Tentang Kritik

Sering, terlampau sering saya mendengar ungkapan kekesalan yang muncul kala seseorang memutuskan untuk mengungkapkan kritik terhadap suatu hal. Anda tidak perlu jauh-jauh pergi mencarinya, silakan lihat saja linikala Twitter atau Facebook Anda. Saya yakin, barang sekali dua kali Anda pasti pernah menemukan orang yang berkata bahwa, “Ini orang bisanya kritik saja, tanpa menawarkan solusi! Memangnya dia pernah jadi penulis/presiden/penyanyi/dsb.? Memangnya gampang?”

Jika orang tersebut mau memikirkan kembali ucapannya, seharusnya ia bisa melihat sesat pikir dari perkataannya tadi. Tentu saja, sebagai pemangku kepentingan dan aktor sekaligus penonton yang mau tidak mau menyaksikan berbagai fenomena sosial yang timbul (kecuali, jika Anda tinggal di dalam gua), kritik adalah sarana yang paling alamiah bagi seseorang untuk menggugat keadaan yang ia lihat jauh dari ideal. Orang tidak perlu menjadi presiden untuk menilai kinerja seorang presiden, ia hanya perlu belajar mengerti politik, ekonomi, dan kebijakan publik. Orang tidak perlu menjadi sutradara macam Orson Welles atau Akira Kurosawa untuk tahu mana film yang jelek dan mana yang tidak, ia hanya perlu menonton sebanyak-banyaknya film, kemudian membuat tolok ukur dari situ (atau jika perlu, belajar sinematografi). Orang tidak perlu menjadi pelatih sepakbola untuk berkata bahwa Pep Guardiola adalah salah satu pelatih terbaik yang pernah melatih Barcelona, Anda hanya perlu menonton sebanyak-banyaknya pertandingan bola.

Beberapa teman saya merupakan kritikus yang handal. Mas Nuran dan Mas Manan, misalnya, keduanya bukanlah seorang musisi yang bisa Anda tunggu-tunggu kemunculannya di pentas musik tanah air. Namun, baca saja tulisan mereka. Anda akan tahu bahwa Anda sedang membaca buah pikiran kritikus dengan kredensial yang mumpuni. Atau Mas Arman Dhani, yang kritiknya membawa gonjang-ganjing di dunia Twitter sampai Goenawan Mohamad dan Dewi Lestari pun juga angkat bicara. Mas Panjoel, yang tulisan-tulisannya tentang sepakbola bernas dan cerdas. Di skena film, Anda tentu bercanda jika mengatakan bahwa pemenang Pulitzer, Roger Ebert, (yang ini bukan teman saya) atau Mas Yandri (yang ini teman saya) adalah kritikus yang payah hanya karena mereka tidak pernah membuat film yang meraih Oscar.

Lalu, untuk apa ada kritik; lebih-lebih kritik tanpa solusi, tanpa perubahan nyata yang timbul? Pertama-tama, kritik, terlepas ada atau tidaknya perubahan nyata dari tatanan sosial yang timbul, adalah suatu bentuk ekspresi manusia yang sah adanya. Raison d’ĂȘtre yang paling dasar bagi suatu kritik adalah untuk dikatakan, untuk diekspresikan. Tentu Anda tidak mungkin menyalahkan seorang Mancunian yang mengkritisi performa Manchester United, meskipun kritiknya tentu tidak akan pernah sampai ke telinga Sir Alex Ferguson atau bahkan Malcolm Glazer.

Di samping itu, kita tidak bisa menafikan bahwa adalah sangat mungkin bagi kritik untuk mewujud sebagai sebuah opini publik, apalagi, di era demokrasi yang menjamin para kritikus bebas dari upaya pembungkaman sistematis (systematic silencing) dan tirani mayoritas. Pada konstelasi politik Indonesia sendiri misalnya, kritik pernah menggagalkan usaha seorang gubernur incumbent untuk terpilih kembali di periode kedua. Saat kritik dilancarkan terhadap sebuah figur atau institusi, ia dapat menjangkau orang-orang yang berpendapat sama, yang sedang dalam usaha melawan hegemoni yang (mungkin) tiran dan bebal. Kritik lalu timbul sebagai inti kekuatan gerakan subversif.

Dalam ranah ilmu pengetahuan, seni, dan literatur, kritik diperlukan sebagai suatu clearing-out mechanism. Ia ada untuk memberi ruang untuk regenerasi serta menyuntikkan perspektif yang segar dan radikal, yang selama ini tertahan oleh cengkeraman pemikiran gaya lama. Jika semua orang mengamini begitu saja ide-ide yang sudah established tanpa menyanggah atau mempertanyakannya, maka musykil untuk timbul proses tesis-sintesis-antitesis seperti yang dikatakan Hegel atau perubahan paradigma seperti yang pernah diajarkan oleh Thomas Kuhn. Tanpa kritik, maka pengetahuan akan stagnan dan mati. Kritik berfungsi sebagai alat untuk membentuk diskusi yang konstruktif dan mencerahkan bagi banyak orang.

