Peluncuran Madre A Coffee Table nan Penuh Jeritan

Banyak orang yang bertanya tentang cara menjadi seorang penulis. Kebanyakan penulis pun menjawabnya dengan sederhana. Menulis saja, begitu kata mereka. Saya menulis saja sudah lebih dari lima tahun, tetapi nyatanya belum ada penerbit yang mengakui. Lambat laun saya berpikir ada sesuatu yang salah dalam jawaban itu. Alam bersekongkol. Tak lama setelah saya mem-follow ulang akun twitter deelestari —promosi berlebihannya setiap meluncurkan karya baru sangat membengkakkan ekspektasi yang sering kali tak terpenuhi— ia berkicau akan meluncurkan Madre A Coffee Table Book di Gramedia  Matraman 12 Maret 2013. Saya bertekad datang ke sana.

Madre, pada awalnya, merupakan judul sebuah buku kumpulan dari enam prosa dan tujuh sajak yang berjumlah tiga belas. Ia terbit tahun 2011. Judul buku tersebut diambil dari judul novelette, atau bisa disebut cerita panjang, di dalamnya yang merupakan tulisan pembuka. Jalan ceritanya yang filmis dan menceritakan hal baru —industri roti tradisional dengan biang alami— membuat Madre memang layak difilmkan dengan catatan, menurut saya, harus ditambah beberapa konflik lagi agar filmnya tidak datar. Film tersebut meluncur 28 Maret 2013 dan buku ini adalah catatan sepanjang pengambilan adegannya dengan banyak foto-foto syuting di dalamnya.

Acara dijadwalkan berjalan pukul 14.00—16.00. Saya datang pukul 13.30 agar dapat tempat duduk di depan. Ternyata ruangan sudah ramai. Saya dan pacar tak kebagian tempat duduk. Kami menunggu sebentar dan saya berpikir keras akan lanjut menonton atau tidak —kalau sendiri saya tak keberatan berdiri sampai selesai. Kemudian sepasang anak yang duduk di belakang beranjak dan kami langsung mendudukinya. Sebagian besar yang datang remaja perempuan. Saya baru sadar pemain film Madre seperti Vino Bastian sebagai Tansen, Laura Basuki sebagai Mey, dan Didi Petet sebagai Pak Hadi datang juga. Pasti anak-anak perempuan itu bela-bela datang demi bertemu Didi Petet.

Seperti yang diperkirakan, acara belum mulai meskipun sudah lewat pukul dua siang. Pacar sampai mengeluh terlalu lama menunggu. Tak lama kemudian tamu pertama, Vino, datang melewati barisan penonton. Kalau saya memegang gelas kaca, gelas itu akan pecah akibat resonansi dari teriakan anak-anak perempuan yang gerasak-gerusuk berusaha mendekat. Pengunjung laki-laki hanya bisa menunduk minder atau merutuk dalam hati karena kalah pesona. Untunglah pacar tidak mengidolakannya karena kalau begitu telinga saya akan pecah ia berteriak tepat di samping saya. Lantas Laura datang, membuat laki-laki mendongak dan berharap dalam hati bahwa bisa berkenalan dengannya saja sudah cukup.

Sesaat setelahnya, MC mengumumkan acaranya dimulai. Keenan, putra Dee, tahu-tahu muncul di depan. Ternyata Dee sudah lama datang sampai saya tak melihat dia lewat. Satu per satu bintang tamu muncul, ada Benny Setiawan juga yang menjadi sutradara film Madre. Didi Petet belum terlihat. Semua penonton merapatkan barisan. Kursi digeret-geret sangat rapat. Semua anak itu berusaha sedekat mungkin dengan panggung. Mereka rela duduk di lantai. Tak berhenti berteriak setiap kali Vino tersenyum atau melambaikan tangan. Bahkan kalau Vino menggaruk ketiak, mereka pasti tetap berteriak. Yang berdiri tak peduli dengan yang duduk di belakang. Saya harus melongok untuk melihat gerak bibir dan mimik para bintang tamu. Seharusnya disediakan layar yang menampilkan mereka dan speaker yang menyebar di setiap sudut.

Saya heran kenapa penggemar harus dekat-dekat sama idolanya. Seperti melihat dari jauh saja tak cukup. Saya jadi terhalang-halangi. Karena lelah melongok, saya duduk normal saja, mengeluarkan buku catatan dan pulpen, mendengarkan dengan saksama karena ilmu pengetahuan dan ide selalu datang tanpa terduga-duga. Sayang seribu sayang, saya yang hanya mengandalkan pendengaran sangat terganggu dengan jeritan mereka. Ketahuilah adik-adik, senyaring apa pun kalian menjerit, para idola tetap tak tahu nama kalian, habis acara selesai juga mereka tak pernah ingat wajah kalian, sedangkan kalian harus menderita radang tenggorokan. Teriakan pun sudah buruk, diperparah dengan sound system yang sering bermasalah. Entah itu bergaung atau tak berfungsi. Peluncuran buku yang dihadiri penulisnya saja dan buku yang dihadiri pemain filmnya juga memang sangat berbeda. Yang pertama begitu berkelas, pengunjung terlihat cerdas di balik keterdiaman mereka. Untung saya masih bisa memerhatikan dan mencatat percakapan. Sesi berbagi dimulai dari penulis bukunya sendiri.

