Dia yang Tidak Pernah Kelihatan Tersenyum

Dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum. Entah kepada rekan, teman, apalagi yang bukan kenalan. Bahkan, saat sekali dua ia harus menyunggingkan sebilah senyum pun, ia tidak pernah benar-benar kelihatan sedang tersenyum. Garis bibirnya tetap horizontal. Datar. Tidak berpendar.

Kepada beberapa teman sudah kutanyakan, dan jawaban yang didapat tetaplah sama : dia memang tidak pernah kelihatan tersenyum.

Sekali waktu pernah kuamati dia, lamat-lamat membaur di antara tawa yang berderai di sekelilingnya. Tapi tetap saja, bibir itu masih bergeming di postulatnya. Tak berkenan menyungging, walau aku tahu giginya tidaklah kuning. Atau bahkan seandainya giginya benar-benar kuning, pastilah bukan itu alasan kenapa dia tak mau memperlihatkan senyumnya. Ada sesuatu yang membuatnya urung melepaskan. Sesuatu yang, barangkali, tak pernah diketahui oleh banyak orang musababnya. Termasuk aku.

Sekali waktu pernah juga kutanyakan hal tersebut kepadanya. Perihal senyumnya, yang tak pernah kelihatan itu.

***

“Hey!”, sapaku kepadanya yang sedang duduk-duduk berjaga. “Hari sedang cerah, mengapa bibirmu tak ikut-ikutan merekah?”

“Sedang tidak ingin saja.”, jawabnya tukas. “Lagipula, aku bukan orang yang suka ikut-ikutan.”

“Apa iya, seberat itu?”, aku kini menatap lurus kepada pipinya karena ia mulai sedikit memalingkan muka.

“Apanya?”, dahinya sedikit mengerut.

“Tersenyum kan mudah, kalau tak boleh dilang begitu murah.”

“Sudah kubilang kan, aku sedang tidak ingin saja.”, jawabnya menegas.

“Ya ya ya. Baiklah.”

***

Selepas percakapan yang tak berkesimpulan itu, hari-hari yang cerah terus datang berulang. Tetapi lengkungan di bibirnya tidak kunjung terpampang. Barang yang secuil, apalagi yang melimpah ruah. Orang-orang di sekelilingnya boleh saja mulai terbiasa dengan hal itu, tapi aku tidak. Selalu ada rasa penasaran yang menjerang, memanggil-manggil, melambai-lambai, untuk mencari tahu musababnya. Musabab kenapa dia begitu enggan untuk tersenyum.

Dulu aku sempat berpikir, jangan-jangan otot bibirnya sudah kaku ditempa oleh waktu dan masa lalu. Oleh pengalaman, yang barangkali terlalu pilu, terlalu getir, sampai-sampai membuatnya lelah untuk memberi tafsir, lelah untuk menceritakannya kembali. Sebuah pengalaman buruk, teramat buruk mungkin, yang sudah mengkulminasi hingga muntab, lalu membikin memorinya tentang cara untuk tersenyum menjadi kalis tak bersisa, barang satu zarah sekalipun.

Atau setidaknya, sepanjang keyakinanku, pasti ada sesuatu hal yang membuatnya urung untuk tersenyum. Sebuah alasan, yang pastinya, bukan sekadar karena sedang tidak ingin saja, seperti yang pernah dikatannya tempo hari itu. Sebuah tanda tanya yang sederhana, tapi selalu mampu membuat aku menerka-nerka.

Apa iya, dia memang tidak pernah ingin tersenyum? Sedetik pun?

***

Kemarin waktu, tanpa diduga-duga, aku menemukannya —dia yang tak pernah tersenyum itu— di sebuah stasiun kereta, dekat Jatinegara. Dan dia yang tak pernah tersenyum itu, hanya sedang duduk diam di sana. Sedikit melamun, dengan membawa sebuah tas besar yang didudukkan di sampingnya. Entah isinya apa. Air mukanya tenang, seperti sebuah laut yang tak bakal sanggup membikin kapal sampai karam, tapi menyimpan satu rahasia yang dalam.

Lalu kata-kata mulai mengambil alih suasana.

“Padahal hari sedang tidak cerah, tapi hendak ke mana kiranya sepagi ini sudah duduk-duduk di stasiun kereta?”, kataku sambil tiba-tiba mengambil posisi di sebelahnya.

“Eh, kamu.”, dia nampak kaget sekejap, namun segera berhasil menguasai diri untuk menjawab, “Hendak ke mana pun, kamu tak perlu tahu kan?”

“Apa iya, seberat itu?”

“Apanya?” ia memasang kerutan yang sama persis, seperti di percakapan tempo hari.

“Menjawab pertanyaanku yang tadi.”, aku diam sejenak sebelum melanjutkan, “Bukankah jauh lebih mudah menjawabnya, ketimbang menjawab pertanyaanku yang dulu?”

“Kamu ini sebenarnya ingin tahu yang mana?”, pertanyaannya kali ini sedikit menjebak.

“Yang paling ingin kau jawab saja lah.”, aku mencoba berdiplomatis.

“Baiklah.”, katanya kemudian. “Karena hari sedang tidak cerah, aku rasa tidak baik juga membuat orang jadi penasaran. Kebetulan aku sedang ingin banyak bicara kali ini.”

“Well, mulailah bercerita kalau begitu.”

Kemudian bibirnya, bibir yang tak pernah kelihatan tersenyum itu, mulai menceritakan banyak hal. Banyak sekali hal. Hal-hal yang barangkali tak pernah diumbarnya kepada sembarang orang.

