You Are A Tourist Concert Trip (#2)

Cerita saya lanjutkan,

Setelah malam yang panjang dan menenangkan tidur sekamar tapi tidak seranjang dengan orang asing di dalam kamar hostel, saya terbangun dan menemui teman saya, Nobi, yang ternyata sudah berada di teras hostel menikmati sepotong sarapan berbentuk roti dan kopi. Jenis sarapan yang ekonomis dan praktis ala luar negeri. Sangat berbeda sekali dengan yang biasanya “cuma” soto mie pake nasi sewaktu sarapan di kantor. Sehabis sarapan, kami berbenah diri. Memutuskan untuk melanjutkan menginap di hostel tersebut karena memang terasa nyaman. Belakangan saya mengetahui bahwa ternyata ada sebuah hostel lagi yang jauh lebih nyaman di daerah Arab Street.

Perjalanan kami hari ini menuju kawasan Orchard. Kawasan yang dikenal sangat penuh dengan simbol-simbol kapitalis tempat pemuas nafsu hedonis berbentuk “belanja”. Sealim apapun dia ketika berada di Orchad, pasti tergoda untuk jadi makhluk konsumtif begitu melihat papan berwarna warni advertising itu. Pemerintah Singapura nampaknya pun sangat serius menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan pariwisata belanja. Tak heran banyak sekali akses dari dan menuju kawasan tersebut. MRT adalah pilihan paling tepat untuk bertransportasi di negara tersebut.

Sesampainya di Orchard pikiran saya pun langsung menunjukkan sinyal-sinyal kecil bahwa saya membutuhkan sesuatu. Nampaknya bius kapitalis telah mempengaruhi kami pemuda miskin rencana dan tebal di keuangan. Tapi kemudian hati saya langsung berteriak membatasi. “ada hal-hal yang dibutuh kan yang sebenarnya tak kau inginkan” katanya mengingatkan. Saya tersadar, prioritas adalah kuncinya. Jangan sampai barang-barang yang terbeli di kawasan itu malah menjadi sampah akibat memanjakan nafsu duniawi yang sangat semu. Saya memutuskan hanya membeli paling banyak 5 jenis barang saja. Itupun karena tiba-tiba teringat bahwa saya tidak membawa tas yang cukup besar untuk menampung barang belanjaan.

Barang pertama yang saya beli adalah tiket pertunjukan grup musik Death Cab For Cutie. Mengenai alasan mengapa saya jatuh cinta dengan grup musik ini mungkin akan saya tuliskan di cerita yang lain. Tiket seharga 90 dollar singapura itu pun memasuki tas saya setelah sebelumnya menukarkan dulu rupiah yang saya bawa ke kios money changer yang banyak bertebaran di kawasan Orchad.

Barang kedua yang saya beli adalah sepasang sepatu yang saya butuhkan. Alasan pertama saya untuk membeli sepatu tersebut adalah harganya yang sedikit lebih murah dibandingkan dengan harga di Jakarta. Apalagi sepatu kesayangan saya sebelumnya telah raib diambil orang sewaktu di kontrakan. Saya putuskan untuk membeli dengan merek yang sama dengan sepatu sebelumnya. Prinsip belanja “yang penting murah asalkan asli” pun ternyata bisa saya terapkan di toko sepatu yang saya tuju. Belakangan saya ditunjukkan bahwa saya tidak salah memilih tipe sepatu karena ketika di Jakarta, teman-teman saya banyak yang menanyakan dimana saya membeli sepatu saya tersebut. Biasanya saya menjawab singkat dengan kalimat, “ahh ini cuma sepatu murah kok”.

Selanjutnya adalah sebuah buku yang sejak lama telah saya incar. Buku ini telah lama saya cari karena telah menginspirasi beberapa buku yang telah saya baca sebelumnya. Berjudul “Ishmael” karya Daniel Quinn. Toko buku Kinokuniya di kawasan Orchard lantas saya tahbiskan sebagai toko buku paling lengkap se-Asia Tenggara. Di toko buku itu lah saya temukan buku tersebut. Koleksi literatur dunianya lengkap dari berbagai bahasa. Mulai dari Inggris, Perancis, sampai Jepang. Hati saya bersorak kegirangan bak penari menang kompetisi saat memegang buku idaman saya yang saya idamkan sejak belum menjalin hubungan dengan dia –sang mantan. Ada kalanya kita kembali ke tujuan awal yang terlupakan ketika mengakhiri sebuah mimpi, pikir saya saat membeli buku tersebut.

Dua barang selanjutnya yang saya beli adalah sebuah lampu baca bikinan Ikea dan kaos official resmi dari Death Cab For Cuite yang saya dapatkan di tempat berlangsungnya pertunjukan musik tersebut di daerah Fort Canning.

Mengingat waktu yang hampir menunjukkan hampir dekat dengan konser yang berlangsung malam hari itu, maka sebelum Maghrib kami memutuskan untuk kembali ke hostel dan bersiap menuju ke kawasan Fort Canning yang ternyata terletak tidak begitu jauh dari hostel kami menginap.

–bersambung

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.