Enigma

Susah payah kubungkam
sarwa gamang di balik geming
sejak dia cabut paksa mulutku
dari puting susu Ibu,

semenjak dia raih peluk
dan tawa yang riuh meruah
dari panggungku, punggung Ayah

Patuh aku dibawanya ke tanah berantah
kendati getirku tercecer berantak
menenteng topeng bangga yang sedianya
tentang apa yang kutentang,
dalam nurani berontak

Kini aku jemu dijejali janji semu
disuapi iming-iming omong kosong

Tapi setiap kali aku mengaduh
dan mengadu pada Ibu
diredamnya semua gaduh
dengan senyum teduh

“Nak, segala apa yang menimpamu,
menempamu.”, Ibu berujar
menampik ragu yang menjalar

Jogja, 2013