Namun, bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, kritik pun juga sangat bermanfaat. Minimal, kritik tersebut bisa dibaca oleh mereka yang sedang membutuhkan opini orang lain terhadap sesuatu; entah tentang masalah interpretasi agama, atau masalah yang lebih remeh seperti buku apa yang menarik untuk dibeli tahun ini.

Menjadi Kritikus yang Baik

Kritik yang baik dibentuk dari argumen yang bebas dari bias, prasangka, dan sesat pikir (jika tidak, maka adu kritik dapat berakhir buruk seperti ini). Kritik harus disampaikan secara relevan terhadap apa yang hendak dikritik. Ia harus dapat dijustifikasi dengan akal sehat bagi pembacanya yang average reasonable persons. Contohnya, ketika Anda sedang menyigi suatu fenomena politik/ekonomi, maka Anda harus dapat mempertanggungjawabkannya dengan filsafat politik dan statistik ekonomi agar kritik Anda memiliki dasar untuk berdiri (ini mengapa cukup jarang ditemuikan kritik tentang politik yang cerdas di Indonesia – karena politik itu memang tidak mudah untuk dipelajari). Anda tidak boleh mengkritisi suatu kebijakan hanya karena Anda tidak suka dengan perumusnya. Anda harus dapat menjelaskan mengapa kebijakan tersebut tidak penting, tidak layak (not feasible), bertentangan dengan hak asasi manusia, atau terbukti tidak efektif, misalnya. Pun, ketika Anda sedang mengkritisi suatu tulisan atau musik, Anda harus bisa menjelaskan dengan seobyektif mungkin mengapa tulisan atau musik tersebut buruk; bukan karena semata-mata tidak suka dengan pengarangnya atau genrenya.

Namun, yang tidak kalah penting, adalah kritik harus disampaikan dalam decorum, kepantasan. Kritik yang disampaikan dengan cara yang (secara moral dan etis) bisa dikatakan menjijikkan, tidak lebih dari omong kosong yang tidak perlu dianggap serius. Bukan berarti Anda tidak boleh menuliskan kritik dalam bahasa yang satirikal, bukan. Ada batasan yang jelas antara kritik yang satir, dengan menjadi bebal dan self-righteous. Moral dan etika adalah persyaratan minimum yang harus dimiliki oleh seorang manusia. Jika tidak, maka berikanlah saja sebuah mikrofon pada seekor monyet, lalu silakan anggap apa yang dia sampaikan nantinya adalah sebuah kritik.

Membentuk Kritikus Sedari Kecil

Mayoritas dari kita tumbuh dalam budaya yang tidak mengajarkan pentingnya beretorika. Kita seringkali dididik sedari kecil untuk tidak mengkritik dan dianjurkan untuk menghindari perdebatan. Terlebih lagi, masyarakat acapkali menyamakan perdebatan dengan pertengkaran. Akibat miskonsepsi ini, tanpa disadari kita telah banyak kehilangan kemampuan untuk usefully and reasonably disagree, dan alih-alih menjadi pribadi yang lebih suka bergabung dalam groupthink, menggosip, atau menjadi pasif-agresif.

Bagi Anda yang sudah memiliki anak, maka lebih baik jika Anda mengajari anak Anda untuk beretorika dan bersikap kritis. Retorika tidak akan membentuk anak Anda menjadi tukang berkelahi, justru ia membuat anak Anda mengerti sudut pandang orang lain; ia akan mengajarkan anak Anda untuk mempersuasi orang lain, alih-alih mendominasi orang lain dengan kekuatannya.

Lalu, bagaimana caranya? Meminjam istilah Aristoteles, anda harus mengajari anak Anda bagaimana berargumen dengan logos, pathos, dan ethos. Logos adalah argumen berdasarkan logika. Pathos adalah argumen yang mempersuasi emosi lawan. Sedangkan ethos adalah argumen yang berdasarkan karakter; bagaimana si pembicara berargumen bahwa ia memiliki sifat, reputasi, dan kemampuan yang dapat diandalkan oleh orang lain. Mudahnya begini, jika logos adalah Albert Einstein, maka pathos adalah Oprah Winfrey, dan ethos adalah George Washington. Dengan mengikutsertakan mereka dalam pengambilan keputusan, mengajari nilai-nilai baik (virtues), membuat mereka berorientasi kepada masa depan dan problem-solving, serta membentuk keluarga yang demokratis dan adil dalam memberikan reward and punishment, secara alami, anak Anda akan tumbuh dengan menguasai ketiga elemen tersebut yang membentuk mereka sebagai kritikus cilik yang baik. Saya sendiri belum memiliki anak (pacar pun belum), namun, saya rasa inilah itu.

Mari sama-sama membangun budaya mengkritik!