kata mereka, setiap orang yang hanya sekilas mendengarnya bernyanyi pun dapat langsung menebak ialah penyanyinya. Lagu apa pun yang dinyanyikan akan seperti miliknya saja, karakter penyanyi aslinya akan hilang tergerus keunikan suaranya. Namun saat membicarakan kepenulisan, tak banyak yang menyadari bahwa dalam kepenulisan pun juga ada istilah warna tulisan yang unik sampai orang yang membacanya akan mengetahui siapa penulisnya tanpa diberi petunjuk.

Dalam tulisan terdapat dua unsur yang terdiri atas unsur intrinsik, penyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur karya sastra tersebut, dan ekstrinsik, penyusun sebuah karya sastra dari luar. Hal-hal yang menjadi unsur intrinsik yang di antaranya adalah tema, alur/ plot, perwatakan, latar tempat dan waktu, dan amanat. Unsur ekstrinsik bisa berupa  aspek sosiologi, psikologi, ekonomi, politik, dan sejarah, yang sangat dipengaruhi disiplin ilmu sang penulis. Tidak akan saya jabarkan satu per satu. Kali ini saya akan menjelaskan pengelolaan unsur-unsur tersebut.

Semakin banyak unsur yang termuat dalam sebuah tulisan, semakin bagus tulisan tersebut. Ibarat pahatan kayu, penulis memerhatikan hal-hal kecil nan mendetail seperti pori-pori dalam patung sehingga tulisannya terasa begitu nyata. Semakin sedikit unsur yang terpenuhi, tulisan tersebut lebih menyerupai balok kayu, tak ada nilai seninya. Namun, bukan berarti sebuah tulisan harus memuat semua unsur tersebut karena terkadang beberapa unsur justru tidak diperlukan.

Kita, sebagai penulis, dapat memanfaatkan unsur tersebut menjadi ciri khas. Tentunya kita harus menelaah terlebih dahulu, sering berlatih menulis dengan menonjolkan salah satu unsur sampai kita menemukan unsur yang paling cocok dengan kita, kemudian memakainya sebagai salah satu ciri khas dari semua tulisan kita. Kita bisa tengok bagaimana Ayu Utami dan Djaenar Maesa Ayu menggunakan hal-hal berbau seks atau bagaimana Dee menyangkutpautkan spiritual dengan ilmiah dalam serial Supernova. Mereka menggunakan unsur ekstrinsik yang begitu kuat sampai orang-orang yang membaca tulisan yang serupa akan mengira tulisan tersebut hanya ikut-ikutan. Bisa kita contoh bagaimana J.K. Rowling mengatur alur dan plot sehingga serial Harry Potter bisa begitu bernyawa atau bagaimana Hilman Hariwijaya yang mampu membuat karakter jenaka seperti Lupus, Boim, dan Gusur yang begitu membekas di ingatan generasinya.

Menggunakan unsur ekstrinsik sebagai ciri khas memiliki keuntungan, yakni penulis dapat menjabarkannya dengan mudah karena segala idenya sudah ada hasil disiplin ilmunya atau pengaruh lingkungannya bertahun-tahun. Pembaca pun dengan mudah diyakinkan dengan hal-hal yang disampaikan karena telaahannya sangat dalam. Di sisi lain, unsur ekstrinsik yang begitu kental pada tulisan-tulisan seseorang, apalagi dalam waktu yang berdekatan, akan cepat menimbulkan kebosanan bagi pembaca karena penulis disangka hanya bisa menyampaikan hal berbau unsur ekstrinsik tersebut. Ibarat kita yang awalnya mendengarkan lama-lama ikut penat dengan keluhan teman yang berkisar pada hal-hal itu saja.

Menggunakan unsur intrinsik sebagai ciri khas menuntut penulis untuk berpikir lebih keras. Meskipun cakupannya lebih luas daripada unsur ekstrinsik, unsur intrinsik, apabila tidak diolah dengan baik, akan menimbulkan pengulangan seperti unsur ekstrinsik sehingga tulisan kita akan bisa tertebak, padahal kejutan dalam sebuah tulisan merupakan candu. Misalnya Fujiko F. Fujio yang sering sekali membuat plot Nobita berada dalam masalah, meminta bantuan pada Doraemon dengan syarat, melanggar syarat tersebut, mendapatkan kesialan. Pembaca bahkan bisa menebak akhir di banyak cerita.