Dari mulai ke mana ia hendak melangkah sepagi ini, padahal seharusnya ia masih terlelap di kasurnya yang empuk dan dingin. Lalu tentang jalanan Jakarta sepagian ini, yang kalau bisa ingin ia beli seluruhnya karena sangat lancar dan nyaman —tak seperti biasanya yang begitu macet dan penuh dengan kendala. Kemudian tentang pendapatnya soal orang-orang di kantornya —kantorku juga, kantor kami berdua— yang menurutnya sudah terlalu sesak oleh sandiwara di dalamnya. Juga tentang —ini yang paling penting— sebuah kehilangan dan perpisahan.

Sepanjang celotehannya pagi itu, aku tidak cuma diam atau sekedar mengangguk. Sesekali kutanyakan hal-hal yang membuatku mengernyit gara-gara ceritanya. Sesekali juga aku memberikan pendapatku terhadap keluh kesahnya, terhadap opininya. Sesekali juga ia bertanya tentang cerita-ceritaku sendiri. Sesekali juga ia mengangguk paham, mengamini apa yang kuucapkan.

Pagi itu, boleh dibilang, aku dan dia perlahan-lahan lebur dalam kata.

Tetapi di sepanjang percakapan yang diliputi oleh apak debu-debu kereta api yang berseliweran, serta lalu lalang pedagang asongan, dia tetap manusia yang sama seperti pada percakapan sebelumnya: manusia yang belum mau menampakan senyumannya, barang secuil saja. Raut wajahnya tidak berubah. Masih datar, diplomatis, tanpa ada sedikitpun tendensi untuk bersenda gurau. Seperti sebuah pagi, yang datang tanpa iringan kokok-kokok ayam, atau suara gesekkan sapu lidi dengan kerikil-kerikil kecil. Sebuah pagi yang terlalu sepi untuk sekedar menanak nasi. Dan aku tak pernah suka dengan pagi yang sepi.

“Jadi, sebenarnya apa alasanmu tidak pernah mau tersenyum?”, tanyaku tak tahan memuntabkan penasaran.

Dia diam. Diam yang cukup panjang disertai pandangan yang mengawang-awang.

“Tak ingin menjawab kah?”, aku lalu memberinya sebuah pilihan.

“Sebetulnya begini, ini bukan tentang sekadar sesuatu yang sedih, muram durjana, pelik, atau apapun yang bersinonim dengan hal-hal itu.”, ia menelan ludah sebentar, “Ini cuma sesuatu yang sebetulnya sederhana saja.”

“Apa?”, kubiarkan telingaku menganga besar-besar, hendak menelan apa saja yang keluar dari bibirnya.

Stasiun sempat terasa hening beberapa waktu. Lalu mulutnya kembali bersuara.

“Ini adalah tenta…..”

Suaranya terputus saat mendengar bebunyian…

*tung *ting *ting *tong…

Loudspeaker stasiun tiba-tiba saja berbunyi, memberitahukan kedatangan kereta yang hendak ia tumpangi. Aku mendadak tergagap. Percakapan terlanjur lindap. Kata-kata berhenti di situ saja. Dan ketegangan seketika buyar tak berupa.

Ia lantas berdiri, memunguti bekal-bekal yang tadi lepas dikepal, memberesi lagi pernik-pernik yang menurutnya terserak, supaya jadi ringkas dalam satu tas. Kemudian tubuhnya berlalu, secara sewajarnya saja, seakan dari tadi tak pernah ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Seseorang yang sedari pagi telah mengajaknya berbicara tentang banyak hal. Banyak sekali hal.

“Aku tau keretamu sudah datang, tapi kamu belum selesai.”, aku mencoba menyergah langkahnya.

Ia tetap tak acuh, dan tetap tak tersenyum. Langkahnya hanya lurus menuju gerbong kereta. Sedikit tergopoh-gopoh membawa tasnya —yang terlalu buntal untuk ukuran badan mungilnya. Ingin sekali aku berdiri mengejarnya, menggamit tangan kirinya, kemudian memintanya menuntaskan penjelasan yang terpotong tadi, sebelum keretanya bergegas pergi. Tetapi semua itu tidak pernah terjadi. Aku tetap bergeming di bangku yang kududuki sedari pagi.

.

.

Kereta miliknya sudah melaju pelan, tapi aku tetap tertahan penasaran.

  • http://redemptionsoldier.blogspot.com Gita Wiryawan

    Woh master!
    Keren ceritanya :O

  • pejalan kaki

    jalan ceritanya biasa saja, tapi permainan katanya menyenangkan untuk dinikmati

  • http://fauziatma.blogspot.com Marli Haza

    Cara berdeskripsinya membuat setiap orang ingin berlama-lama membacanya untuk menikmati setiap kata. Komposisi kalimat majemuk dan sederhana begitu pas, mengatur alurnya agar sesuai dengan deru napas normal pembaca, begitu tenang, santai. Penulis jelas harus punya kemampuan menahan egoisme dan emosi seperti ini. Namun, akan lebih baik kalau konfliknya lebih banyak atau menggunakan alur campuran agar ceritanya lebih kompleks. Dari tiga cerpen Galih yang saya baca, alurnya selalu maju. Bayangkan saja betapa sederhananya cerita Memento kalau dibuat dengan alur maju saja, tetapi alur campuran menempatkannya di jejeran seratus film terbaik di beberapa versi.

    • http://goodtemptation.blogspot.com Galih Rakasiwi

      Terima kasih masukannya, kak Marli. Saya akui saya masih perlu banyak belajar soal permainan alur, konflik dan juga twist. Akan dicoba di cerpen berikutnya deh :)