Membangun Rumah Kita

Aku ingin membangun rumah kita,
berbahan baku setia.
Kata orang-orang sekitar
setia adalah bahan baku terkuat di seluruh dunia.
Bisa bertahan beratus-ratus masa.
Dan kita bisa terus bercengkerama
menceritakan hari-hari berlalu
sambil menunggu malam menjadi debu.

Jika kamu berkenan,
sebagian tulang rusukmu
akan aku jadikan tiang penyangga.
Tempat kita berpegangan
menggenggam rindu.

Pondasinya,
aku buat dari rasa percaya.
Agar ketika kau ragu padaku
lihatlah lantai di bawah telapak surgamu,
doaku mengiring langkahmu.

Atapnya,
aku buat dari kenangan.
Agar kalau kau merindu masa lalu
tengadahkan saja parasmu ke atas,
berpasrahlah pada langit.
Biarkan malaikat iri padaku
yang punya kamu sepenuh waktu.

Untuk pintunya,
aku buat dari hati.
Tentunya hatiku dan hatimu.
Hati yang terbuka lebar,
seluas samudera ketabahan.
Biar angin dan lelaguan bebas keluar masuk.
Biar kita di dalamnya menjadi sejuk,
nyaman dalam menyusun masa depan.

Sedangkan jendelanya,
aku buat dari pelukan.
Dari pelukanmu yang hangat,
yang selalu kau dekapkan kepadaku
ketika Tuhan sedang mengujiku.

Dan sebelum rumah itu aku buat,
sebelum doa-doa terpanjatkan,
sebelum ruang kosong kita saling bertemu,
sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu:
sudahkah kau mengenaliku sepenuhnya?

Yogyakarta, 1 Februari 2013

Teruntuk calon Ibu dari anak-anakku kelak