Maka saya memelajari berbagai bacaan, menikmatinya, mencari tahu kenapa saya bisa menikmatinya, atau menghinanya dengan tetap mencari tahu kenapa saya bisa menghinanya. Sampailah saya pada sebuah klausul bahwa selain unsur intrinsik dan instrinsik, yang dapat menjadi ciri khas kita sebagai penulis, dengan ruang lingkup penelaahan seluas intrinsik dan kemudahan unsur ekstrinsik, adalah formula tulisan.

Formula tulisan merupakan rumusan peletakan ide-ide sedemikian rupa dengan mengutamakan dinamika dan tempo sehinga pembaca menyerap tulisan kita semudah mendengarkan lagu saja. Formula tulisan juga dapat digunakan untuk pemancing ide, sebagai bensin untuk pemanasan otak. Bahkan studio sekelas Pixar pun memiliki formula dalam bercerita. Berikut saya contohkan salah satu formula saya dalam menulis.

Bagian pertama

berisikan pola pikir umum dilanjutkan dengan pola pikir istimewa yang bertentangan dengan pola pikir umum. Keduanya dijabarkan dengan kalimat majemuk. Alinea dibuka atau ditutup dengan kalimat singkat yang menyentak.

Bagian kedua

mengandung musabab orang-orang dapat berpikir secara umum seperti bagian pertama. Diceritakan dengan dinamika lambat, banyak menggunakan kalimat panjang, dan diakhiri dengan penyebab munculnya pikiran yang bertentangan tersebut.

Bagian ketiga

Penelaahan pola pikir, penerapannya, dan keuntungan yang didapatkan setelah memiliki pola pikir seperti itu. Tidak ada simpulan karena menurut saya simpulan hanya akan menurunkan klimaks dan seperti menganggap pembaca tidak bisa menyimpulkan sendiri.

Kita harus memiliki banyak formula karena peletakan makanan dalam piring bagi koki profesional pun tidak bisa sama untuk semua jenis makanan. Ada yang lebih cocok dengan mangkuk ada yang tidak dan sebagainya. Formula tersebut saya gunakan untuk tema sosial saja, hubungan antarmanusia. Berikut saya contoh penerapan bagian pertama formula tersebut dan silakan amati persamaannya dengan paragraf pembuka di atas.

Pepatah yakin orang tua selalu berkorban untuk anaknya. Kata-kata mutiara bilang orang tua memberi anaknya tanpa pamrih. Petuah menasihati bahwa kasih sayang ibu sepanjang hayat. Nyatanya ibu saya masih suka boros belanja kebutuhan tersier ketimbang berkorban membelikan saya HP baru karena yang lama sudah harus diganti. Bapak saya juga sudah menetapkan gaji saya kelak untuk memenuhi ini itu dulu seakan untuk membayar pengeluaran untuk saya kemarin. Kasih sayang pun tak bisa diukur karena definisi menyayangi saja baur. Mereka terlihat jadi begitu materialistis. Saya tanya teman-teman, orang tua mereka setali tiga uang. Lagi pula memang sudah kewajiban mereka mengayomi anaknya. Itu perintah Yang Maha Kuasa. Saya jadi menyangsikan kalimat-kalimat bijak di awal. (Karam: 2012)

Belasan tahun gue berpikir agar rendah hati, kita harus menyembunyikan kelebihan kita dari semua orang. Sebuah kejadian membuat gue berpikir. Ada satu hal yang bila disembunyikan justru jauh lebih berbahaya daripada mengumbar kelebihan. (Topeng Malaikat: 2010)

  • http://www.inspiratorbijak.com arief

    mantap mas Marli, trm kasih ilmu kepenulisannya, sy lagi banyak belajar menulis… silakan berkunjung ke http://www.inspiratorbijak.com, semoga saya dapat banyak masukan nantinya.