Trip Gunung Padang (1): Jejak Sejarah Stasiun Lampegan

Musim hujan sering kali membuat orang malas untuk jalan-jalan alias traveling. Terlebih lagi ke tempat yang medannya cukup sulit. Tapi tidak diriku. Demi menjawab rasa penasaranku akan keberadaan sebuah situs prasejarah, maka aku melakukan perjalanan ini, walaupun kondisi cuaca tidak menentu.

Tidak banyak yang tahu bahwa di Indonesia terdapat situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dan banyak yang tidak menduga bahwa situs tersebut letaknya tidak jauh dari Jakarta, yaitu di Gunung Padang, Cianjur. Bahkan beberapa orang yang tinggal di Cianjur pun tidak mengetahui keberadaan situs ini. Mungkin karena lokasinya yang tidak mudah dijangkau membuat situs ini tidak setenar tempat wisata lain.

***

Hari sabtu pagi aku bersama 11 orang traveler lainnya berangkat dari Jakarta. Rencananya one day trip kami kali ini akan mengunjungi 3 tempat sekaligus, yaitu Stasiun Lampegan, Situs Megalitikum Gunung Padang, dan Curug Cikondang. Cuaca hari itu memang tidak dapat diprediksi. Terkadang cerah, tapi tak lama berubah menjadi berawan. Bahkan pada saat melewati puncak Bogor, kami diguyur hujan yang sangat deras, dilengkapi dengan turunnya kabut yang sangat tebal, yang membuat jarak pandang kami menjadi pendek. Terus terang aku merasa ngeri, serasa ada di dunia lain. Dan sempat was-was, jika hujan sederas ini sepertinya acara mengeksplore situs jadi terbatasi. Untunglah itu tak berlangsung lama. Perlahan saat kami telah melampaui daerah puncak, hujan dan kabut mulai reda.

Terowongan Lampegan
bergaya di depan stasiun

Tapi setelah beberapa jam perjalanan semakin dekat dengan tempat tujuan, kondisi jalan justru semakin parah. Jalan berkelok-kelok, menanjak, dan banyak yang berlubang. Musim hujan semakin memperparah keadaan, karena kondisi jalan menjadi licin. Sebelum sampai ke situs gunung padang, kami mampir dulu ke stasiun Lampegan yang letaknya kira-kira sekitar 8 km sebelum situs tersebut. Di stasiun itu kami makan siang bersama, dan tentu saja berfoto ria.

nikmatnya makan siang bersama

Dan inilah penampakan Stasiun Lampegan. Stasiun yang dibangun tahun 1884 ini, masih berdiri kokoh dan tampak aura mistis nan eksotis. Terutama jika kita masuk di terowongannya yang gelap, dengan pilar-pilar yang berbaris rapi. Konon bagi yang bisa ‘melihat’, di terowongan ini ada sebuah kereta yang lewat hilir mudik, dengan penumpang yang berpakaian ala Belanda jaman dulu. Iih jadi merinding. Ada pula yang bilang, terowongan Lampegan ini merupakan terowongan pertama di Indonesia yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Dan katanya pembangunannya memakan banyak korban jiwa. Pantesan saja suasananya terkesan angker.

bagian dalam terowongan

Saat kami kunjungi, stasiun tersebut sedang diperbaiki, karena sebelumnya sempat terjadi longsor. Beberapa truk yang mengangkut bahan bangunan lalu lalang. Di sekitar stasiun berserakan besi-besi panjang. Dan para tukang sibuk dengan pekerjaannya. Namun semua itu tak membuat kami jengah untuk berfoto-foto. Walaupun banyak mata yang memandang aneh pose-pose ajaib kami.  Hehehe..

Charlie’s Angels wannabe