Dari Papua Meneropong Indonesia: Sudut Pandang Lain dari Timur

Dari beberapa referensi yang pernah saya baca, yang saya tangkap tentang Papua adalah sebuah provinsi dengan akses kesehatan dan pendidikan yang sulit di beberapa kabupaten, PNSnya gemar menghilang pada jam kerja, dan tingkat penyebaran HIV/AIDS yang tinggi. Dengan membaca buku ini, gambaran saya menjadi lebih lengkap plus tambahan beberapa hal dari pokok bahasan yang lain.

Cerita di dalam buku ini mengangkat beberapa masalah ‘lawas’ di Papua, seperti bagaimana pada tahun 2000 sampai bisa muncul angka rata-rata 700 orang meninggal dunia setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas karena pengaruh minuman keras (baca Saya Tidak Suka Miras) . Ada juga kisah betapa PNS merupakan profesi yang diidam-idamkan di Papua khususnya kabupaten Mimika, sampai-sampai ada demonstrasi protes kepada pemerintah yang dilakukan oleh orang-orang yang gagal lolos tes CPNS (baca Aku Ingin Jadi Pegawai Negeri).

Tulisan dalam buku ini membahas beberapa hal, antara lain politik, adat istiadat, persamaan gender, dan sosial. Simak bagaimana Mama Yosepha Alomang, tokoh perempuan suku Amungme di Timika, khawatir bahwa nilai adat-istiadat Papua khususnya suku Amungme suatu saat bisa luntur dan hilang (Adat, Mengapa Harus Dilestarikan?). Juga dalam tulisan Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan, Sekarang Juga! yang membahas usaha Forum Kajian Perempuan Amungsa (FKPA) dalam mengupayakan advokasi untuk mencegah dan mengurangi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Hal ini karena menurut data FKPA, selama periode November 2000 sampai dengan Juli 2001, tercatat 31 kasus pelanggaran hak asasi wanita di Timika.

Selain membahas tentang Papua, penulis buku ini juga mengangkat beberapa ulasan atas peristiwa yang terjadi di Indonesia. Contohnya dalam Apakah Kita Masih Punya Hati Nurani? yang menceritakan pengunduran diri Sophan Sophiaan dari keanggotaan dan kedudukan di DPR/MPR karena apa yang dialami Sophan dalam perpolitikan di DPR/MPR sudah tidak sesuai dengan suara hatinya.

Sebagai seorang praktisi public relation dengan latar belakang jurnalis di beberapa harian nasional dan pengalaman bekerja sebagai komunikator di PT. Freeport Indonesia , penulis memotret permasalahan dan menceritakannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Meskipun dalam beberapa tulisan ditemui juga pembahasan yang terlalu melebar dan kurang fokus pada permasalahan yang diangkat.

Harapan penulis pada Papua diutarakan dengan menuliskan pendapat Mama Yosepha Alomang, “ … yang saya inginkan dari masyarakat kami di sini adalah seperti masyarakat di Flores sana. Saya lihat mereka hidup tenang, orang tua pergi bekerja di ladang atau sawah, anak-anak pergi sekolah dan pulang ke rumah, kemudian bermain-main dengan teman-temannya. Mereka tidak takut dan tertekan seperti kami di sini. Di sana tidak ada tentara yang kelihatan di jalan-jalan, lengkap dengan senjata seperti di sini. Keadaan seperti itulah yang kami masyarakat inginkan.”

Terlepas dari tulisan-tulisan dalam buku ini yang dimuat di berbagai surat kabar antara tahun 2000 sampai 2006—yang mungkin keadaan di Papua sekarang sudah jauh berbeda, namun menurut saya buku ini dapat membantu pembaca untuk mengetahui bagaimana kondisi Papua dan pandangan orang Papua terhadap Indonesia saat itu.


dari papua

Judul Buku: Dari Papua Meneropong Indonesia

Penulis: Ans Gregory da Ivy

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: 2009

Tebal: xxii + 189 halaman