Bagaimana perasaan Dee saat ditawari Madre akan dijadikan film?

Dee : Saya sangat percaya diri ketika Mizan menawarkan Madre untuk diangkat ke film. Saya yakin karena dari awal ceritanya filmis.

Dari mana muncul ide Madre?

Dee : Ide Madre muncul saat kursus membuat roti. Saya tahu macam-macam roti. Saya tahu soal biang yang bisa hidup beratus-ratus tahun. Dari situ saya berpikir itu aspek yang menarik banget untuk ditulis. Selain itu saya dari dulu ingin menulis cerita kuliner. Kemudian ketika membaca skenarionya, saya tetap banyak dapat kejutan di dalamnya.

Ide memang datang tiba-tiba, tetapi kita harus menjemputnya. Dee menjemputnya di kursus roti. Ide cerita tentang profesi dengan menjabarkan keunikannya memang menarik, katakanlah Janji Joni yang mengisahkan pengantar film, Up in the Air yang menceritakan pemecat bayaran, Premium Rush yang mengangkat profesi kurir sepeda. Sebelum ada ketiga film itu, saya mungkin tak pernah tahu profesi itu ada. Saya yakin itu juga yang dicari-cari pasar dan ini yang bisa menjadi ilham. Suatu saat saya juga harus membuat cerita tentang sebuah profesi.

Apa tantangannya menjadi Tansen?

Vino : Tansen kan darah campuran Cina, Manado, dan India. Aktor mana pun nggak akan lulus untuk jadi dia karena fisiknya yang unik itu. Karena dia keturunan India, kulit harus agak hitam, jadi saya menghitamkan badan. Tantangan lainnya saya harus bisa buat roti, harus belajar surfing juga.

 Apa tantangannya menjadi Mey?

Laura : Harus bikin roti, padahal saya cuma bisa bikin cookies dan baking. Tantangannya nggak bisa dekat 100% secara fisik. Saya kan tinggi, sedangkan Mey digambarkan pendek. Masa’ kaki saya harus dipotong. Paling yang bisa didekatkan lagi fisiknya cuma penampilan, seperti rambut saya yang harus di-highlight.

Bagaimana cara kalian menumbuh chemistry?

Laura : Kami pendekatan dulu sebelum syuting. Ngobrolin hal-hal di luar skenario begitu.

Apa yang unik dari Vino?

Laura : Fans Vino banyak. Banget. Pernah lagi syuting di jalan. Terus ada mobil lewat, berhenti, kacanya dibuka, segerombolan cewek teriak “Vino ganteng banget!”

Apa saja sih yang ada di film Madre?

Benny Setiawan, sutradara : Salah satunya ada adegan Vino lagi surfing tanpa baju. (dan semua cewek berteriak histeris)

Kemudian itu jadi titik puncak ketahanan saya terhadap jeritan mereka. Saya bangkit, berusaha mengambil foto tetapi ternyata terlalu jauh dan kualitas foto hasil zoom pasti jelek. Ini juga yang saya heran. Kenapa mengambil foto terlalu banyak sampai menghalangi orang di belakang? Bahkan dengan iPad atau tab yang menjadikan konyol saja. Bahkan mengambil video, mengangkat tangan sepanjang acara. Kalau cuma sebagai bukti bahwa kita berada di sana atau untuk dimasukkan di blog, rasanya satu atau dua foto saja sudah cukup. Saya ke depan, permisi untuk masuk lebih dekat sambil bilang bahwa saya hanya sebentar untuk mengambil dua foto. Setelah selesai saya balik ke belakang, menjemput pacar, dan mengajaknya pulang saja, melewatkan sesi tanya jawab dari penonton. Ketika saya sampai di lantai ground, jeritan mereka terdengar, padahal acaranya ada di dua lantai di atas. Keputusan saya keluar memang tepat. Lain kali saya datang ke peluncuran buku yang dihadiri penulis dan pihak penerbit saja.

2013-03-12 14.46.31

Di jalan pulang saya berpikir. Untuk menjadi penulis yang diakui penerbit, menulis saja pasti tidak cukup. Kita harus tahu proses bisnis penerbit seperti apa. Kita harus tahu cara pengiriman naskah, cara pemberitahuan mereka bahwa karya kita diterima atau ditolak, cara mempromosikan karya, cara berbicara saat peluncuran, cara pembagian royalti, dan sebagainya. Kita tak mungkin layak masuk sebuah industri kalau yang kita tahu hanya luarnya. Dengan syarat kita bertekad merampungkan buku kita. Kalau sudah tahu semua proses bisnisnya, kita sudah siap saat giliran buku kita yang diluncurkan dan kita yang duduk di sana, di panggung sebagai narasumber acara.

  • http://www.inspiratorbijak.com arief

    apapun bisnisnya tetap cari untung, termasuk penerbit. Penerbit pun harus punya indra penciuman yg tajam, mana buku bagus yg bakal laku dijual atau tidak. Sebagai penulis kita harus memiliki wewangian yg bisa diendus oleh para penerbit sehingga membuat mereka yakin. begitu kira-kira pemahaman saya mas Marli… salam bijak !