You Are A Tourist Concert Trip (#1)

Perjalanan tahun lalu ini saya mulai dengan menceritakan bahwa kepergian saya ke negara itu dahulu adalah untuk mendapat pengalaman baru atau cerita baru. Tidak muluk-muluk lah mau mencari hati yang baru. Bisa menikmati konser kemarin itu tanpa mengingat dia saja mungkin sudah cukup menjadi pemecut kendali pelana saya untuk segera mengubah diri dan kebiasaan.

Saya pergi bersama teman saya, Nobi yang baik hati, yang ternyata berinisiatif memesankan duluan kursi di penerbangan yang akan membawa saya terbang ke Singapura –negeri dimana kapitalisme berasimilasi dengan kebudayaan timur yang semakin tergerus zaman. Jadwal boarding di boarding pass adalah pukul 15.35 Waktu Indonesia Bagian Barat. Sampai di Soekarno-Hatta kira-kira pukul 13.00. Setelah mencari parkir di tengah kesadaran yang terpangkas cuaca semi kemarau yang panas dan terhuyung ala penghirup marijuana, saya dan Nobi sampai ke bandara dengan diantar oleh teman-teman yang sering berkumpul bercerita bersama di rumah ini. Rumah tempat saya menulis cerita ini. Banyak sekali kejadian-kejadian cukup penting di rumah ini yang saya perkirakan akan sangat mempengaruhi kehidupan saya di masa depan nantinya. Tapi cerita ini bukan tentang rumah tersebut. Cerita ini tentang perjalanan saya mengumpulkan kembali potongan-potongan kenangan yang pernah saya ciptakan bersama dia dulu di tempat itu. Di negara itu. Singapura yang sama dengan yang pernah kalian kunjungi.

Setelah berhasil memasuki ruang check-in terminal 2 Soekarno-Hatta, saya dan Nobi kembali berjalan menuju pintu keluar untuk menjumpai teman-teman yang tadi menemani mengantar kami ke bandara. Mereka bertiga. Dan ternyata sedang menunggu kami di depan sebuah counter restoran Jepang, Hoka-hoka Bento dan sedang terdiam terpana melihat kecantikan bule Eropa yang sedang membenarkan isi tas punggungnya yang terlihat penuh. Ternyata benar mereka juga pengagum berat keindahan dari bentuk fisik wanita barat yang seringnya mereka lihat di layar monitor saat memutar film biru hasil produksi dari perusahaan pengumbar tubuh wanita itu. Saya dan Nobi juga terdiam, mengagumi dan berimajinasi liar khas pemuda-pemuda pemuja halusinasi. Tapi kemudian kami disadarkan oleh kenyataan yang akan menghadapi tempat yang menampung banyak sekali wanita-wanita cantik berkulit putih. Kami segera memesan makanan di restoran Jepang itu. Menghabiskan waktu sekitar sejam atau lebih untuk berbincang-bincang ringan sambil bercanda dan menyantap sepaket combo-nya masing-masing.

Setelah waktu menunjukkan hampir tiba saatnya boarding, saya dan Nobi undur diri untuk segera masuk ke ruang tunggu terminal internasional ini. Kami bersalaman. Saling mengucapkan harapan agar kami menikmati semuanya dan tak lupa berterima kasih. Kalian sungguh baik hati, teman. Kalian membuat saya menyadari kalau saya sebenarnya bukan lah benar-benar hidup sendirian di sini. Tak berapa lama menunggu, akhirnya pengumuman di pengeras suara mengumumkan bahwa waktu untuk naik ke pesawat telah tiba. Karena sebelumnya sewaktu check-in kami telah memesan tempat di sebelah jendela darurat yang relatif lebih luas, kami pun memasuki pesawat dengan tenang dan santai.

Waktu 2 jam di pesawat tak terasa terlewati. Saya asik menghabiskan The Rum Diary, dan Nobi dengan headphone barunya. Seingat saya tidak ada percakapan panjang kami di pesawat. Akhirnya pesawat pun tiba di changi airport. Kami memutuskan untuk menikmati sejenak taman tropis yg ditujukan untuk tempat merokok di terminal 2 Changi Airport. Nobi memesan 2 gelas bir dan dibayar dengan dollar amerika karena kami belum menukar mata uang. Gelas bir ternyata berukuran setengah liter. Cukup lama juga waktu buat kami menghabiskannya. Akhirnya setelah minuman habis, kami memutuskan untuk mencari tempat beristirahat supaya besok hari bisa berangkat nonton pertunjukan dengan kondisi yang fit.

Akses internet gratis di Changi Airport memudahkan kami untuk mengetahui bahwa di daerah Clark Quaye terdapat sebuah hotel yang rate-nya lumayan terjangkau. Kami menggunakan MRT untuk menuju daerah tersebut yang ternyata hotel yang kami tuju tidak mempunyai kamar berjendela. Akhirnya hostel backpacker di dekat situ pun jadi pilihan. Selain murah, tingkat keamanan negara ini membuat kami percaya tidak akan terjadi apa-apa seandainya kami berada sekamar dengan orang asing apalagi hanya untuk tidur. Setelah berbincang-bincang dengan salah seorang pegawai hostel yang cukup ramah kami memutuskan untuk beristirahat. Karena besok saya harus ke daerah Orchard untuk membeli tiket pertunjukan dan menukar uang ke dollar Singapura.

–bersambung

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.