Rantau

karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu

Beberapa tahun lalu, saat usiamu masih ranum, dan aku masih tak rela ditinggalkan, apalagi punya pikiran berpisah dengan satu, atau bahkan lebih, orang yang kucinta, untuk jangka waktu yang lama, kau dengan lancang menghadirkan mimpi buruk pada tiap malamku. Kau meminta restu untuk merantau. Aku, ibumu dan suamiku, bapakmu dengan berat hati, dengan muka ikhlas yang dipaksakan, harus membukakan pintu harapan padamu yang belia. Padamu, anakku, yang hendak menjemput mimpi di negeri orang. Padamu, anakku, yang hendak mengabdi pada negara di mana leluhurmu telah berjuang.

“duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.”

Aku tak pernah mengerti bagaimana rasa kehilangan bekerja. Dia datang bersama sesak yang usang. Juga jarak yang membentang. Tidak. Aku tak pernah habis pikir. Mengapa kenangan selalu datang pada sisa sepi atau malam yang gamang. Kukira baru kemarin aku menuntunmu yang sedang merangkak, berjalan. Kukira sesaat sebelum aku tidur aku masih melihat sekelebat kedamaian pada wajah kecilmu. Kini waktu telah berlari. Ia mengejar takdirnya sendiri, sebagai sesuatu yang harus memangsa habis semua kenyataan. Aku tahu kau yang manja akan selalu rindu belaianku, ibumu yang makin renta dimakan usia.

Tetapi usah kaupikirkan aku, ibumu di sini, anakku. Kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing. Biarlah aku sekarang menjalankan bagian sunyiku sendiri. Di rantau yang jejal oleh bising, kau hanya perlu menenangkan diri di kamarmu. Dapatilah sunyimu sendiri. Tak perlu kau menangis, atau mengumbar rindu di setiap waktu. Aku juga rindu kau, anakku sayang. Apalah daya, hutan laut memisahkan kita dengan garang. Biar begitu, aku yakin, cepat atau lambat, ia pasti akan takluk oleh kesabaran kita, satu jiwa yang berada pada tubuh dua orang.

Aku ingat pesan singkatmu, suatu kali, anakku. Cinta, katamu pada sore yang redup oleh gemuruh awan, adalah satu perlindungan. Di kota orang yang kaku karena pekerjaan, bolehlah kau terjebak pada cinta yang tidak murahan. Asal tidak jatuh pada kemaksiatan. Aku, ibumu, dengan senang hati, bahkan akan lebih sering menyuruhmu, untuk mencari wanita pujaan. Aku pikir, hidup yang baru akan bisa kaujalani dengan dia, sang kekasih hati. Carilah. Carilah dia yang dapat membuatmu merasa lahir sebagai orang yang baru di saat kau jauh denganku, ibumu.

Sebelum makin besar rinduku padamu, anakku sayang, aku ingin ucap ini: meski tak sering kau beri kabarmu di tanah orang, aku, ibu yang melahirkanmu, tahu pasti kau selalu ingat jalan pulang. Karena jarak mengajarkan rindu, anakku. Aku kira, sesekali bolehlah kau tuai hasil panenmu. Panen rindu. Bersamaku.

“setiap kehilangan adalah satu kepulangan lain
dan kau tak pernah pergi sesungguhnya.”

—–

nukilan-nukilan diambil dari sajak “Pledoi Malin Kundang” oleh Indrian Koto.